• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Petualangan Singkat di Negeri Al-Maghrib

E-mail Print PDF

Petualangan Singkat di Negeri Al-Maghrib

Oleh : Keluarga Pelancong

Bertahun-tahun membatasi kunjungan wisata di dalam Eropa, alhamdulillah kami dapatkan tiket berharga miring ke negeri Al-Maghrib, Maroko. Sejak lama, seorang teman mengompori agar kami melancong ke negeri indah di utara Afrika ini. Apalagi ke sana tak perlu visa bagi warga negara Indonesia, imbuhnya.

Kunjungan pertama ke benua hitam ini kami lakukan singkat saja. Ada liburan karnaval 5 hari di pertengahan Februari. Di kota Fes kami mendarat. Sebelumnya sudah kami atur rencana perjalanan. Setidaknya tiga kota ingin kami kunjungi. Fes, Meknes, dan Moulay Idriss Zerhoun. Ketiganya berdekatan. Volubilis, reruntuhan bekas sebuah kota di jaman Romawi Kuno tak jauh letaknya dari Moulay Idriss Zerhoun, kami selipkan dalam satu hari perjalanan.

Mantan teman kerja saya yang orang Jerman pernah menceritakan kesannya tentang Maroko. Dia tak mau kembali lagi ke sana. Tak tega, katanya. Banyak orang miskin, pengangguran di mana-mana. Para lelaki hanya duduk-duduk atau hilir mudik tak berkesibukan. Berasal dari negara yang tak terbilang berada, saya hanya mengangguk. Dalam hati masih penasaran, ingin membandingkan dengan tanah air sendiri. Dari Wikipedia, saya lihat mereka berpenghasilan per kapita lebih dari 3 ribu dolar. Indonesia tak sampai dua ribu.

Berdasar pengamatan singkat kemarin, Maroko tak semiskin bayangan saya. Memang terlihat banyak penjual asongan, beberapa masih anak-anak. Pengemis banyak kami temui di dekat masjid atau di dalam kota tua, dan banyak sekali lelaki nongkrong di kedai-kedai minuman, terutama di siang hari. Mirip-mirip di tanah air. Namun tak terlihat satupun wilayah kumuh.

Asyiknya, dibandingkan Eropa, biaya hidup disini relatif jauh lebih miring. Apa-apa murah. Naik taksi di dalam kota murah. Harga makanan sangat terjangkau. Kami dapatkan hotel bertarif sekitar 25 euro per malam berempat. Tanpa perlu booking sebelumnya. Hotel-hotel yang harus di-booking sebelumnya malah bertarif standar Eropa, alias jauh lebih mahal.

Satu lagi kemudahan dari Allah, di sini kami bertemu dengan dua mahasiswa universitas kota Fes asal Indonesia. Mereka hampir selalu menemani kami, menunjukkan isi kota tua Fes, bercerita tentang kondisi Maroko sekarang dan masa lampau, menjadi penerjemah saat berbelanja dan masih banyak lagi. Kami yang hanya tahu bahasa Arab satu dua kata sangat terbantu oleh kehadiran mereka.

Perjalanan singkat di negeri ini, membawa banyak sekali hikmah dan pelajaran bagi kami sekeluarga. Terutama tentang sejarah. Bagaimana bangsa Maroko di jaman Romawi Kuno, bagaimana Islam masuk ke Maroko, bagaimana penyebarannya, penjajahan Perancis dan Spanyol, dan lain-lain. Beberapa jenis makanan khas mereka pun kami cicipi. Tak perlu susah mencari dan memilih-milih makanan halal seperti di Eropa. Masjid berdiri di mana-mana. Terbiasa disuguhi pemandangan gereja, masjid-masjid Maroko terasa menyejukkan. Suara adzan berkumandang setiap waktu shalat tiba. Ah, indahnya dunia.

Fes adalah kota tertua dari empat kota sultan di Maroko. Kota kesultanan adalah kota-kota yang pernah ditempati penguasa negeri ini. Yakni : Fes, Meknes, Marakech dan Rabat. Setelah merdeka dari Perancis, di tahun 1957 Maroko berbentuk kerajaan. Kotanya terbagi menjadi dua kota tua, Fes el Bali dan Fes el Jadid, serta kota baru, Ville Nouvelle, dibangun ketika Perancis berkuasa.

Di kota tua ini, kami sempat mengunjungi sebagian besar atraksi turis. Berjalan kaki dari Ville Nouvelle, dimana hotel kami berlokasi, menyaksikan kegiatan penduduk setempat sejak pagi hari, menikmati keelokan istana raja, Dar el Makhzen. Istana ini kata adik mahasiswa ditempati oleh mertua raja. Putri Lalla Salma, istri Raja Mohammed VI yang sekarang berkuasa, berasal dari kota ini. Seorang penjaga istana mengomeli suami saya, mengira beliau memotret dirinya ketika sedang asyik memotret gedung megah istana.

