Mewujudkan Impian Menulis
Oleh Teungku Bukhari
Pesantren Darussalam, Ule Gle
Nyaris mengalah diriku dalam mengusahakan sebuah upaya untuk sukses dalam menulis. Beragam cara telah aku lakukan. Mulai dari mencoba menulis kembali karya orang lain untuk sebatas melatih kecepatan menulis, sampai kepada mencari sebanyak mungkin informasi untuk pengetahuan bagaimana kiat sukses dalam merajut huruf demi huruf itu. Juga dengan banyak menulis dimana saja, di kertas sobekan, di buku catatan, bahkan di meja makan. Memperhatikan dan “mengeja” tulisan orang lain dengan menganalisis bagaimana mereka menjemput ide dan membahasakannya dalam kalimat per kalimat. Jelasnya sangat banyak yang aku lakukan. Pernah bahkan diriku menghentikan sama sekali aktifitas menulis dan membuang jauh niat dan semangat sekaligus cita-cita untuk menjadi pengarang dan penulis. Itu karena diriku merasa tidak sanggup dan tidak mungkin menjadi seorang yang bergelut dengan dunia aksara itu. Sangat berat sekali! Sangat melelahkan. Hingga merasa mustahil!
Namun semangat tersebut tidak mudah hilang dan kembali muncul di saat aku membaca tulisan yang mengisahkan betapa beratnya usaha dan perjuangan mereka yang telah berhasil menjadi penulis. Mereka menuturkan, pada mulanya mereka juga bertemu dengan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Bahkan mereka pernah mendapatkan kepayahan yang jauh lebih berat. Karena mereka mengaku beranjak dari orang yang sangat tidak berbakat dalam bidang yang mudah saja dilakukan oleh para wartawan itu. Sementara aku pernah merasa-entah cuma sebatas merasa- sedikit berbakat dalam menulis. Akan tetapi karena sebuah keyakinan dan kesungguhan yang sangat, mereka dapat mengubah takdir dan membalikkan keadaan ke arah yang lebih dekat kepada keberhasilan. Lalu akhirnya mereka bisa menulis. Semangat dan cita-cita yang tinggi dapat meluluhkan gunung yang kekar. Ketika Tuhan menutup pintu Dia juga membuka jendela. Tuhan mentakdirkan kudrahnya yang lain, manakala si hamba mengusahakan untuk membalikkan takdir yang telah ada. Dia seperti yang disangkakan hamba-Nya. Akan memberikan apa yang diperjuangkan si hamba dengan sungguh-sungguh. Tuhan Maha Baik. Itu deretan kalimat hikmah penginspirasinya.
Pada saat itulah aku kembali menekuni kegemaran yang sekaligus cita-citaku yang pernah ada dan telah aku buangkan, kembali menulis. Kucoba lagi dengan berulang-ulang. Kukerahkan segenap kemampuan. Kuingat dalam hati semua yang dilakukan mereka yang telah mendapat kesuksesan. Kupantikkan selalu dalam keyakinan bahwa Tuhan akan memberikan apa yang diusahakan hamba-Nya. Kukatakan “jangan berhenti dulu” ketika diri memintanya untuk berhenti. Aku enyahkan rasa kepayahan. Kugambarkan betapa senang dan puasnya jiwa manakala sebuah hal yang memberatkan telah mampu terlewatkan. Kubayangkan keindahan-keindahan yang akan kudapatkan apabila usaha tersebut nanti membuahkan hasil yang memuaskan. Kutulis lagi dan kembali kutulis. Apa saja. Sehingga tanpa terasa, aku telah mampu menyoretkan banyak tulisan di atas kertas. Penuh. Kubaca kembali karya kecil pertama milik diriku itu. Kuteliti di mana ada kejanggalan yang benar-benar janggal. Karena kejanggalan kecil dan sedikit telah hampir di setiap tulisan. Maka tidak kuhiraukan itu. Akhirnya “buku kecil” aku itu sukses kujadikan sebuah karya yang aku rasa telah boleh dicoba untuk diminta penilaian dari banyak orang dengan cara “diperjualkan”.
