• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

LINDUNGI ANAKKU...TUHAN

E-mail Print PDF

LINDUNGI ANAKKU...TUHAN

Sri Rahayu, SP

Tujuh tahun sudah usia anakku yang pertama. Rasanya baru kemarin aku melahirkannya. Masih terbayang dalam ingatanku detik-detik memasuki ruang operasi. Peluh menetes di tengah ruang VK yang ber AC. Yah...peluh itu tanda betapa nervous dan takutnya aku menghadapi rencana operasi cesar kelahiran anakku yang pertama Rayhan Ananda Pratama.

Rileks aja ya bu, agar urat-urat nadinya tidak kaku!” begitu bidan menjelaskan padaku.

Setelah semua alat terpasang di tubuhku. Bidan itu membawaku ke ruang operasi. Di sana telah menunggu asisten yang bertugas anestesi dan dua orang perawat. Saat itu adalah saat pertama aku menginap di rumah sakit seumur hidupku. Aku belum tahu siapa saja yang dibutuhkan dan harus ada pada saat operasi cesar dilangsungkan. Satu kesalahan yang telah kulakukan adalah aku kurang mencari informasi yang berakibat aku hampir kehilangan nyawaku saat itu.

Ceritanya berawal saat dokter meminta asistennya untuk menyuntikkan anestesi ke tubuhku. Saat itu juga tubuhku langsung bereaksi, nafasku mulai sesak, hilang kesadaran dan akhirnya jantungku berhenti. Dalam ketidaksadaranku aku masih bisa mendengar denting pisau bedah dan percakapan yang terdengar panik. Aku mendapati diriku berada di lorong yang panjang dan gelap.

Kucoba tuk berteriak, namun tak ada seorangpun yang mendengar teriakkanku. Tiba-tiba aku merasa takut. Takut akan datangnya kematian. Aku merasa belum siap menjemputnya.

“ Yaa Allah lindungi aku, selamatkan anakku...,” pintaku sepenuh hati.

Aku mencoba berlari tuk mencari siapa saja tuk bertanya,” dimana aku?”. Namun tak satupun orang kutemui. Lorong itu terasa semakin dingin,” inikah alam kubur? Dimana malaikat kubur?” tanyaku dalam hati.

Tiba-tiba sebuah pukulan keras seolah menghantam kepalaku. Seketika aku tersadar di ruangan yang putih dan bersinar. Dipenuhi pilar-pilar tinggi berukir indah. Begitu luas...tetapi sepi. Semua seolah mengingatkan bagaimana gambaran hidupku. Diantara suka dan duka...aku selalu sendiri, jauh dari kasih sayang orang tua. Aku merasakan kekosongan dalam jiwaku. Saat itulah aku berdoa. Berharap Tuhan mau menyelamatkan anakku, dan memasrahkan jiwaku pada Sang Pemilik.

Sekali lagi kurasakan seperti ada palu godam menghantamku. Aku pun tersadar. Tersadar di alam yang sebenarnya. Seorang perawat berusaha menyadarkanku dengan menepuk-nepuk pipiku. Sementara tubuh lemahku masih terbaring di ranjang operasi. Tetapi aku tidak dapat melihat anakku dan aku pun kembali tak sadarkan diri. Satu jam berlalu,... aku mulai membuka mataku meski remang-remang. Dua orang perawat membawaku keluar dari ruang operasi. Samar kulihat wajah-wajah cemas suami dan teman-temanku dan... ibuku. Yah.. ibuku akhirnya datang juga. Terharu hatiku melihatnya hingga akhirnya aku kembali tak sadarkan diri.

Siang itu aku baru mengetahui bahwa anakku selamat. Tuhan telah mengabulkan doa ku.

“ Terima kasih Tuhan...telah kau lindungi anakku” ucapku lirih.

Semua kejadian ini terjadi dikarenakan terjadi kesalahan prosedur, dalam sebuah operasi cesar harus ada dokter anak yang mendampingi, bidan, dokter kandungan dan dokter anestesi. Sementara klinik tempatku melahirkan tidak, sehingga diduga dosis anestesi yang diberikan kepadaku tidak sesuai dan mengakibatkan kondisi yang disebut shock (kesulitan bernafas yang akhirnya mengakibatkan jantung berhenti).

