• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

DERITA BUTA AKSARA

E-mail Print PDF

DERITA BUTA AKSARA

Oleh Tabrani Yunis

 

Naimah, ( nama samaran), perempuan berumur sekitar 56 tahun itu, duduk diam di tengah 24 peserta saat pelatihan menulis kreatif yang diselenggarakan oleh Center for Community Development and Education(CCDE). Di wajahnya tersirat rasa sungkan dan kelihatan malu-malu untuk mengeluarkan suara. Dia lebih banyak diam, ketika yang lainnya kelihatan aktif. Fasilitator pelatihan pun memberikan perhatian pada Naimah, dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Dengan tersipu-sipu memberikan jawaban singkat saja. Tidak banyak penjelasan yang ia berikan.

 

Kala sesi perkenalan dimulai, peserta diminta untuk menuliskan satu paragraf tentang diri masing-masing. Semua peserta yang hadir saat itu, mulai mencoba menuliskannya. Kecuali Naimah. Ia hanya duduk terdiam dan sekali-kali menoleh kepada rekan-rekan lain yang sedang sibuk menulis. Ketika fasilitator melihat ke arahnya, ia melemparkan senyum dan menunduk. Fasilitator pun bertanya,” apa sudah siap bu?” Ia menggeleng, tanpa berkata apa-apa. Namun, seorang peserta mengatakan bahwa Naimah tidak bisa menulis. Begitu kata salah seorang peserta yang duduk di sampingnya. Fasilitator pun terdiam. Dalam hati berkata, “hmm, ini pelatihan menulis kreatif, tetapi ada peserta yang buta aksara. “ apa yang harus dilakukan? Disuruh pulang tidak mungkin, sementara ikut training menulis juga ia kebingungan. Akhirnya fasilitator haru benar-benar lihai mencari jalan. Bagi fasilitator yang menguasai situasi, biasanya menjadikannya sebagai sumber inspirasi bagi peserta lain untuk ditulis dan sebagainya.

 

Kasus peserta buta aksara yang ikut training seperti ini, bukan hanya terjadi pada diri Naimah. Masih banyak Naimah lain yang buta aksara, tidak bisa membaca, menulis dan berhitung. Juga sangat sulit memahami apa yang disampaikan fasilitator, karena keterbatasan dalam menguasai bahasa Indonesia, atau tidak bisa berbahasa Indonesia. Terbukti hal serupa sering terjadi dalam beberapa training lain seperti training manajemen bisnis, komunikasi, gender dan lain-lain yang tidak terlalu menuntut ketrampilan menulis. Asal bisa faham, ya sudah. Namun, tidak pada training menulis, karena persyaratan yang dibuat peserta adalah bisa menulis dan membaca.

 

Keberadaan mereka yang buta aksara dalam pelatihan yang menuntut kapasitas komunikasi, seperti membaca, menulis dan berhitung, membuat mereka seperti orang asing atau bagai berada di hutan belantara. Karena tidak bisa berpatisipasi secara penuh dalam berbagai sesi. Kalau pun ikut, hanya sekedar ikut-ikutan, tanpa bisa mengisi semua aktivitas. Sungguh kondisi semacam ini membuat mereka menderita, karena bila fasilitator tidak peka, bisa membuat mereka semakin rendah diri dan malu. Sehingga mereka juga kehilangan hak untuk mendapatkan pendidikan alternative yang diberikan. Tidak seperti mereka yang melek aksara. Memprihatinkan bukan?

 

Kiranya, derita buta aksara itu bukan saja dialami oleh Naimah dan beberapa perempuan saja di negeri ini. Ternyata di negeri yang mendeklarasikan kemerdekaannya sejak 17 Agustus 1945 ini, masih sangat banyak jumlah orang buta aksara. Walau definisi buta aksara ada perbedaan, karena selama ini apa yang dimaksud dengan buta aksara adalah ketidakmapuan seseorang membaca, menulis dan berhitung dalam huruf Latin. Padahal, walau mereka tidak bisa huruf latin, tetapi bisa membaca huruf Arab, namun masih disebut buta aksara. Di samping itu, definisi buta aksara itu juga tidak sesempit pada pengertian tidak bisa baca, tulis dan hitung, akan tetapi juga pada pengertian aksara fungsional. Alvin Toffler, penulis dan futuris dari negeri paman Sam mendefinisikan buta aksara itu secara lebih luas. Menurut Alvin Toffler, Orang yang buta huruf (illiterate) di masa depan bukanlah orang yang tidak dapat baca tulis, melainkan orang yang tidak tahu bagaimana caranya untuk belajar hal baru”.

