• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Lupa Membawa Berkah

E-mail Print PDF

Lupa Membawa Berkah

Oleh: Irawati

Berdomisili di Pango Raya

Tak terasa 3 tahun sudah aku memakai baju putih abu-abu ini, dan hari ini adalah hari terakhir aku memakainya. Aku tidak tau harus senang atau sedih. Senang. karena sebentar lagi aku akan melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, Sedih karena harus berpisah dengan teman-teman yang sudah melewati masa SMA bersama-sama. Pesta air mata, mungkin tema yang cocok untuk hari ini, tapi hanya untuk genk kami saja. Ani, Siti, Rahmi, Fandi, Soraya dan aku sudah berteman sejak kelas 1 SMA. Alhamdulillah sampai kelas 3 pun kami masih sekelas. Dengan karakter yang berbeda-beda kami menjadi sebuah genk yang cukup solid, sampai-sampai kawan-kawan lain iri melihat kekompakan kami. Ani yang Cerdas menjadi tempat kami konsultasi tentang pelajaran. Siti yang murah hati selalu rela berbagi dengan kami, baik moril maupun material (maklum aja sich, karena anak orang kaya). Rahmi si bijaksana, menjadi penengah di saat kami bergejolak meributkan yang entah apa persoalan yang kadang tidak penting. Fandi adalah seorang pahlawan buat kami, karena siapa saja yang berani mengganggu salah satu dari kami, siap-siap saja mendapat bogem mentah dari Fandi. Pokoknya, Fandi is our hero!. Soraya si pencinta seni, selalu menjadi penghibur di kala kami suntuk dengan berbagai aktivitas sekolah. Menurut kami Soraya bisa menjadi calon indonesian idol.

Dan aku Risa, si pelupa. Aku pikun sebelum waktunya. Sering teman-teman gondok dengan penyakit lupaku ini. Entah itu aku lupa buat tugas kelompok, lupa ulang tahun mereka. Itu hanya sebagian kecil efek lupa yang mungkin masih ditolerin sama mereka. Yang lebih parah pada saat pembukaan acara hari Kartini di sekolah, karena aku adalah sekretaris OSIS, aku dipercayakan untuk menyampaikan pembukaan acara tersebut. Seminggu sebelum acara aku sudah mati-matian menghafal teksnya, tapi sialnya, penyakit lupaku kambuh pada saat yang tidak aku inginkan. Pada saat menyampaikan penghormatan kepada kepala sekolah aku lupa nama beliau, dan aku juga lupa nama sekolah aku sendiri, arggh. What a shame. Tapi ada hal lain yang memalukan, aku pernah ke sekolah hari Minggu. Layaknya seperti hari-hari lain aku bangun pagi-pagi dan langsung bersiap-siap ke sekolah. Ada yang aneh sich pada hari itu, ibu, ayah, dan kakak aku entah kemana, mereka gak ada di kamar, ”emm..mungkin mereka udah pergi duluan ke kantor” pikirku. Siap sarapan aku langsung menunggu bus angkutan sekolah. Satu hal lagi yang aneh, kenapa busnya gak ada anak sekolahan ya ?, “mungkin karena aku kepagian”. Pada saat sampai di sekolah, ini yang benar-benar aneh! Gak ada seorangpun di sekolah, bahkan lalatpun gak ada. Pintu pagar sekolah masih di gembok! Tak seperti biasanya. Mugkin pak maman pengurus sekolah belum bangun.

1 menit ..

3 menit ...

15 menit...

Huft, karena merasa bosan menunggu pintu gerbang dibuka, aku coba telopon the genk.

“hallo Ani, lagi dimana?”

“lagi di taman ni sa, lagi joging, aku ada liat ibu sama ayah kamu juga disini, kenapa gak ikut olahraga?”

“hah ! olahraga? Emang kamu gak sekolah?”

“Sekolah? Wahahahhahahahhaha. Aduh Risa sayang, miss pikun. Hari ini hari Minggu buk! Kerajinan banget sich hari Minggu sekolah, ckckkckc”.

“Hari Minggu? Argh, pantesan gak da orang di sekolah, he he.. wo yes la ya buk, aku pulang dulu ni, he he he”

“ok, hati- hati ya miss pikun ha ha ha”

Dan semenjak kejadian itu, aku benar-benar pasang alarm khusus untuk hari Minggu.

