• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

ARRAYA

E-mail Print PDF

ARRAYA

Oleh: Tin Winardi

Raya hanya duduk membeku di kursi. Sementara Ibu Lis dari Griya Ayu Bilqis, sibuk mendandani wajah Raya yang tampak pucat tak berekspresi. Asisten Bu Lis masih menyelesaikan merapikan kutek di kuku jari jemari tangan dan kaki Raya yang hanya pasrah. Di sudut lain dalam kamar Raya, seorang asisten Bu Lis yang lainnya tampak sedang mempersiapkan gaun yang akan dikenakan oleh Raya.

Raya masih hanya duduk membeku. Dia menatap wajah dalam cermin di depannya dengan tatapan kosong. Bu Lis melukisi wajah Raya cukup sempurna. Cantik. Tapi... hambar. Gaun putih nan anggun begitu pas membalut tubuh Raya. Roncean melati tersemat begitu indah menutupi kain penutup rambut Raya, menebarkan aroma wangi ke segala sisi.

Tatapan mata Raya yang kosong seakan mampu menembus cermin di depannya. Tapi hanya gelap yang dapat Raya lihat. Gelap. Ya... hanya kegelapan.

“Ayah... aku bukan boneka. Aku bukan pula robot. Aku adalah manusia. Ya... manusia biasa yang mempunyai hati, perasaan... dan mempunyai MIMPI sendiri. Mimpiku tak selalu sama dengan mimpimu. Mimpiku tak harus sama dengan mimpimu. Dan aku benci kau karena memaksakan mimpimu di mimpiku. Aku benci kau (:Ayah).....* jerit Raya dalam hatinya. Sementara bibirnya hanya membisu. Karena memang sudah tak ada gunanya lagi Raya berkata. Ayahnya tak akan peduli.

“Ayah aku tahu, kau sudah cukup banyak makan asam garam dalam hidup. Tapi... kau tak pernah mengalami jadi sepertiku. Kau tak pernah tahu bagaimana perasaan seorang anak perempuan. Kau tak pernah tahu hati seorang gadis. Baik, tak bisa disangkal, dalam hidup, raga ini memang butuh makan (:uang). Tapi untuk hidup, jiwa ini butuh makan (:cinta). Dan jika kau memaksa aku hidup melulu makan uang, berarti kau telah membunuhku. Mungkin ragaku hidup. Tapi tidak dengan jiwaku,** protes Raya dalam hati, karena percuma pula protes kepada ayahnya. Tak pernah digubris.

Sekarang memang bukan jaman Siti Nurbaya. Tapi bukan berarti seorang gadis bisa sepenuhnya bebas menentukan sendiri pendamping hidupnya. Tak peduli gadis yang kebetulan hidup dalam keluarga tak berada, ataupun gadis yang kebetulan hidup dalam keluarga berada. Pertimbangan bibit, bebet, bobot masih saja menjadi patokan para orang tua. Aneh, padahal negeri ini tak menganut sistem kasta.

Wajah Andra melintas sekilas di benak Raya. Entah mengapa Andra nampak begitu menyebalkan bagi Raya. Bahkan sekarang Raya malah membencinya. Mengapa Andra harus mencintai Raya? Mengapa Andra harus menginginkan Raya? Okeylah... mencinta itu hak setiap orang, siapa saja. Tapi, tiap orang punya hak pula untuk menerima atau tidak menerima cinta seseorang. Bagi Raya, Andra menjadi sosok yang sangat menyebalkan karena ia memaksakan cintanya kepada Raya.

..... boleh kau (:pria) sekaya dunia. Boleh kau membeli dunia. Tapi kau takkan bisa membeli cinta. Bisa kau membeli perabot dunia. Bisa kau membeli rumah dunia. Bisa kau membeli perhiasan dunia, yang terindah sekalipun, yang tercantik sekalipun. Tapi belum tentu kau dapatkan jantung hatinya,”*** rutuk hati Raya. Tatap matanya masih kosong menembus cermin di depannya.

Pintu kamar terbuka perlahan. Bunda masuk ke dalam kamar, mendekati Raya. Beliau tak berkata-kata. Tangan lembutnya terulur mengelus bahu Raya. Tangan itu mampu mentransfer kesejukan sampai ke relung hati Raya. Tangan itu seperti mempunyai kekuatan magis. Tenang, damai, sejuk, aman, dan nyaman Raya rasakan tiap kali tangan itu mengelusnya, membelainya.

