• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Menyesal, Telat Hobi Membaca

E-mail Print PDF

Menyesal, Telat Hobi Membaca

Oleh: Rosi Meilani

Kontributor POTRET di Inggris

Tahun 2007 saya turut suami mengais rezeki di luar negeri. Pada saat itu saya masih rabun internet. Yang saya jamah sekedar email dan skype. Dua alat itu saya anggap penting. Karena merupakan sarana yang mudah dan super murah ketika saya dan suami masih menjalankan Long Distance selama setahun setengah.

Setibanya di Inggris, kebetulan saya tinggal di kota kecil bernama Malvern, tidak ada orang Indonesiannya. Saya hanya berinteraksi dengan bule saja. Untunglah, saya dikenalkan Friendster oleh si sulung. Jejaring sosial itu pun berhasil menjembatani saya dan teman-teman serta saudara di Indonesia. Karena fasilitas internet gratis, telah dimasukan dalam billing telephone yang perbulannya sekitar £11, ditambah aksesnya yang super kencang, saya jadi senang surfing di dunia maya. Dari sana saya mulai senang membaca. Entah itu koran Indonesia, untuk mengejar ketinggalan berita tanah air. Atau bacaan agama, berharap bisa menguatkan keimanan saya yang sangat banyak godaannya hidup di negara minoritas muslim ini. Ataupun keluar masuk blog orang lain. Sekedar mencari resep makanan Indonesia yang selalu dirindukan.

Dari blog-blog tersebut saya banyak mendapat ilmu. Saya jadi gemar memasak. Sebuah kemampuan yang semula minim saya lakukan. Mengingat, apa sih di Indonesia yang tidak bisa didapat? Pedagang makanan bertebaran di setiap sudut jalan. Tapi di sini, saya harus membuatnya sendiri. Mulai dari cemilan ringan manis-asin, makanan tradisional, makanan pinggir jalan, makanan berat, makanan yang memerlukan keahlian khusus, semuanya saya pelajari dan praktekkan. Onde, martabak, siomay, batagor, cireng, gado-gado, rendang, bahkan baso, tahu dan tempe saya buat sendiri. Sungguh, dengan membaca, terutama diiringi keinginan yang kuat, kerinduan akan makanan Indonesia tidak begitu menggebu. Karena semuanya bisa saya dapatkan di sini. Alhamdullilah.

Untuk mengabadikan hasil olah makanan akhirnya saya pun membuat blog sendiri. Sejak itu, saya mulai rajin mengisi blog. Akhir tahun 2008 saya pun membuat blog lainnya. Tapi karena kesibukan dan lain hal, saya mulai aktif mengupdatenya sekitar tahun 2010. Isinya hanya cerita keseharian, photo-photo perjalanan kami, resep masakan dan lain-lain. Di rumah maya, sesama bloger mempunyai keterikatan bathin. Kami saling berkunjung, saling membaca isi blognya dan saling berkomentar. Dengan begitu, otomatis kebiasaan membaca dan menulis semakin terlatih.

Dari pertemanan dunia maya itu pula lah saya mengenal lomba menulis. Satu-dua saya ikuti. Satu-dua pula saya menangkan. Hadiahnya memang tidak seberapa. Tapi bukan itu yang saya cari. Ketika tulisan yang saya buat dengan kesungguhan hati bisa diapresiasi orang lain, sungguh amat membahagiakan hati saya.

Seterusnya, di saat sebuah jejaring sosial bernama FB mulai membooming, lagi-lagi dimeriahkan oleh lomba menulis ini dan itu. Sekali-dua kali saya ikuti. Sekali-dua kali pula saya bisa lolos di dalamnya. Yang tidak lolos pun sudah tak terhitung lagi. Bagi saya, besar-kecil event menulis itu tidak menjadi masalah. Semakin saya banyak mengikuti lomba menulis, saya semakin banyak membaca dan banyak belajar. Tentunya, semakin membuka wawasan.

Bagi saya, efek dari lomba menulis itu ada dua. Jika lolos, saya semakin bersemangat untuk mengikuti lomba lainnya. Berharap ingin meraih kemenangan lagi. Jika gagal, saya merasa dilecut. Berharap di lomba berikutnya bisa lebih baik dan bisa lolos.

Akhirnya, selama tahun 2011 saya hanya bisa menghasilkan sepuluh buku antologi. Hasil lomba ini dan itu di jejaring sosial tadi. Dan saya amat sangat menyesal. Karena saya merasa telat menyukai membaca dan menulis. Kemana saja saya bertahun-tahun itu? Andai saja saya gemar membaca sedari dini, mungkin saya telah memiliki buku sendiri. Mungkin.

Di tahun 2012, mata saya sudah tidak hijau lagi menyerbu audisi menulis untuk antologi. Tapi, satu-dua yang diselenggarakan oleh teman dekat dan para penulis senior, kadang saya turut serta. Saya pun lebih senang menyusun buku sendiri yang bergendre fiksi dan non fiksi. Walaupun dengan susah payah menyelesaikannya, tapi saya harus legowo ketika lebih dari dua penerbit menolaknya. Saya bersyukur, itu artinya saya harus lebih banyak membaca dan belajar.

Di awal tahun 2012 pun saya mulai menulis untuk dikirimkan ke media cetak. Tentunya dengan persaingan yang amat ketat. Tapi justru itulah yang membuat saya terus belajar dan belajar. Alhamdulillah, satu-dua telah dicetak. Termasuk di majalah POTRET ini edisi 54 dan edisi 55.

Sungguh, saya sangat menyesal. Seandainya sedari muda saya gemar membaca. Mungkin saya telah menikmati sebuah karya yang berarti. Maka dari itu, wanita muda Indonesia, mulailah membaca dan berkarya!

 

 

Top Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

ARTICLE


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday586
mod_vvisit_counterYesterday612
mod_vvisit_counterThis week2437
mod_vvisit_counterLast week4523
mod_vvisit_counterThis month15471
mod_vvisit_counterLast month25038
mod_vvisit_counterAll days849889

Layanan Iklan POTRET

 

Polling

Bagaimana menurut anda POTRET Edisi 53?