***

2 bulan sudah kami berpisah, tak satupun dari kami yang satu universitas. Kelima sahabatku kuliah ke pulau jawa, dengan kota yang berbeda-beda. Aku sendiri masih di pulau ini, pulau Sumatra. Aku kuliah di salah satu univeristas negeri di kota, jauh dari kampung halamanku. Orang tuaku tidak mengijinkan aku mengikuti jejak sahabatku untuk kuliah keluar daerah. Walaupun dipisahkan oleh laut, kami tetap menjalin komunikasi denga baik. Si Mr. teknologi memang sangat berperan dalam hubungan sosial manusia. Yang jauh terasa dekat, serasa dunia dalam gengaman, he he. Chatting dengan conference menjadi rutinitas malam Minggu buat genk kami, sekedar say hello satu sama lain dan sharing pengalaman kuliah sampai curhatan dari hiruk pikuk kota kami yang tempati sekarang.

Semua sudah berubah. Perlahan mengikuti umur zaman. Perbedaannya semakin kelihatan ketika sahabat-sahabatku menceritakan bagaimana mereka harus beradaptasi dengan kehidupan mereka yang sekarang, mulai dari style pakaian, pergaluan, sampai mau gak mau harus menjadi budak teknologi. Contohnya memiliki gadget Blackberry, satu item teknologi yang mungkin wajib dimiliki mereka agar tidak dicap kuper. Anehnya, hingga sekarang cuma aku yang belum memilikinya. Bukan karena tidak sanggup untuk membelinya, tapi karena aku sudah dibelikan hape terbaru oleh orang tuaku sebagai kado ulang tahun kemarin. Tapi walaupun pengaruh zaman begitu kental, aku salut sama sahabatku. Mereka masih berpegang teguh akan syariat.

Kehidupan di kota, benar-benar membuat aku harus sering menelan air ludah. Tak jarang kadang aku harus puasa satu minggu hanya untuk membeli pakaian yang lagi nge-trend. Gaya kehidupan kota yang konsumtif benar-benar membuat dompetku terkuras. Aku tidak berani minta penambahan pundi-pundi ATM sama orang tuaku. Karena berdasarkan survei uang jajan mahasiswa perbulan, uang jajan yang dikirim oleh orang tua termasuk di level yang tinggi. Sempat terlintas di pikiranku untuk memiliki si smartponcel BlackBerry, tapi bagaimana caranya ya? Uang jajan aku masih belum cukup untuk membelinya. Mungkin aku harus puasa selama satu bulan. Oh no, bisa mati berdiri. Mungkin jalan lain aku harus berkerja sambilan untuk mendapatkan uang saku lebih. Tapi kerja apa ya yang fleksible agar tidak mengganggu kuliah. Huft.

Masih dalam masa pencarian kerja sambilan, aku rajin searching di internet kerjaan yang cocok untuk mahasiswa sambil berfacebook ria. Lagi asyik-asyiknya searching, tiba-tiba satu id facebook mengajak pertemanan. Female berinisial Mi. Langsung saja aku confirm. Jendela chat dengan id tersebut on.

Mi: Terimakasih sudah confirm

Me: sama-sama

Mi: masih kuliah ya dek ? Dari status Fbnya kayaknya lagi cari kerja sambilan?

Me: iya ni kak, itung-itung buat nambah uang saku. Bisa beli apa aja yang aku mau..

Mi: oo bagus tu, jadi tidak terlalu tergantung sama orang tua. Kakak dari dulu kuliah sampai sekarang sudah tidak minta uang jajan lagi dari orang tua. Sampai sekarang kakak masih kerja sambilan.

Me: Oya? Kakak kerja sambilan apa? Dimana? Bagi tipsnya donk kak.

Mi: Serius ni mau? Tapi enaknya kita ngomongin ini face to face, adek bisa kerja sambilan ditempat kakkak, adek ni tinggal dimana?

Me: Boleh boleh kak, aku ngekost di daerah simpang 4 jalan Suparman.

Mi: Wah kebetulan sekali tu dek, dekat dengan tempat kerja kakak. Datang aja ke tempat kerja kakak Hari Minggu tanggal 15. Tempatnnya jalan. Suparman no.103 lorong merpati, salon cantika.

Me:O, kakak kerjanya disalon ya ..? tapi kerjanya paan kak? Aku gak bisa mangkas rambut kak, apalagi make up.

Mi: Tenang, itu bisa diatur, yang penting datang ja dulu kesini ya, kakak tunggu tanggal 15!

Me: Ok dech kak, makasi banyak ya kak.

