• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Hutan Kecilku

E-mail Print PDF

Hutan Kecilku

Oleh: Ari Kurnia



Siang yang terik. Ketika aku menjemput si sulung pulang dari sekolahnya. Di sebuah Sekolah Dasar Negeri. Tempat aku menitipkan dia untuk menimba ilmu, meskipun tidak seratus persen. Karena bagaimana pun, pendidikan dari rumah dan lingkungan juga penting bagi pribadinya. Jadi pendidikan akademik harus seimbang dengan pendidikan non akademik.


Panas-panas begini, aku belokkan motorku ke rumah Mira, teman sekelas sulungku. Sekedar berbincang santai dengan Mama Mira, karena kebetulan kami ada beberapa persamaan minat. Hup, aku parkir motor dengan manisnya di pinggir jalan. Berharap masih ada tempat yang cukup longgar untuk dilewati kendaraan yang lain.


Agak pangling aku memandang halaman rumah Mira. Kok rasanya menjadi bersih sekali. Apa yang membuatnya berubah? Pandangan mataku mulai mencari “sesuatu” yang membuat berbeda itu. Dan ketemu. Ternyata halaman rumah Mira telah dibeton semua. Tidak ada lagi tanah berwarna merah kecoklatan yang nampak di sana. Kalau pun ada, adanya di dalam pot-pot bunga. Ada senyum yang tertahan di bibirku. Ah, rumah Mira kini berbalut beton. Alasan yang kuterima adalah, “Repot mbak, tikus suka menggali lubang di situ. Kotor jadinya.”


Keesokan paginya, aku berkeliling dengan sepeda lipatku. Kegiatan masa sekolahku  menggoes sepeda mulai aku galakkan lagi. Sekedar menguatkan otot dan mengencangkan kaki. Sambil sesekali menghirup segarnya udara pagi. Berkeliling komplek perumahan, menyusuri gang-gang kecil sambil melihat aktivitas pagi warga di kota industri ini. Dan berhenti sesekali jika ketemu penjual sayur yang segar. Tersenyum ke semua orang yang aku kenal sambil sesekali membunyikan bel sepeda jika ada orang yang berjalan terlalu  ke tengah jalan.


Seperti biasa, jika ibu-ibu ketemu ibu-ibu, akan berhenti sejenak untuk menyapa dan bertukar kabar gembira. Tapi semoga jauh dari menggosip ya…. Mama Dilon, begitu aku biasa menyapa ibu muda yang makin cantik ini. Rambutnya yang keemasan, menambah fresh aja. Mama Dilon adalah ibu yang tangguh, disamping sukses menjalankan cateringnya di  sebuah pabrik, dia juga menomor satukan keluarganya. Ibu yang seperti inilah yang bisa diambil ilmunya, bisikku dalam hati.


Tapi, lagi-lagi aku merasakan suatu kejanggalan ketika aku memandang halamannya yang luas. Oh… tidak!. Pohon mangga nan rindang itu telah tiada. Usut punya usut, kemarin sore telah ditebang oleh Papa Dilon. Katanya buahnya suka berisik kalau berjatuhan di malam hari.
Lemaslah aku, sumber oksigen yang melimpah itu telah ditebang. Buah yang melimpah justru yang menjadi alasan untuk ditebang. Hiks, bukankah mereka sekeluarga memerlukan daun-daun dari pohon mangga yang gagah itu. Bukankah mereka sekeluarga bernafas setiap hari? Darimana oksigen yang mereka hirup? Tidak sadarkah mereka jika pohon manggalah yang selama ini menjadi salah satu sumber oksigen di siang hari. Hatiku mulai tersayat.
Ini sayatan ke sekian kali. Setelah sebulan sebelumnya, seorang tetangga juga menghabiskan tanahnya yang selama ini berfungsi sebagai taman. Tanah itu dibangun sebuah kamar. Hingga dia tidak lagi memiliki pohon perkasa di rumahnya. Padahal, keluarganya ada sekitar lima orang, belum lagi para pembantu yang bekerja di situ. Apakah dia tidak butuh pabrik oksigen?


Hhh… aku hanya bisa menghela napas. Memang itu hak mereka untuk melakukan apa pun yang mereka suka terhadap tanah milik mereka yang sah. Mau menebang pohon atau dibeton, semua keputusan ada di tangan mereka. Tidak ada yang bisa menyetir. Lagi pula apa hakku? Aku sadar. Aku hanya sebatas tetangga yang memandang nanar terhadap lenyapnya bau alam di sekelilingku.
Jika aku tidak bisa berkutik terhadap keputusan mereka dalam mengolah halaman rumahnya, aku masih punya hak untuk berbuat sesuatu terhadap halaman rumahku. Rumahku memang tidak terlalu besar, namun cukup nyaman untuk ditinggali berempat, beserta suami dan dua orang anakku yang manis dan gesit.


