• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Melepaskan diri dari Lilitan Hutang

E-mail Print PDF

Melepaskan diri dari Lilitan Hutang

Oleh Benny

Dunia rasanya semakin gila. Di satu sisi, banyak pihak yang rajin berdemo untuk menolak kenaikan harga BBM, namun disisi lain kendaraan bermotor semakin banyak berseliweran di jalan raya. Saya katakan gila, karena rasanya aneh, kalau memang masyarakat tidak mampu membeli premium seharga Rp. 6000,- (nantinya jika jadi naik), kenapa masih banyak masyarakat yang mampu mengganti motornya yang baru berumur 2 tahun dengan motor keluaran terbaru. Jangan-jangan masyarakat kita terlena dengan subsidi atau terlena dengan hutang?

Hutang? Iya saya yakin banyak dari kita yang hingga saat ini masih memiliki hutang dengan pihak ketiga. Entah itu dengan bank, lembaga sosial, lembaga swadaya masyarakat, program pemerintah atau lebih parah lagi dengan rentenir.Pokoknya asala ada yang memberi hutan, sabot saja. Seakan berhutang adalah kesempatan yang harus digunakan. Kacaunya, hutang tersebut tidak digunakan untuk pengambangan asset usaha, seperti pemilikan rumah melalui KPR, pendidikan atau untuk usaha produktif. Namun sebagian besar digunakan untuk kendaraan bermotor, kebutuhan hidup sehari-hari (konsumtif) bahkan untuk biaya liburan. Memang sih, banyak yang mengatakan, di jaman modern seperti sekarang ini, hidup tanpa hutang rasanya sangat jarang. Benar juga, karena banyak yang bangga karena menggunakan kartu kredit, hidup dengan hutang saja kok bangga...aneh!

Benar atau tidaknya prilaku tersebut kembali ke pribadi masing-masing, namun tidak bisa dipungkiri hutang merupakan salah satu elemen pendapatan terutama dalam dunia bisnis. Semakin banyak investor yang menanamkan modalnya kepada kita, semakin baik usaha kita tersebut di mata orang lain, karena mereka bersedia menanamkan modalnya kedalam usaha kita. Namun, mengelola keuangan bisnis tak mudah. Namanya bisnis tidak bisa diduga, terkadang, pengeluaran bisa jauh lebih besar daripada pemasukan. Karena itu, tak jarang pula ditemui banyaknya entrepreneur yang terlilit hutang demi menghidupi bisnisnya.

Jika hal itu menimpa kita, sebaiknya kita bisa berbuat lebih bijak. Kita harus bisa mencoba memecahkan masalah dengan kepala dingin dan mencoba untuk menyelesaikan masalah tersebut secara bertahap. Ada beberapa langkah yang bisa ditempuah diantaranya :

Langkah Pertama: Rinci Hutang

Rinci berapa besar hutang yang kita miliki dan kepada siapa saja kita berhutang. Ketika melakukan langkah pertama ini, jujurlah dan catat secara detil, bahkan hingga sen terkecil hutang kita kepada pihak ketiga. Hal ini sangat penting agar kita dapat memperoleh angka pasti perbandingan antara hutang dan pendapatan yang kita miliki .

Jika pembayaran kredit lebih dari 20 persen dari pendapatan bersih bulanan, kitadapat mengkategorikan kita masuk dalam zona bahaya dan harus mengambil langkah untuk segera melunasinya.

Langkah kedua: Budgeting dan Skedul

Ketika telah merinci dan mengetahui secara pasti, berapa jumlah hutang yang kita miliki, langkah selanjutnya adalah membuat budget serta jadwal untuk melunasi hutang tersebut. Prioritaskan tanggal jatuh tempo masing-masing hutang. Jika memungkinkan negosiasi ulang waktu pembayaran hutang yang memiliki tanggal jatuh tempo yang sama. Realistislah dalam membuat anggaran pembayaran hutang itu, sesuaikan dengan pendapatan serta biaya lain yang juga harus kita penuhi.

Langkah ketiga: Disiplin

Dispilin disini dalam arti seluruh aktivitas atau transaksi belanja yang tidak perlu harus dihentikan. Pangkas juga anggaran yang dapat dipangkas dengan berhemat. Misalnya anggaran untuk listrik, air, telepon dan lainnya.

Langkah keempat: Belanja Harian

Gunakan dana dengan jumlah secukupnya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dari tabungan. Jika memungkinkan jangan gunakan kartu ATM atau kartu kredit, terkadang jurus ini cukup ampuh. Kita biasanya cukup malas untuk mengantri di bank untuk mengambil uang yang tidak digunakan untuk urusan yang sangat mendesak atau penting.

Langkah kelima: Tagihan Tunai

Bayarlah sejumlah tagihan dengan tunai untuk mengurangi beban hutangkita. Kenapa tunai? Sebab transaksi online sebenarnya memberikan beban tambahan dalam bentuk jasa transaksi. Hentikan juga pembayaran dengan menggunakan kartu kredit, karena bunganya termasuk cukup besar.

Langkah keenam: Lelang Asset

Jika kondisi memang sangat parah, lelang asset yang kita perkirakan dapat menjadi beban tambahan dapat dilakukan. Misalnya, jika bisnis dapat dijalankan dengan motor yang memilki bak terbuka di belakang, kenapa tidak kita lelang mobil bak terbuka (pick-up) dan menggantinya dengan motor tersebut, selain mendapat dana segar untuk membayar hutang kita juga dpat menghemat banyak pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu.

Langkah ketujuh: Konsultasi ke Ahli Keuangan

Bila kondisi sudah sangat tidak terkendali, mungkin sudah saatnya kita mendatangi ahli keuangan untuk berkonsultasi, mungkin dari sana kita akan memperoleh solusi konkrit dalam menyelesaikan masalah kita. Tapi harap diingat jangan pernah mendatangi rentenir atau bisnis kita akan semakin terpuruk.

Langkah kedelapan: Belajar dari Pengalaman

Banyak yang berpendapat bahwa pengalaman merupakan guru paling hebat yang bisa kita miliki. Sebagai seorang entrepreneur, kita harus terus mencoba dan mencoba untuk berbisnis. Saya yakin, jika masalah keuangan tersebut telah dapat kita selesaikan, terlepas apapun hasilnya, ada dua hal yang kita peroleh. Pertama, kita memperoleh cara untuk mengatasi masalah keuangan dengan benar dan yang kedua, kita tahu bahwa cara tersebut tidak dapat kita lakukan, karena akan semakin memperumit masalah. Selamat Mencoba.

 

 

Top Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

ARTICLE


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Layanan Iklan POTRET

 

Polling

Bagaimana menurut anda POTRET Edisi 53?