Enam hari setelah kelahiran anakku yang pertama, Tuhan memberiku sebuah ujian. Tubuh anakku kuning layaknya kunyit. Dokter memerintahkanku untuk opname. Selama sembilan hari aku menjaga anakku di rumah sakit seorang diri. Kondisinya tak jua membaik, dokter mengatakan semua diakibatkan fungsi hatinya belum terbentuk sempurna. Air susuku kuberikan padanya melalui selang. Sampai akhirnya dokter yang merawatnya menyerah pasrah. Ini kali kedua aku hampir kehilangan anakku. Aku berjanji akan selalu menjaga anakku sampai detik terakhir. Aku pun memutuskan untuk membawa pulang anakku. Kupikir kalau memang dokter tak sanggup lagi, aku ingin merawatnya di rumah sampai detik terakhir. Aku berharap ada keajaiban yang terjadi. Setiap hari tak henti aku berdoa untuk kesembuhan anakku.

Saat usia anakku menginjak delapan bulan kudapati keanehan pada putraku Rayhan. Waktu itu aku sedang memasak, kudengar Rayhan kecil menangis. Kubiarkan sebentar, kata orang biarkan sesekali anak kecil itu menangis untuk menyehatkan jantungnya. Namun, tiba-tiba saja tangisan itu terhenti. Akupun beranjak menghampiri Rayhanku. Betapa kagetnya aku...

Kudapati Rayhanku terbujur dingin tak sadarkan diri dengan sekujur tubuh membiru. Aku panik...berteriak-teriak meminta tolong tak tahu harus berbuat apa. Untunglah tetanggaku segera datang dan memberikan pertolongan pertama. Dibukanya kancing baju anakku, kemudian sekujur tubuhnya diolesi dengan minyak kayu putih, begitu juga dengan hidungnya. Seketika pecahlah tangis Rayhanku. Tubuhnya mulai memerah dan hangat. Alhamdulilah....lega rasanya hatiku. Terima kasih Tuhan... ini kali ketiga kau lindungi anakku.

Sejak itu, kejadian itu terus berulang. Setiap menangis tubuh anakku akan membiru dan tak sadarkan diri bila tak tertangani cepat. Dokter menduga ada kelainan pada jantungnya.

“ Betapa banyak cobaanmu sayang, semoga Tuhan selalu melindungimu” begitu pinta dan doaku. Aku begitu takut kehilangannya

Tahun demi tahun kulewati dengan berbagai cobaan. Rayhan kecil mulai beranjak besar. Kurang satu bulan dari ulang tahun Rayhan yang ketiga, aku melahirkan Ananda Kaisar Putra Pratama anakku yang kedua. Cobaan yang sama kembali datang. Ananda harus dirawat karena kuning. Selama sepuluh hari Ananda di rawat di rumah sakit, sampai akhirnya bisa dibawa pulang. Kupikir setelah ini anak-anakku akan tumbuh sehat dan cerdas. Tetapi nasib berkata lain.

Kejadian demi kejadian terus berulang. Hampir setiap bulan Ananda Kaisar menjalani rawat inap dengan keluhan yang bermacam-macam. Bahkan pernah satu kali aku harus merelakannya di rawat di ICU. Saat itu Ananda berumur satu bulan. Betapa hancur dan sedih hatiku sebagai ibu. Aku tidak diizinkan untuk menunggunya.

Kondisi ini membawa dampak pada Rayhan sang kakak. Dia merasa kurang diperhatikan, sehingga tumbuh di hatinya rasa cemburu yang besar. Fatalnya dia tidak menginginkan kehadiran adiknya. Dia merasa dinomor duakan. Perasaannya menjadi sensitif dan gampang marah. Sering emosinya meledak-ledak yang membuatku khawatir dan terkadang emosi.

Kini keduanya telah beranjak besar. Dua orang anak laki-laki di dalam rumah tanpa sosok ayah yang bisa mendampingi setiap waktu. Bisa ditebak bagaimana ramainya rumahku setiap hari dengan gurau canda khas anak laki-laki yang selalu berujung pada pergulatan. Akhirnya aku pun turun tangan sebagai penengah memberikan masing-masing hadiah cubitan. Kalau sudah begitu, biasanya mereka akan berhenti sejenak untuk kemudian dilanjutkan lagi. Oh...semoga saja Tuhan selalu melindunginya.

 

 

Top Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

ARTICLE


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Layanan Iklan POTRET

 

Polling

Bagaimana menurut anda POTRET Edisi 53?