Rue de Mellah, jalanan tepat di sebelah istana, adalah pertokoan aneka rupa. Dari makanan, alat-alat dapur, bumbu-bumbu, perhiasan dan alat-alat elektronik. Sesekali pengemis tua atau para perempuan duduk-duduk menengadahkan tangan di sela-sela toko. Bila berjalan lebih jauh ke dalam Fes el Jadid, maka pasar akan semakin terlihat ramai. Baju-baju gamis khas Maroko warna-warni menawan hati, sandal-sandal cantik. Sesekali para pedagang berteriak menarik perhatian agar pelanggan mampir ke gerainya.

Diantara dua bagian kota tua, adalah sebuah taman. Terbuka untuk umum, tapi banyak anjing liar berkeliaran. Kami melongok sejenak, khawatir anak-anak diganggu anjing. Fes el Bali, bagian tertua kota dibangun sejak kira-kira tahun 789 masehi oleh Moulay Idriss I, diteruskan puteranya, Moulay Idriss II. Bagian tertua ini sangat luas dan padat isinya, disebut juga Medina, dikelilingi oleh tembok tebal dan punya gerbang-gerbang besar. Terindah adalah Bab Boujeloud. Gang-gangnya sebagian besar sempit, mengular, membingungkan buat mereka yang baru pertama masuk kemari. Setiap orang tanpa pemandu pasti pernah kesasar di sini, tutur seorang adik mahasiswa. Pertama kali kemari, kami memang salah masuk ke sebuah madrasah. Seorang lelaki mendekati, menawarkan jasa pemandu untuk keliling Medina. Kami tolak, sebab kami sudah punya bekal sebuah peta di satu buku panduan wisata Maroko.

Tujuan utama kami adalah makam Moulay Idriss II dan salah satu madrasah, masjid, dan universitas tertua di dunia yang masih berfungsi, Al-Qarawiyin. Didirikan oleh anak saudagar kaya Fatimah Al-Fihri tahun 859 masehi. Ibnu Khaldun, Ibnu Arabi, Al-Idrissi menimba ilmu di tempat ini.

Pemandangan semakin bervariasi. Pengemis tua semakin sering kami temui. Tempat-tempat makan khas Maroko, pedagang-pedagang asongan, orang-orang menawarkan hotel murah, anak-anak menyapa kami dalam bahasa China, aneka kerajinan kulit, mainan, kurma, buku-buku, turis-turis kulit purih berpakaian minim, tak bisa saya sebutkan satu per satu saking banyaknya. Kesimpulannya cuma satu : mengesankan.

Di satu hari, kami habiskan waktu seharian menjelajahi tiga tempat. Reruntuhan kota Romawi kuno Volubilis, Moulay Idriss Zerhoun, dan Meknes. Singkat-singkat saja. Menyewa satu taksi, Mercedes tahun tujuh puluhan, kami merasa kaya. Di Eropa, tak mungkin kami menyewa taksi dan sopir sekaligus untuk 60 euro. Pengalaman ini kami nikmati sebaik-baiknya.

Sepanjang perjalanan ke luar Fes didominasi oleh perkebunan zaitun. Wilayah ini terkenal subur. Jalanannya mulus, kendaraan tak terlalu padat, apalagi dari Meknes ke Volubilis. Lengang. Volubilis adalah kampung kecil. Reruntuhan kota tua tak sampai satu kilometer dari kampung. Tak banyak kendaraan parkir di pelataran kompleks reruntuhan. Satu bus berisi turis berwajah Asia baru saja meninggalkan kompleks.

Hari makin panas. Jaket tebal kami membuat diri makin tersiksa. Volubilis lebih luas dari perkiraan saya. Tarif masuknya sepuluh dirham, sekitar satu euro (kira-kira Rp. 12.000,00). Murah. Kompleks candi kecil di Malta saja menarik ongkos 6 euro per orang dewasa. Di dalam banyak turis ternyata. Seorang penjaga memperingatkan ketika saya mencoba memanjat satu tembok batu. Berbahaya dan bisa menyebabkan kerusakan. Volubilis diperkirakan dibangun menjelang atau awal-awal tahun masehi. Dengan sepuluh hingga dua puluh ribu penduduk di masa jayanya. Mulai mundur di abad ketiga.

Moulay Idriss Zerhoun hanya sekitar 3 km dari Volubilis. Disinilah Moulay Idriss I dimakamkan. Di mausoleum, berfungsi juga sebagai mesjid. Makam ini tempat ziarah terkenal. tentu saja, mengingat Moulay Idriss I adalah salah satu ulama penyebar Islam di bumi Al-Maghrib. Beberapa orang mengelus-elus kain penutup makam sambil berdoa.

Di Meknes, bisa dibilang kami berkunjung sekedarnya. Kota ini tampak jauh lebih modern dibanding Fes. Medinanya juga luas. Menurut adik mahasiswa, atraksi wisatanya juga lebih banyak di Fes. Kami ziarah sejenak di makam Moulay Ismail, berfoto di dekat danau buatan bangsa Romawi di masa silam.

Empat hari terasa cepat berlalu. Masih banyak sekali tempat-tempat menarik negara ingin kami saksikan. Rabat, Casablanca, Gurun Sahara, Marakech adalah diantaranya. Namun untuk saat ini, petualangan singkat mesti kami cukupkan sampai di sini.

 

 

 

Top Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

ARTICLE


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Layanan Iklan POTRET

 

Polling

Bagaimana menurut anda POTRET Edisi 53?