Tangan Bunda menggenggam tangan Raya erat. Masih tanpa kata. Mungkin Bunda pun tak tahu lagi harus berkata apa. Bunda tahu persis bagaimana perasaan Raya saat ini. Tapi Bunda adalah seorang istri yang selalu patuh dan taat pada suaminya. Apalagi Ayah adalah seorang suami yang tidak bisa ditentang kemaunnya. Tak ada dalam keluarga yang bisa menentang kehendaknya.

Masih dalam diam, Bunda terus menggenggam erat tangan Raya. Seakan-akan sedang memberi kekuatan kepada Raya. Raya tak berusaha melihat wajah Bundanya. Karena Raya tahu persis pasti wajah Bunda lengkap dengan air mata yang mengambang di pelupuk mata. Raya tak ingin melihatnya.

“Bunda... Andra dan keluarganya sudah datang. Bunda cepat turun! Kita harus menyambutnya,” suara Ayah terdengar dari ambang pintu kamar, dan kemudian menghilang.

Sejenak Bunda masih menggenggam erat tangan Raya, seakan enggan melepasnya. Bunda menghembuskan nafasnya. Terasa berat. Lalu sesaat berikutnya Bunda bergegas turun menyambut Andra dan keluarganya, meninggalkan Raya sendirian di dalam kamarnya.

Seekor burung terbang melintas di balik jendela kamar Raya yang setengah terbuka. Raya berjalan menuju jendela. Dia membuka jendela sampai penuh. Angin menerobos jendela. Di luar langit biru dengan awan putih sebagai penghiasnya. Raya memejamkan kedua matanya dan mempersilahkan oksigen menyusup memenuhi rongga-rongga pernafasan. Sejuk. Membiarkan angin bermain dengan ujung-ujung kain penutup rambutnya. Sepoi.

Saat Raya membuka mata, tiba-tiba ada tiga gadis cilik bergaun putih nan cantik dan mereka bersayap!! Dua diantara tiga gadis cilik itu menarik tangan Raya, mengajak ke sebuah taman yang waaah.....indah sekali. Dan satu gadis cilik yang lain terbang mengikuti. Mereka bersayap? Mereka seperti bidadari. Ya..... mungkin mereka adalah bidadari-bidadari kecil. Mereka ingin menghibur Raya.

Taman itu begitu luas. Rerumputan yang menghijau, bunga-bunga beraneka ragam berwarna-warni dan wangi, kupu-kupu nan cantik ikut mewarnai. Burung-burung terbang bebas lepas, berceloteh riang. Sepasang angsa putih berenang bermain di kolam. Apakah mereka sepasang kekasih? Merah muda kelopak teratai menyembul diantara hijau daunnya, mengambang di atas riak air kolam yang sedikit bergejolak.

“Raya.....,” suara yang sangat Raya kenal dengan lembut menyapa. Raya menoleh. Seorang pemuda dengan raut wajah yang begitu tenang kini ada di depannya. Rambut gondrongnya berkibar dipermainkan angin. Dia tersenyum. Senyum yang selalu membuat Raya merasa bahagia saat melihatnya.

“Riza.....?” Raya masih setengah tak percaya. Riza, kekasih yang terkasih, kini ada di depan mata, ada bersamanya. Begitu teduh tatap matanya. Begitu indah kasihnya. Membuat Raya selalu merasa nyaman bersamanya. Aman di sisinya. Namun Ayah tak pernah menyetujuinya.

“Mbak Raya... penghulu sudah datang, acara ijab qobul akan segera dimulai. Mbak Raya sudah ditunggu di bawah,” suara Ibu Lis mengagetkan Raya, tiba-tiba sudah berdiri di belakang Raya. Raya tergagap. Dia membalikkan badannya, membelakangi jendela.

“Ayo......” ajak Ibu Lis sambil hendak menuntun Raya. Raya ragu. Dia menoleh ke jendela. Raya tak lagi melihat taman yang indah itu, tak ada lagi tiga gadis cilik bersayap itu, tak ada lagi Riza. Betapa kecewanya Raya. Oh.....ternyata keindahan itu hanya ada dalam mimpi. Tak adakah nyata yang seindah mimpi? Tak bisakah nyata seindah mimpi?