 

Jadi, apa yang dimaksudkan dengan buta aksara, bukanlah sekedar tidak bisa baca, tulis dan hitung, akan tetapi juga kemampuan untuk mempelajari hal-hal yang baru untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

 

Nah, Terlepas dari perbedaan definisi tentang apa yang dimaksudkan dengan buta aksara yang masih berpotensi bermasalah dan data yang saling berbeda, karena metodologi survey dan pengumpulan data yang berbeda, beberapa data yang juga bisa berbeda menyebutkan bahwa jumlah penyandang buta aksara di Indonesia ,masih relative tinggi. Angka buta aksara di Indonesia pada akhir tahun 2010 diperkirakan tersisa 8,3 juta orang (4,79 persen), sedikit lebih baik dibanding 2009 yang mencapai 8,7 juta orang (5,3 persen). Dari jumlah itu sebagian besar penduduk berusia di atas 45 tahun (70-80 persen) dan berjenis kelamin perempuan (64 persen).

 

Di Aceh seperti ditulis Eva Khovivah di www.ccde.or.id, jumlah usia 15 – 44 tahun, yang buta aksara sebanyak 44.833 orang. Dari jumlah itu, perempuan mendominasi, mencapai 28.238 orang. Hasil survey kepala keluarga yang pernah dilakukan oleh KAPAL Perempuan di 3 wilayah relokasi di Aceh Besar, medio Februari-Maret 2008, ditemukan 12,8% anggota keluarga buta aksara latin. Dari jumlah ini, 80,4% memiliki 1 orang anggota keluarga yang buta aksara dan 19,6% memiliki 2-3 orang anggota keluarga buta aksara latin. [Laporan Ringkas Survey Kerumahtanggaan di Tiga Desa Relokasi, September 2008 ].

 

Derita hidup perempuan

 

Melihat realitas dari angka buta aksara di belahan dunia, hamper 800 juta penduduk dunia masih buta aksara, yang sebagian besarnya adalah perempuan dan anak-anak. Realitas itu juag terjadi di tanah air bahwa dari 8.3 juta penduduk buta aksara, 64 persen dialami oleh perempuan yang berusia di atas 45 tahun. Data ini mengisyaratkan bahwa kondisi terburuk dari fakta kebutaaksaraan adalah kaum perempuan. Besarnya angka buta aksara di kalangan perempuan menimbulkan kata Tanya kita, mengapa buta aksara membelenggu perempuan? Ya, mengapa lebih banyak perempuan? Bukankah sesungguhnya hak atas pendidikan adalah hak semua warga Negara? Dengan demikian, pasti ada yang salah dalam memberikan pendidikan kepada anak bangsa ini. Artinya terbentang garis diskriminasi yang mempurukkan perempuan jatuh ke lembah derita, akibat ulah kita.

 

Buta aksara, memang bukan sebuah penyakit, seperti halnya kanker, ginjal atau HIV/AIDS yang mematikan. Namun, buta aksara dapat dijadikan sebagai penyebab tinggginya penyakit social. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa banyaknya perempuan yang buta aksara di negeri ini, akan berdampak buruk bagi perempuan sendiri. Buta aksara identic dengan kebodohan dan ketertinggalan. Karena buta aksara, membuat perempuan tidak bisa membaca dan menulis serta menyikapi perubahan hidup. Buta aksara, membuat mereka tidak mampu membuka jendela dunia untuk menerangi hidup mereka. Akibatnya perempuan-perempuan buta aksara, terupuruk dalam jurang kemiskinan yang absolut dan kemiskinan structural. Karena mereka kehilangan akses dan control terhadap berbagai sumber daya kehidupan. Buta aksara membuat perempuan tidak berdaya dan mereka mudah diperdayakan, dieksploitasi, dan bahkan bisa menjadi objek dari berbagai tindakan kekerasan seperti kekerasan dalam rumah tangga. Kemudian, tinggi angka buta aksara di kalangan perempuan, berkorelasi positif terhadap tingginya angka kemiskinan di Indonesia yang juga didominasi oleh perempuan. Karena ketika mereka terkubur dalam jurang buta aksara, maka konsekwensinya adalah hidup dalam keadaan miskin. Baik kemiskinan intelektual, maupun kemiskinan fianasial dan material. Realitas selama ini menunjukkan bahwa penyandang buta aksara cenderung memiliki tingkat produktivitas yang rendah, karena kondisi buta aksara terkait erat dengan kebodohan, keterbelakangan, dan ketidakberdayaan. Artinya, kebodohan, keterbelakangan, ketidakberdayaan atau kemiskinan merupakan mata rantai yang saling terkait dari dampak buta aksara. Ini adalah penderitaan langsung yang diderta perempuan buta aksara.

