KADO ISTIMEWA
Oleh Nurhayati Ambarwati (Noi Ambar)
Sebelum aku beranjak pergi meninggalkannya, aku sempatkan melambaikan tanganku dan melempar senyuman yang paling manis untuknya. Ternyata dia yang sudah duduk rapi dibangkunya malah berdiri dan berlari menghampiriku, untuk kemudian memelukku erat sambil berkata, " Nabila cayang bunda, mmmuachh..muuacchh". Bibir mungilnya yang selalu basah itu mendaratkan ciumannya yang bertubi-tubi di pipi, kening dan mataku. Seketika lengket wajahku oleh air liurnya yang menempel di bibir mungilnya. Dialah putriku Nabila yang sudah berumur sepuluh tahun, tapi masih mengalami kesulitan mengontrol air liurnya karena penyakit yang dideritanya. Aku tak kuasa menyimpan rasa haruku yang tiba-tiba membuncah dan menyisakan genangan air di sudut mataku. "Sama dong bunda juga sayang Nabila" ujarku sambil membelai rambutnya. "Tapi sekarang kita berpisah dulu, karena Nabila harus sekolah, belajar bersama bu guru dan teman-teman, oke? Nanti bunda jemput, rajin belajar ya. Jangan nakal di kelas" kataku seraya melepaskan lembut pelukannya untuk kemudian beranjak pergi meninggalkannya. Dia pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, kemudian kembali duduk di bangkunya yang mungil.
Dari balik jendela kelas, aku masih memandangi Nabila putri kecilku. Tubuhnya terlihat paling kurus dibandingkan teman-temannya. Walaupun terlihat ringkih, tapi sikapnya yang selalu ceria, senang tertawa ,ekspresif membuat dia terlihat selalu bersemangat dan lebih kelihatan kuat dari kondisi fisiknya. Logat bicaranya yang masih cadel dan sikapnya yang masih manja, menyebabkan dia terlihat lebih "childish" dari umur sebenarnya. Sebenarnya usianya sudah hampir sebelas tahun, tapi secara kasat mata dia masih seperti anak-anak yang berumur 4-5 tahun. Belum lagi kesulitan belajar yang dihadapinya seperti disleksia (gangguan membaca), disgrafia(gangguan menulis) dan diskalkulia (gangguan berhitung) membuat kemampuannya benar-benar seperti anak balita. Karena itu selain bersekolah di SLB, untuk meningkatkan kemampuan membaca, menulis dan berhitungnya, aku memasukkannya ke kursus membaca dan jarimatika. Sesuai kemampuannya, dia harus belajar dengan anak-anak usia Taman Kanak-Kanak. Dia memang menderita Cerebal Palsy yaitu penyakit cidera otak yang disebabkan rendahnya aliran darah saat dalam kandungan. Karena memang aku mengalami Kondisi Placenta Preveria saat janinnya ada dalam rahimku. Belum lagi saat Nabila berumur dua bulan dia sempat kejang dan tak sadarkan diri selama dua minggu,karena penyakit Meningitis (Radang Selaput Otak) yang dideritanya. Sehingga kerusakan yang menyerang syaraf otaknya mengakibatkan beberapa gangguan dalam perkembangan motorik halusnya.
Namun Alhamdulillah dengan segala keterbatasannya Nabila tumbuh sebagai gadis kecil yang punya percaya diri yang besar. Dia tidak pernah merasa kecil hati kalau bergaul dengan teman-teman sepermainannya yang normal. Bahkan kalau kami berdua bepergian menggunakan angkutan umum, dia tidak sungkan menyapa siapa saja yang duduk di sebelahnya. Walau aku merasa senang karena dia tumbuh dengan kepribadian yang ceria dan tidak pemalu, tapi terkadang aku juga merasa tak enak hati dengan orang-orang yang disapanya. Yah...setiap orang kan pasti punya permasalahan hidup. Kalau yang disapa sedang enak hati oke..lah, tapi kalau yang disapa sedang punya banyak masalah, ceritanya khan bisa tidak menyenangkan. Seperti sore ini dia minta diantarkan belajar mengaji di TPA yang lokasinya tidak jauh dengan rumah. Tadinya aku berpendapat karena Nabila mempunyai kesulitan dalam melafalkan beberapa konsonan seperti lafal s...dia ucapkan ce...seperti cepatu, cucu. Padahal dalam membaca Al Quran bacaan dan lafalnya harus benar tidak boleh sembarangan karena salah membaca bisa membedakan arti. Jadi selama ini dia hanya kuajarkan bacaan IQRO, doa sehari-hari dan surat-surat Alquran yang pendek di rumah saja, sebisanya tanpa kukoreksi kekurangannya. Tapi keinginannya saat ini sudah tidak dapat dibendung lagi. Dia tetap merengek minta diantarkan ke TPA.
"Cantik benar kamu nak..." kataku sambil memasangkan jilbab ke wajahnya yang mungil. "Anak ciapa dulu dong...khan anak umi" katanya sambil tersenyum riang karena dipuji. Sesampainya di TPA, aku pun langsung menemui guru pembimbingnya dan menceritakan tentang kondisi keadaan Nabila dengan segala keterbatasannya. "Yang penting dia mau belajar bu...dan bisa belajar bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya" kataku. "Baik bu...kami mengerti, semoga Nabila senang belajar disini", jawab bu Gurunya sambil tersenyum.