“Ayo.....” kembali ajak Ibu Lis. Raya pasrah mencoba melangkah. Terasa begitu berat, seperti ada beban beribu-ribu kilo membebani kakinya. Raya mencoba memantapkan diri tuk melangkah. Sekarang tak dipedulikan lagi bagaimana hatinya. Toh sekarang Raya merasa tak lagi berhati. Karena hatinya sudah hancur lebur tak bersisa. Tak ada lagi tangis di mata Raya, karena duka cita ini telah membuatnya kehabisan air mata. Tak ada lagi senyum, karena duka cita ini pun telah membuatnya lupa tersenyum. Tak ada lagi mimpi-mimpi yang bersisa, kecuali hanya kenangan menyakitkan, menggelepak-menggelepak bagai sayap tak terlihat.

Raya menghentikan langkah kakinya di depan tangga. Ia melihat ke bawah. Sebenarnya suasananya begitu meriah. Tak salah, Ayah mempercayakan Om Wisnu, sahabatnya semasa SMA dulu, yang sekarang seorang ahli desain interior, untuk menghias rumah dan menyulapnya menjadi tempat pesta yang indah. Tamu-tamu pun tak mau kalah. Mereka mengenakan gaun terbaik mereka yang terindah. Mungkin hasil karya para desainer dari butik-butik yang ternama, didukung dengan make up dari salon-salon terpercaya pula, membuat penampilan mereka menjadi wah.

Di tengah ruangan, terlihat Andra duduk berhadapan dengan Penghulu, didampingi keluarganya. Ayah dan Bunda Raya pun sudah berada di sana. Semua sudah siap.

“Ya.....jika memang ini bisa membuat Ayah bahagia, akan kulakukan,” bisik hati Raya. Sebagai anak tunggal, Raya hanya berusaha untuk bisa membahagiakan ayahnya. Raya tak ingin menjadi anak durhaka. Raya hanya berusaha untuk menjadi anak yang berbakti. Dengan mau menikah dengan Andra, anak tunggal Om Arya Widyananta, rekan bisnis Ayah, yang katanya dari keluarga terhormat, bermartabat, dan sebagainya. Berharap hubungan persahabatan menjadi kekerabatan. Meskipun tanpa cinta, Raya akan berusaha menjalaninya. Ya... karena cinta Raya hanya untuk Riza. Dan Riza pun tak bisa mempertahankan Raya.

Semua mata tertuju pada Raya yang masih hanya berdiri mematung di depan tangga. Ibu Lis dan asistennya berdiri di belakang Raya. Raya berusaha melangkahkan kakinya untuk menuruni anak tangga.

“Tuhan...tolong aku, kuatkan aku...” bisik hati Raya.

Anak tangga pertama dan kedua dari atas terlewati. Pelan. Tiba-tiba.....sreeett.....aaah.....dug.....aaaaagggrhhh.......dug.....dug.....dug.....

Raya dengan sepatu cinderelanya yang berhak tinggi, tersandung ujung gaunnya yang panjang, yang tak sempurna tertata ke belakang. Ia hilang keseimbangan. Tubuhnya jatuh, dan menggelinding di tangga hingga anak tangga terakhir. Semua terjadi begitu cepat. Semua yang hadir seperti terhipnotis sesaat. Hanya terdiam. Saat berikutnya mereka baru sadar apa yang telah terjadi. Bunda cepat berlari menghampiri tubuh Raya, diikuti Ayah, Andra, dan yang lainnya.

“Aduh.....” rintih Raya berusaha bangun. Raya berdiri. Tiba-tiba ia melihat tiga gadis cilik bersayap yang tadi mengajaknya ke sebuah taman yang indah.

“Kakak, ayo ikut kami...” salah satu dari tiga gadis cilik itu berkata. Ia mengepak-ngepakkan sayapnya terbang rendah. Sedangkan dua gadis cilik lainnya berdiri di samping kanan dan kiri Raya, mereka memegangi tangan Raya.

“Iya Kak, ayo ikut kami...” sambung gadis cilik di samping kiri Raya.

“Kemana...?” tanya Raya tak mengerti.

“Kami akan membawa Kakak ke sebuah taman yang sangaaat indah. Kami akan mengajak Kakak untuk meninggalkan tamaknya dunia. Meninggalkan coreng moreng dunia. Meninggalkan kebobrokan moral-moral di bumi yang tak bermoral. Meninggalkan kebohongan, kekejian, dan kerakusan para khalifah di bumi. Kami akan mengajak Kakak untuk melepaskan diri dari dunia yang menawan Kakak,”**** ajak gadis cilik di sebelah kanan Raya. Gadis kecil yang terbang rendah menyentuhkan tangannya di punggung Raya. Dan tiba-tiba, dari punggung Raya tumbuh sepasang sayap.