Di sana nanti akan “dibedah” oleh ahlinya dan kalau “beruntung” dipublikasikan di media massa. Maka kukirim tulisan itu ke media cetak pada redaksi lokal terdekat di tempatku. Kepuasan kali pertama kutemui setelah tulisan itu selesai kukirimkan. Bahagia. Kemudian kutunggu dengan sabar bagaimana reaksinya.
Berhitung bulan kunantikan tulisan aku itu tidak kunjung aku dapatkan pada lembaran halaman surat kabar yang telah kukirimkan. Saban hari aku tidak bosan membaca dan melihatnya pada koran itu. Namun berakhir dengan tidak pernah kudapatkan. Tulisan penuh perjuanganku tidak atau belum layak muat. Bahkan mungkin sudah menjadi pembungkus bawang merah atau cabe rawit di pasar rempah-rempah.
Setelah diriku yakin bahwa tulisan kirimanku belum layak dan tidak dimuat maka kuperbaiki kembali tulisan itu yang tinggal di “file” ku. Kuperhatikan dimana masih ada kejanggalan yang mendekati tingkat kefatalan. Ku perbaiki dia dan ku buat perobahan kecil di banyak sisinya. Kemudian kukirim kembali ke redaksi surat kabar lokal yang lain. Begitulah hal yang sama aku lakukan berulang kali. Hampir semua harian lokal yang ada di tempatku telah kukirim tulisan itu. Tapi tetap belum dimuat. Tulisanku tidak laku. Tidak layak diperjualkan.
Sehingga entah pada kali keberapabelas pengiriman tulisan pertama aku itu, suatu hari mataku berbinar ketika menyaksikan sebuah halaman surat kabar memublikasikan artikelku. Kuperhatikan dengan seksama. Benar, karyaku. Tulisan aku dimuat! Relung-relung jiwaku tersusup kebahagiaan yang tiara tara karena hal itu. Dadaku mengembang demi merasakan kesenangan dan kepuasan yang telah lama aku nantikan. Aku bersyukur. Hatiku bertahmid memuji Tuhan. Alhamdulillah ya Allah…
Setelah itu aku semakin giat dan gemar menulis. Kini kendalanya tidak lagi kurasakan seperti yang kali pertama aku temukan. Bahkan sepertinya aku sekarang telah sedikit mudah dalam menulis. Ide dan inspirasinya mengalir dengan lumayan deras. Untuk menyelesaikan sebuah tulisan tidak lagi membutuhkan waktu yang berhari, bahkan berminggu. Aku sanggup menulis sebuah tulisan dalam hanya beberapa jam dalam semalam. Intinya aku telah agak mudah dalam menulis…
Dari situlah aku bertekad untuk lebih serius dan kreatif dalam menulis dan menjazamkan diri untuk benar-benar menjadi seorang penulis sukses dan produktif. Kujadikan aktifitas menulis sebagai tugas utama di samping membantu sang guru mengajarkan pengajian kitab kuning pada sebuah pesantren tradisional. Kujadikan dua wadah dan medan perjuangan serta lahan ibadah itu sebagai orientasi utama dalam skala prioritas yang harus selalu aku kedepankan. Insyaallahuta’ala.
………………………………………
Teumuleh
Hai aneuk muda yang na di Aceh
Gata beu bereh bak jak sikula
Deungon narkoba gata bek teupeh
Bek keunong ngon eh bek tapiep ganja
Beuna belajar hai aneuk Aceh
Gata beuleubeh bak cita-cita
Beumeuseumangat bek sagai luheh
Gata beugigeh dalam usaha
Oh malam teuka bek laju jak eh
Meureunoe teumuleh beuna meubaca
Buku takarang opini tatuleh
Takirem keudeh bak Majalah Wanita
Kulet han krot ie muka teuh gleh
Meunyo leo teumuleh oh malam jula
Meunan na haba yang jeut tapateh
Khasiat teumuleh mameh ie muka
Mak jih adoe aneuk lon gaseh
Meureunoe teumuleh sambilan meubaca
Tanyoe beumaju bek gadoh ngon eh
Beucarong teumuleh beugalak sastra
Oh noe keuh wasiet yang ulon tuleh
Keu aneuk Aceh yang jak sikula
Akai teuh beujroh iteukeut beugleh
Gata dituleh dalam legenda!


















