Kaya (tidak) berarti sejahtera
Oleh: Rosi Meilani
Berdomisli di 39 Nunnery lane WR5 1 RQ, Worcester, United Kingdom.
Sejak saya duduk di Sekolah Dasar, ibu-bapak guru kerap kali mengulang pelajaran pada kami. Bahwa katanya, negara kita adalah negara yang kaya, subur makmur, gemah ripah, loh jinawi. Di dalam perut buminya menyimpan kekayaan alam yang melimpah. Minyak bumi, gas alam cair (LNG), barang tambang seperti: timah, emas, bauksit, nikel, batu bara dan sebagainya.
Beberapa fakta yang membuat saya bangga adalah, negara kita merupakan penghasil timah terbesar kedua di dunia dan seperlima gas alam cair (LNG) dunia disuplai dari perut bumi negara kita. Pengkespor kayu lapis terbesar (80%) pasar dunia. Negara maritim terbesar di dunia, dengan perairan seluas 93 ribu km2 dan panjang pantai sekitar 81 ribu km2 atau hampir seperempat panjang pantai di dunia. Terbayangkan betapa banyaknya kekayaan laut yang tersimpan di dalamnya?
Tak hanya itu, tanah kita nan subur ini pun menjanjikan kesejahteraan bagi penduduknya. Sayang, sementara kita belum sadar dan pandai mengelolanya, kesempatan itu kadung dilirik lalu dirampas oleh negara asing. Akibatnya, ratusan tahun kita harus manut pada mereka. Lahan subur milik kita, dikerjakan oleh kita, tapi hasilnya diberikan pada mereka.
Untunglah, kemerdekaan berhasil mengakuisisi sisa kejayaan mereka di bidang perkebunan yang tersebar di nusantara. Baik teh, kopi, karet, coklat, kina dan sebagainya. Yang kemudian hasilnya bisa dieskpor. Bukti suburnya tanah kita, pada tahun 1984 negara kita berhasil mencapai swasembada beras.
Pendek kata, negara kita adalah yang kaya dengan segala sumber daya alamnya. Seperti yang digambarkan Koesplus dalam syair lagunya. “Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai, tiada topan kau temui. Ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Lagu yang tenar di pertengahan era 70’an itu kerap saya nyanyikan bersama teman sepermainan. Sama tenarnya dengan lagu Rhoma Irama, dengan 135 juta penduduk Indonesia-nya.
Apakah dua lagu itu saling berhubungan? Mungkin. Karena logikanya, dengan sumber daya alam yang melimpah dan dengan jumlah penduduk yang sebegitu itu, seharusnya berdampak pada kesejahteraan rakyat. Bukan begitu? Sepertinya begitu. Sebab bagi kami yang hidup di masa itu, kehidupan bernegara di negeri ini rasanya adem ayem saja. Saya tak pernah mendengar ibu berkeluh kesah tentang harga sembako ataupun bapak mengeluhkan harga bensin. Pada masa itu, saya yang anak seorang pegawai negeri golongan kecil merasakan kehidupan yang menyenangkan, aman, damai dan tentram.
Tapi sekarang, kurang dari empat dekade, kedua lagu di atas menjadi basi. Tak akurat lagi. Sekarang, jumlah penduduk Indonesia hampir dua kali lipat dari yang dinyanyikan Bang Haji. Menurut Badan Pusat statistik, tahun 2010 penduduk Indonesia berjumlah 237,6* juta (*perhitungan sementara). Tentunya akan terus berkembang dengan kenaikan 1,49 % pertahun.
Lalu, dengan lagu Koesplus? Apakah tanah kita masih menjadi tanah surga? Sepertinya sudah tak lagi. Walaupun benar, tanahnya masih subur, tapi tidak menjadikan makmur rakyatnya. Disebabkan sekompok orang yang bernama pemberi kebijakan, penguasa, pengusaha, berbumbu politis menjadikan rakyat Indonesia sebagai orang ketiga dari permainan mereka.
Maka, swasembada beras menjadi kenangan. Cukup menjadi dongeng bagi anak cucu kita. Indonesia yang dulu terkenal sebagai lumbung padi Asia. Kini harus mengimpor beras dari Vietnam dan Thailand. Ironis.
Begitu pun dengan garam. Kita yang katanya negara maritim terbesar di dunia harus mengimpor garam. Apa kata dunia? Begitupun dengan nasib kedelai, gula putih, dan banyak lagi. Entah mengapa, pemerintah gemar benar mengimpor produk yang esensial bagi rakyat kita. Ada apakah dibalik semua itu?
Hal yang paling mengemaskan sekaligus membuat rakyat Indonesia membuka mata akan pemaparan Kwik Kian Gie. Hitung-hitungan pemerintah akan premium yang Rp. 6.000/liter (itupun katanya bersubsidi), sangat kontras dengan hitung-hitungan Kwik Kian Gie yang Rp. 630/liternya.
Walaupun negara kita penghasil minyak bumi, tapi pemerintah kerap menaikan harga BBM. Dengan alasan mengikuti pasaran harga minyak mentah dunia. Kenapa juga harus mengikuti harga minyak mentah dunia? Bukankah kita mengambilnya dari perut negeri ini? Lagi-lagi, entah apa dibalik semua itu.
Oh Indonesiaku, hendak dibawa kemanakah arahmu oleh para pemegang kekuasaan negeri ini. Aku inginkan Indonesiaku yang dahulu. Dimana kami masih kanak-kanak. Dimana orang tua kami tak berkeluh kesah akan harga sembako dan BBM. Kini, di masa aku dan teman sepermainan yang telah menjadi orang tua, semuanya telah berubah dalam kehidupan bernegara di negeri ini.
Oh Indonesia, kamu yang kaya seharusnya bisa membuat rakyatmu sejahtera. Dari Sabang sampai Merauke. Dari tingkat Pusat hingga ke pelosok daerah. Bukankah kamu telah mengeruk segala sumber daya alam negeri ini? Pulangkanlah jasamu berupa kesejahteraan kepada kami.
Mungkinkah itu terjadi (lagi)? Mari kita tanyakan. Tentunya bukan pada rumput yang bergoyang. Tapi kepada para pemegang kekuasaan di negara kita yang tercinta ini.




