 

Nasib perempuan-perempuan buta aksara, ibarat orang yang jatuh dan tertimpa tangga.. Lalu, ketika predikat sebagai salah satu negara penyandang buta aksara terbesar di dunia melekat pada Indonesia. Kondisi ini harus dientaskan guna melepaskan masyarakat dari perangkap kemiskinan. Di satu sisi, keadaan mereka yang buta aksara sudah mendera kehidupan mereka dengan kemiskinan dan ekploitasi serta menjad objek tindak kekerasan dalam rumah tangga, di sisi lain, tingginya angka buta aksara di kalangan perempuan tersebut, menjadi factor buruk bagi suatu kaum dan bangsa. Angka – angka ini dijadikan sebagai indaktor dan parameter untuk mengukur tingkat kesejahteraan suatu bangsa. Juga menjadi penyebab rendahnya posisi bangsa ketika menghitung indeks pembangunan manusia (IPM). Karena tingkat melek aksara merupakan salah satu parameter yang paling mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia (Human Development Index), menentukan tingkat kesejahteraan (product domestic bruto) sekaligus menentukan tingkat umur harapan hidup (life expectancy). Jadi jika penduduk makin melek aksara, berarti makin majulah masyarakat itu dalam peradabannya ke depan. Jadi, bagi suatu Negara, kondisi ini memperburuk wajah suatu bangsa di depan masyarakat dunia oleh sebab itu sekretaris general PBB Ban Ki Moon dalam peaannya saat memperingati hari aksara Internasional mengatakan bahwa “Buta aksara mempertajam lingkaran kemiskinan, penyakit dan perampasan. Buta aksara melemahkan masyarakat dan melemahkan proses demokrasi melalui marginalisasi dan eksklusi. Dampak-dampak tersebut dapat menyatukan dan melemahkan stabilitas masyarakat. Oleh sebab itu setiap Negara diminta komitmen untuk mengentaskan persoalan ini. PBB juga mendesak semua pemerintahan, organisasi internasional, masyarakat madani dan sector swasta untuk menjadi aksara sebagai kebijakan utama, agar setiap individu dapat mengembangkan potensi mereka, serta secara aktif berpartisipasi dalam membentuk masyarakat yang lebih mandiri, adil dan damai.” (yusralingetz).

 

Mengingat risiko buta aksara terjadap perempuan tersebut membawa derita yang berkepanjangan, maka diharapkan kepada pemerintah Indonesia agar lebih serius mememperhatikan nasib kaum perempuan yang buta aksara tersebut dengan terus berupaya memberikan pendidikan alternative atau pendidikan luar sekolah secara berkelanjutan. Tentu saja bukan hanya sekedar melahirkan proyek baru. Di samping itu, pemerintah juga perlu mencegah lahirnya generasi buta aksara yang baru. Pemerintah bisa melibatkan lembaga-lembaga swadaya masyarakat untuk bersama bergandengan tangan melepaskan penyadang buta aksara, terutama perempuan dari derita buta aksara. Bersama kita bisa.

 

 

 

 

Top Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

ARTICLE


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday740
mod_vvisit_counterYesterday684
mod_vvisit_counterThis week3275
mod_vvisit_counterLast week4523
mod_vvisit_counterThis month16309
mod_vvisit_counterLast month25038
mod_vvisit_counterAll days850727

Layanan Iklan POTRET

 

Polling

Bagaimana menurut anda POTRET Edisi 53?