• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Menulis, Kaya Manfaat

E-mail Print PDF

Menulis, Kaya Manfaat

Oleh: irawati

Percaya atau tidak, kita semua bisa menulis dan menjadi penulis. Paling kurang, menulis menjadi cita-cita bayangan bagi kita. Artinya kita masih bisamelakukannya, walaupun kita sudah memiliki cita-cita yang lain yang utama dan real. Namun, tak dipungkiri banyak di antara kita menaruh harapan masa depannya dengan jalan menulis. Menjadi penulis tidak memerlukan persyaratan layaknya melamar PNS atau perkerjaan lain, yang diharuskan memiliki ijazah, SKCK, dan memiliki IPK yang cukup. Syarat menjadi seorang penulis hanya perlu mengenal aksara. Dengan mengenal aksara kita bisa membaca seluruh isi dunia. Banyak membaca, banyak tahu dan tentunya akan memudahkan kita merangkai kata, kalimat menjadi sebuah tulisan yang menarik untuk dibaca.

Selain syarat tersebut, syarat sequence lainnya adalah memulai menulis dari sekarang. Tidak menunggu-nunggu atau menunda-nunda. Malas atau tidak punya waktu, bukan alasan untuk tidak menulis. Karena, tanpa kita sadari, banyak waktu terbuang percuma tanpa kita isi dengan hal-hal yang berguna. Contohnya saja, para ibu rumah tangga yang notebene sebagian besar adalah penyuka sinetron. Rasanya seperti kehilangan jalan jika tidak menonton sinetron satu malam saja. Padahal alur cerita dari sinetron itu sendiri tidak terlalu mendidik, apalagi untuk ditonton oleh anak-anak. Jika ada kemauan dan rasa ingin berkembang, aktivitas menonton sinetron ini bisa diganti dengan menulis. Menulis segala sesuatu yang bisa ditulis, tak peduli itu bagus atau tidak. Karena yang terpenting dari menjadi penulis adalah terus menulis, menulis dan menulis. Bagus tidaknya tulisan menjadi persoalan yang kesekian. Jika kita terus menulis secara lahiriah otak kita akan terus bekerja dan terus berinovasi, sehingga tulisan kita semakin hari pasti akan semakin menarikisinya.

Dengan hadirnya teknologi yang semakin mutakhir sekarang ini, bisa kita jadikan sarana kita untuk menulis. Menulis itu mudah. Semua kita memiliki kemampuan yang cukup baik untuk menulis. Hal itu bisa kita lihat dari hal yang terkecil, misalnya dari layanan SMS yang ada di handphone kita, jejaring social, email. Nah, tanpa kita sadari ternyata kita sudah menghasilkan sebuah tulisan, namun dalam skala kecil. Lihat saja berapa ribuan status yang terupdate setiap harinya di jejaring social (facebook, twitter, linkedin dan lain-lain). Entah itu unek-unek mereka, curhatan cinta, ataupun tentang provokasi terhadap para pemilik negeri ini. Lihatlah, semua dari kita bisa menulis.

Jadi ketika diajak menulis, jangan pernah berkata “ah saya nggak bisa nulis, atau ah saya nggak punya bakat untuk menulis”. Kemampuan menulis bukanlah bakat yang ada sejak kita lahir. Tanpa bakat pun bisa dilakukan, asal mau melatihnya secara sungguh-sungguh. Bakat atau talenta ini bisa kita bangun dengan cara mengasah otak kita untuk bermain dengan kata-kata yang bisa kita tuangkan kedalam tulisan. Menulis apapun yang ada dalam pikiran kita, apa yang kita lihat, kita dengar dan apa yang ingin kita katakan. Namun rasanya lidah kita tidak bersahabat. Jangan segan-segan untuk mengambil pulpen dan secarik kertas untuk mengungkapkannya dengan kata-kata sendiri. Kita juga akan mendapatkan pahala jika tulisan kita berisi ajakan dalam kebaikan. Disamping itu, kekayaan kita juga akan bertambah jika tulisan kita dimuat oleh media. MajalahPOTRET contohnya, satu-satunya majalah yang sangat menghargai tulisan ibu-ibu rumah tangga, tanpa ada penyeleksian yang khusus jika itu berbentuk tulisan pasti akan dimuat oleh redaksi.