Mi offline

Senang, perasaan yang aku rasakan saat itu. Saking senangnya akan mendapat pekerjaan sambilan, aku lupa membuat reminder di hp untuk tanggal 15 tersebut. Biasanya apa saja aktivitas yang aku lakukan semua aku buat reminder sampai hal sekecil apapun, mematikan air keran kamar mandi misalnya. Pernah aku kena semprot sama ibu kost karena semalaman air keran kamar mandi lupa aku matikan. Alhasil air meluap, merembes entah kemana. Maklum saja, aku adalah si pelupa tingkat tinggi.

***

Pagi yang cerah tanggal 26 Januari, hari ini aku ada kelas pagi. Agar tidak telat kuliah aku memillih sarapan diluar. Aku memilih salah satu warung kopi dekat kampusku. Sambil menunggu pesanan aku iseng membaca koran harian lokal yang tergeletak tepat di atas meja dimana aku duduk. Sebaris judul menarik perhatianku dalam sekejab.

Dalang Trafficking Dapat Bayaran Rp 28 Juta

Jual Gadis Belia ke Singapura

BANDA ACEH - Mi (29), perempuan asal Aceh Tamiang yang ditengarai sebagai dalang penjualan dua gadis Banda Aceh ke Singapura beberapa waktu lalu, mengaku memperoleh bayaran (uang jasa) Rp 14 juta dari setiap gadis yang ia “dagangkan” itu. Sehingga, total uang yang diraupnya dari bisnis terlarang itu mencapai Rp 28 juta.

....

Sebagaimana diberitakan terdahulu, Polda Aceh berhasil mengungkap dugaan perdagangan manusia (trafficking) dengan korban dua gadis belia asal Banda Aceh yang melaporkan sempat dijadikan budak seks di Singapura. Polisi sudah menangkap kedua perempuan yang diduga pelaku trafficking itu, masing-masing berinisial Mi (29) dan Ay (19). Keduanya diperkirakan memiliki jaringan mucikari di Singapura.

...

Dari berita tersebut disebutkan bahwa penangkapan Mi terjadi pada tanggal 15 Januari di salah satu salon di jalan Suparman. Ingatanku tiba-tiba mereviev kembali ketika aku dan si Mi seminggu sebelum kami berjanji akan bertemu di salon tempat dia bekerja. Aku segera merogoh hape di dalam tas untuk membuka akun facebook, hanya ingin memastikan apakah Mi yang dimaksud di pemberitaan adalah Mi yang pernah chatting denganku. Lagi-lagi aku merasa bergidik. Foto yang di surat kabar sama persis dengan aku foto si Mi yang di facebooknya.

Ya Allah, Alhamdulillah. Terimakasih Engkau masih melindungiku dengan “kepikunanku”. Seandainya pada hari itu aku tidak lupa membuat reminder, mungkin aku sudah menjadi salah satu korban trafficking yang sudah dikirm entah kemana. Ya Allah, maafkan hamba yang tidak bersyukur dengan apa yang sudah hamba miliki. Ya Allah, ampuni hamba yang selalu ingin menggapai sesuatu yang hamba sendiri tidak punya kuasa untuk memilikinya.

Untuk pertama kalinya aku sangat bersyukur dengan julukan miss pikun, karena kepikunanku aku tertolong dari tindak kriminal trafficing. Sungguh pengalaman yang membuka mataku untuk tidak termakan budaya konsumtif. Budaya konsumtif yang bisa menjerat orang untuk bergaya ala raja, padahal dompetnya tidak menjangkau. Keadaan ini akan memberi peluang para sindikat mucikari untuk bertindak layaknya malaikat penyelamat isi dompet padahal setan yang membawa kita ke dunia hitam.

Setelah selesai menyantap sarapan, aku langsung ke kampus dan masuk kelas. Ternyata kelas sudah dimulai 10 menit yang lalu. Aku telat karena mencari kepastian berita tersebut dari semua media elektrik. Tak satu topik mata kuliah ini nyangkut di kepalaku. Berita tersebut cukup menyita konsentrasiku. Selasai kelas ini, aku berencana menceritakan pengalaman ini kepada the genk. Berbagi pengalaman agar mereka tidak salah langkah dan lebih memfilter setiap kehidupan sosial mereka.

 

 

Top Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

ARTICLE


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday115
mod_vvisit_counterYesterday544
mod_vvisit_counterThis week659
mod_vvisit_counterLast week4685
mod_vvisit_counterThis month13149
mod_vvisit_counterLast month25038
mod_vvisit_counterAll days847567

Layanan Iklan POTRET

 

Polling

Bagaimana menurut anda POTRET Edisi 53?