“Ayo Kak, kita berangkat sekarang.”

“Iya. Ayo Kak. Sekarang Kakak sudah punya sayap. Kakak bisa terbang bersama kami,” gadis-gadis cilik bersayap itu terus mengajak Raya untuk pergi bersama mereka.

“Raya... Raya... bangun Nak, jangan tinggalkan Bunda...” terdengar suara Bunda dalam isak. Raya melihat ke arah suara. Raya melihat Bundanya terduduk sambil memeluk tubuh seseorang erat-erat. Bunda menangis terisak. Tubuh dalam pelukan Bunda memakai gaun yang sama persis dengan gaun yang dikenakan Raya. Sepatunya juga sama. Wajahnya juga sama persis dengan wajah Raya. Dia hanya diam, tubuhnya terkulai lemas dalam pelukan Bunda.

“Raya... bangun Nak. Raya.....” isak Bunda terdengar memilukan.

“Raya.....” Ayah pun berjongkok membelai kepala seseorang dalam pelukan Bunda, yang sangat mirip, bahkan sama persis dengan Raya. Tapi kepalanya tidak hanya berhiaskan roncean kembang melati putih. Ada warna merah di sana. Merah darah. Ayah menangis. Andra juga menangis. Semua yang hadir bersedih.

“Bunda.....Bunda jangan menangis. Bunda jangan bersedih. Raya tidak apa-apa Bunda. Ini Raya Bunda...” Raya berusaha menjelaskan kepada Bundanya, tapi Bunda tak mempedulikannya. Bunda terus saja menangisi seseorang dalam pelukannya, yang beliau panggil dengan nama Raya.

“Bunda.....Ayah.....” Raya masih terus berusaha memanggil Bunda dan Ayahnya. Tapi Bunda tetap tak mempedulikannya. Ayah juga tak mempedulikan Raya yang berusaha memanggil dan menjelaskan.

“Bunda....dengarkan Raya. Ini Raya Bunda. Raya tidak apa-apa. Bunda, mengapa tak ada yang peduli padaku? Apa kalian tak melihatku? Bunda.....” Raya masih saja mencoba memanggil-manggil Bundanya, tapi tetap tak ada yang peduli padanya. Seolah-olah mereka tak melihat Raya.

Raya semakin bingung dibuatnya. Mengapa Bunda memanggil gadis yang terdiam terkulai lemas dalam pelukannya dengan nama Raya? “Kalau memang benar dia Raya, lalu aku siapa?” bisik Raya lirih penuh tanya.

“Kakak, ayo kita harus cepat pergi dari sini,” suara gadis cilik bersayap kembali mengajak Raya.

“Iya...ayo Kak!” dua gadis cilik bersayap yang lain bersamaan menggandeng tangan Raya, dan mengajaknya terbang bersama.

“Tapi.....” Raya masih ragu. Namun kedua gadis cilik bersayap yang sedari tadi berdiri di sampingnya sudah keburu menariknya untuk terbang. Sepasang sayap Raya telah membawa Raya terbang, diiringi tiga gadis cilik nan cantik yang bersayap pula.

Raya menoleh ke belakang. Bunda masih menangisi seseorang dalam pelukannya. Ayah, Andra, dan semua yang hadir benar-benar tak ada yang peduli dengan kepergian Raya. Raya masih belum mengerti. Sementara ketiga gadis cilik bersayap terus membawa Raya terbang. Menembus awan. Melintasi bakal hujan. Bunga-bunga nan elok rupawan, menghiasi sepanjang perjalanan.

Purwokerto, 1 Juni 2009

* petikan puisi Tin Winardi yang berjudul Aku Benci Kau

** petikan puisi Tin Winardi yang berjudul Aku Benci Kau

*** petikan puisi Tin Winardi yang berjudul Cinta Anugrah Tak Terbeli

**** petikan puisi Tin Winardi yang berjudul Aku dan Selma

***

 

 

Top Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

ARTICLE


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday378
mod_vvisit_counterYesterday638
mod_vvisit_counterThis week2172
mod_vvisit_counterLast week3910
mod_vvisit_counterThis month10700
mod_vvisit_counterLast month22191
mod_vvisit_counterAll days867309

Layanan Iklan POTRET

 

Polling

Bagaimana menurut anda POTRET Edisi 53?