Miris, virus malas menulis juga menyerang para penyantap bangku pendidikan. Kegiatan menulis biasanya hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu seperti tugas kuliah, membuat makalah, paper dan tugas akhir. Padahal dilihat dari quota ilmu yang dimiliki para penyantap bangku pendidikan ini, bisa menulis berbagai aspek ilmu dan kehidupan.Walaupun itu hanya sekedar telaah dasar dari sumbernya. Malas, jika terus dipupuk akan menjadi boomerang untuk kehidupan kita sendiri. Malas akan menjalar ke semua aspek. Begitu juga dengan rasa malas dalam menulis. Para penyantap bangku pendidikan kini lebih dikenal dengan generasi copy paste yang terus menjamur dan berkembang menjadi generasi yang serba instant dan malas bekerja keras, namun tentu saja tidak semua pelajar begitu.

Memerangi rasa malas dan terus membiasakan diri dalam menulis akan sangat berguna bagi kita, bagi wawasan kita dan tentu saja bagi dompet kita. Dengan membiasakan diri kita menulis dan terus menulis, yakinlah bahwa tulisan kita akan semakin menarik dan semakin bagus. Kitapun akan semakin lihai dalam menggunakan kata-kata dan rambu-rambu grammar. Seperti layaknya orang yang sudah terbiasa mengendrai sepeda motor. Awalnya kita belajar bagaimana memasukkan gigi, bagaimana cara berbelok. Jika dilakukan latihan dengan terus menerus, sudah pasti kita akan terhafal dengan sendirinya kapan harus memasukkan gigi dan kapan harus mengerem. Semua itu karena feeling kita sudah menyatu dengan sepeda motor, sehingga kita sudah tahu cara mengendrainya dengan tertib dan semakin lancar.

Wujud penulis menjadi sarat nilai yang sangat diperhitungkan, karena setiap kejadian yang dialami oleh penulis akan direkam melalui tulisan. Tulisan tersebut akan dibaca oleh khalayak ramai, sehingga bisa menambah wawasan, pengetahuan bahkan ketrampilan bagi kita. Keberadaan penulis menjadi sosok yang sangat penting, karena mereka adalah sumber informasi dan pustaka ilmu bagi kita, apalagi dalam menulis karya ilmiah. Akan sangat diperlukan referensi para penulis. Senang rasanya jika tulisan kita dijadikan referensi oleh orang lain. selain dapat pahala, secara tidak langsung kita sudah membantu orang lain. selain itu, ternyata manfaat lain dari menulis adalah bisa menghilangkan stress, terapi otak, karena dengan menulis kita mencurahkan semua beban perasaan yang menghimpit hidup sejalan dengan goresan pena yang terus menari-nari diatas kertas. Disamping itu, menulis bisa menjadi second main memory kita. Memori ingatan kita kapasitasnya sangat terbatas. Maka dengan kita menuliskannya, kita bisa menyimpan memori dalam jangka waktu yang lama. Kapan kita memerlukannya kita bisa mendapatkannya kembali. Misalnya menulis event-event penting di diari, menulis setiap pengeluaran, menulis catatan sekolah dan lain sebagainya. Dengan menulis juga bisa melatih kita berfikir secara displin dan intelek. Contohnya pada saat kita membuat karya ilmiah, agar tulisan kita bisa diterima dengan mudah oleh orang lain maka kita memerlukan tulisan yang lebih sistematis dan terstruktur sehingga apa yang ingin kita sampaikan kepada pembaca bisa terealisasi dengan baik. Manfaat yang sangat kompeten dari menulis adalah bisa menambah penghasilan. Sebagian orang sudah pasti memerlukan bacaan, entah itu buku cerita, fiksi, ilmu, semua akan menjadi wadah untuk penulis agar bisa menciptakan sebuah bacaan yang berkualitas sehingga menjadi sumber panghasilan baginya. Nah, begitu banyak manfaat yang kita dapatkan dari menulis, masih enggan untuk menjadi penulis?

 

 

Top Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

ARTICLE


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday105
mod_vvisit_counterYesterday658
mod_vvisit_counterThis week1888
mod_vvisit_counterLast week4685
mod_vvisit_counterThis month14378
mod_vvisit_counterLast month25038
mod_vvisit_counterAll days848796

Layanan Iklan POTRET

 

Polling

Bagaimana menurut anda POTRET Edisi 53?