Sudah 2 minggu dia mengikuti TPA. Nabila nampak senang. Tapi pada minggu ketiga rupanya dia mulai menghadapi kendala dalam belajarnya. "Acalamualaikum..." terdengar suara manja putriku yang baru pulang dari TPA. "Wa a'laikum salam" jawabku."Eh Nabila sudah pulang. Gimana belajarnya, bisa ndak"?, tanyaku padanya. Tapi raut wajahnya tak seperti biasanya . Dia kelihatan muram dan tak ceria. "Umi cucah ya...belajar baca kul'an", katanya dengan muka sedih. "hal ini aku ndak lanjut, ulang...kata bu gulu bacaku macih calah, Nabila malu ama teman-teman. Nabila ceying ditawa'in kalo lagi baca". "Namanya juga belajar...Nabila ga boleh putus asa. Belajar apapun memang tidak mudah. Umi dulu juga nggak bisa masak, kalo masak pasti gosong. Tapi karena Umi gak pernah menyerah..sekarang umi sudah mulai bisa memasak. Nabila senang khan masakan umi, brownies coklat umi, enak ndak?', kataku sambil membelai kepalanya. "Ya sudah nanti malam belajar membaca IQRO sama umi ya agar besok tidak mengulang. Sekarang kita makan bolu kukus sama puding ya. Tuh udah umi buatkan buat Nabila". Secara spontan dia pun tersenyum serta melompat-lompat senang, sepertinya dia sudah melupakan kekesalan hatinya karena harus mengulang bacaan dalam IQROnya.
Tapi memang sulit mengajarkan Nabila cara melafalkan huruf dalam Al Quran dengan benar.Seperti lafal huruf tsa, sin dan syin dibaca sama ta... Belum lagi huruf ro, kho, dza, za, shot dzo, dan lain-lain. Aku juga sudah hampir putus asa mengajarkannya. Sudah dua minggu ini Nabila malas pergi ke TPA. Alasannya karena dia sedih, karena dia harus mengulang-ulang bacaannya yang masih jauh dari sempurna. Akhirnya sore ini kuputuskan untuk menemui guru pembimbingnya. Aku ceritakan masalah yang saat ini dihadapi Nabila. Ibu gurunya mengatakan, " Kami tahu keterbatasan Nabila, tapi memang bacaan dalam AlQuran harus benar dan tidak boleh salah" . "Saya mengerti Bu, tapi saya yakin Allah SWT Maha Tahu dan Maha Pengampun. Nabila khan memang dalam kondisi yang tidak sempurna bu. Semangatnya untuk belajar tinggi, tapi memang dia punya banyak keterbatasan" . Akhirnya setelah hampir satu jam aku berdiskusi dengan Bu gurunya, Beliau bisa menerima semua penjelasan yang kuberikan. tapi dengan catatan, aku harus tetap mengajarkan cara melafalkan tiap-tiap huruf dengan berbeda-beda (tidak dengan bunyi yang sama) walaupun memang bacaan yang dilafalkan pun masih jauh dari benar. Hal ini pun dimaksudkan aga Nabila punya kemauan untuk memperbaiki kekurangannya, jangan malah menjadikan kekurangannya sebagai alasan. Aku pun memahami maksud baik Bu Guru, dan bertekad untuk membantu Nabila semampuku.
Hampir setelah setiap sholat Magrib dan Subuh, aku membimbingnya untuk mencapai lafal bacaan IQROnya agar lebih baik dari sebelumnya. Alhamdulillah...setelah beberapa lama kami berusaha keras akhirnya pelan-pelan Nabila sudah bisa melafalkan huruf s walaupun belum sempurna. Sambil memajukan posisi kedua bibirnya ke depan dan meniup secara perlahan keluarlah suara "sss....sss ssi...sssa....sssu" dari bibirnya yang mungil. Walau huruf ro dia belum bisa melafalkannya sama sekali, tapi aku sudah cukup senang dengan kemajuan yang dicapainya saat ini. Agar Huruf tsa bisa terdengar berbeda dengan sa maka kuajarkan dia untuk melafalkan cha..(ringan) sehingga selintas hampir berbunyi sama dengan tsa. Dia juga mulai bisa melafalkan huruf ha, ghoin, mim dan nun dengan benar. Dan kuberi dia motivasi agar dia mau berangkat TPA lagi, dan tidak usah merasa sedih kalau memang harus mengulang pelajarannya.
Aku masih sibuk merapikan meja makan ketika tiba-tiba aku dikejutkan dengan pandanganku yang tiba-tiba gelap karena mataku ditutup oleh sepasang tangan mungil dan lembut yang memelukku dari belakang. "Umi...Nabila ada kejutan buat Umi. Umi mau hadiah ga ?" tanyanya sambil senyum-senyum penuh rahasia. "Mau dong..memang Nabila mau kasih hadiah buat Umi? Mana hadiahnya" tanyaku terheran-heran melihat tingkahnya yang agak aneh sore ini. "Hadiah buat umi...sore ini Nabila lanjut..ga mengulang" katanya sambil tertawa riang. "Alhamdulillah, umi juga ikut senang, berarti belajar Nabila selama ini tidak sia-sia ya.." kataku sambil menciumi wajahnya dengan haru. " Ya..Nabila ingat telus kata-kata umi. Jangan menyerah...jangan menyerah.." ucapnya sambil menyanyikan sepotong syair dari lagu band D"Masiv. "Ha...ha..ha...Nabila bisa aja", ujarku sambil menyeka sebulir airmata yang tiba-tiba saja sudah jatuh dari ujung mataku. Ah...tidak ada hadiah yang lebih indah, tidak ada kado yang paling istimewa nak..selain melihat senyum dan semangatmu yang selalu menyala di hati Peri Kecilku. Semoga Allah SWt selalu melindungi dan meridhai langkahmu kedepan, amin.....




















