Salam Redaksi
Para Pembaca POTRET yang terhormat,
Selamat bertemu lagi dengan majalah POTRET. Kami hadir lagi karena anda. Karena ingin menyampaikan pesan-pesan, cerita, kisah, aspirasi dan opini sekitar kehidupan kaum perempuan yang sarat dengan pelajaran penting. Seperti pada edisi-edisi sebelumnya POTRET terus berbenah diri untuk mendekatkan diri dengan para pembaca, POTRET edisi 32 ini juga terus berinnovasi. Sejak edisi 31 POTRET menambah isi POTRET dengan sisipan “ My School” yang disajikan oleh anak-anak sekolah Fajar Hidayah, Sekolah Islam Terpadu, yang ada di Blang Bintang, Aceh Besar. Kehadiran MY School ini, bisa menambah motivasi membaca serta keceriaan bagi anak-anak yang membaca POTRET. Sehingga POTRET semakin cocok dan pas untuk membangun keluarga yang cerdas dan kritis di masa depan.
Para Pembaca POTRET yang Kritis
Sebagai wujud dari sikap kritis yang kita miliki, kita suka bertanya dan mempertanyakan fenomena - fenomen atau realitas diri dan social. Bertanya dan mempertanyakan itu untuk mencari sebuah jawaban yang muncul dari keinginan dan kepedulian terhadap sebuah perubahan yang terjadi. Dengan kita bertanya, kita akan mendapatkan jawabannya. Namun, kala jawaban itu tidak memuaskan, maka kita akan terus menggali dan mengkajinya, lalu berbagi dengan orang-orang yang membutuhkannya. Sikap kritis adalah sikpa positif dalam mencari ilmu, karena bertanya adalah sumber ilmu.
Para Pembaca POTRET yang setia,
Sikap kritis itu diharapkan ada pada setiap orang, karena hanya orang yang kritis selalu punya keberanian untuk melakukan perubahan. Orang yang kritis biasanya juga kreatif dan innovatif. Buktinya, ketika di Aceh yang sedang giat melaksanakan Syariat Islam, ada cerita –cerita dan fenomena social yang mengganggu pelaksanaan Syariat Islam di Aceh. Gangguan itu disebut dengan prostitusi ( pelacuran). Fenomena ini menjadi tanda tanya besar di kalangan perempuan Aceh dan juga masyarakat kita. Apa benar ada praktek prostitusi di Aceh? Kalau memang ada, siapa yang melalukannya? Berapa jumlahnya dan sebagainya. Begitu banyak pertanyaan yang muncul, sementara praktek prostitusi terjadi secara terselubung. Selayaknya fenomena dan realitas ini diungkap.
Pertanyaan-pertanyaan,fenomena dan realitas ini telah menginspirasikan sejumlah perempuan yang kritis. Mereka menuliskannya ke dalam sejumlah tulisan yang menarik, dalam opini, feature, cerpen, bahkan puisi. Mereka menulis sekali gus mempertanyakan, mengapa ketika praktek prostitusi terjadi, mengapa selalu perempuan disalahkan?
Nah, majalah POTRET sebagai sebuah majalah perempuan yang menjadi alternatif menyampaikan aspirasi kaum perempuan, menurunkan sejumlah tulisan perempuan yang mengulas soal prostitusi di Aceh. Silakan simak, apa kata mereka. Silakan dikritisi pula. Dengan cara ini kita bisa mengambil pelajaran atau ikhtibar. Selamat membaca.


Comments for this picture
Comments are not shown to unregistered users. Please register