Sejenak aku mengingat pelajaran Sekolah Dasar yang pernah aku dapat dahulu. Selalu ditanamkan dan dikenalkan kepadaku, bahwa bumi Indonesia adalah bumi yang gemah rimpah loh jinawi. Subur, sepanjang tahun bisa ditanami. Kekayaan laut yang melimpah, minyak bumi dan aneka tambang tersedia. Air bersih pun dengan mudah didapatkan. Wuih… surga dunia deh.
Namun, kadang kekayaan alam yang melimpah ini, seolah menjadi sesuatu yang “biasa” bagi kebanyakan orang. Banyak orang yang mulai menyepelekan “kekayaan” ini. Menganggap segala kekayaan alam tidak perlu dijaga dan dilestarikan. Cukup dieksploitasi tanpa batas, tanpa perasaan. Hiks.. air mataku menetes lagi. Tersayat lagi. Bangsaku mulai kehilangan jati diri dan lupa akan anugrah bangsa yang sebenarnya adalah negara agraris.
Ya sudahlah… Aku mulai bersahabat dengan kenyataan. Mengingat kapasitasku terbatas, karena aku tidak punya jabatan tinggi untuk menghimbau agar semua orang menghijaukan pekarangannya. Meskipun jauh di lubuk hatiku, ingin sekali aku menjadi menteri lingkungan hidup, menteri pertambangan, dan menteri-menteri lainnya yang mempunyai power untuk mengatur semua sumber daya alam yang ada.


Aku mulai memetakan keadaan. Powerku saat ini adalah di rumah mungilku. Aku akan membuat anggota keluargaku menyadari betapa Indonesia adalah negeri makmur yang memungkinkan aneka satwa dan flora dapat hidup di atasnya. Akan kuhadirkan nuansa hutan di rumah mungilku.
Sebuah kolam berbentuk persegi panjang, 80 cm x 300 cm, berisi 15 ekor ikan koi berwarna warni. Kami pelihara ikan-ikan koi itu dari kecil. Dari seukuran telunjuk orang dewasa hingga kini sudah sebesar remote control. Anak-anakku belajar banyak hal dari kolam koi itu. Belajar memberi makan sesuai dosisnya. Bahwa memberi makan ikan koi ada aturannya, sedikit-sedikit namun agak sering. Jangan sampai ikan koi kekenyangan. Karena kekenyangan justru akan menyakiti mereka.


Di sebelah kolam ikan koi, berderet-deret tumbuhan hijau dan berbunga menarik kutanam. Meskipun tanaman itu harganya tidak mahal dan bukan tanaman bernilai prestise, namun setidaknya, mereka menyumbang oksigen dan bunga yang cantik. Bukan bunga plastik, namun bunga yang menaburkan bau harum dan warna mempesona. Yang mengundang kupu dan capung untuk singgah. Di sekitar akarnya, beberapa cacing akan hidup disana.


Inilah Ilmu Pengetahuan Alam yang sesungguhnya. Menyentuhkan anak kepada flora dan fauna secara nyata. Terkadang mereka aku suruh memegang cacing. Atau membantu sang Ayah untuk memberi makan burung Kacer dan burung pentet dengan seekor jangkrik. Wajah-wajah tanpa dosa yang terlahir dari rahimku itu, melihat dengan takjub keciap anak kenari yang baru menetas. Melihat bayi kenari yang masih botak, kemudian tumbuh bulu-bulu halus di badannya. Melihat induk kenari menyuapi anaknya yang berkeciap-keciap. Sungguh, peristiwa alam yang layak diberikan untuk anak-anak.
Semoga dengan hutan kecil di halaman belakang rumahku, telah mengedukasi buah hatiku tentang alam. Meskipun kami tinggal di kota industri, namun tidak menutup kemungkinan untuk merasakan sensasi alam. Semoga kelak, ketika mereka terjun ke dunia nyata yang keras, rasa sayang terhadap alam, flora dan fauna akan menuntun mereka untuk berbuat adil terhadap alam. Bagaimana dengan Anda?

 

 

Top Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

ARTICLE


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Layanan Iklan POTRET

 

Polling

Bagaimana menurut anda POTRET Edisi 53?