Fairuziana Humam:
Aceh Representative of ICYEP (Indonesia Canada Youth Exchange Program)
“It’s Not About Money”
Oleh: Maulidar Yusuf
Konstributor Majalah POTRET
Di belahan dunia manapun kamu, kamu tetap perempuan Aceh. Itu kalimat yang melakat pada perempuan kreatif yang satu ini. Fairuziana Humam, sarjana muda Fakultas Psikologi Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh. Berbagai prestasi telah diraihnya, mulai dari prestasi ditingkat local hingga International. Buktinya, Maret 2012 adalah bulan pertama Fairuz menginjakkan kembali kakinya di Aceh setelah menjadi Aceh Representative of ICYEP (Indonesia Canada Youth Exchange Program) Menpora.
Gadis kelahiran 4 Maret 1989 ini, mengaku mendapatkan banyak sekali perbedaan antara Indonesia-Canada, mulai dari letak geografis hingga keadaan masyarakatnya, namun bagi Fairuz perbedaan tersebut tidak membuat semangat dirinya surut untuk bisa bersaing dengan pemuda disana. Bahkan banyak project sosial yang dirancangnya untuk warga Canada dan Indonesia.
Di samping itu, sebagai perempuan Aceh yang mewakili pemuda Indonesia di Canada, Fairuz banyak mempromosikan budaya dan kesenian Aceh di Canada. “Kegiatan saya disana hamper sama seperti volunteer-lah, mulai kegiatan sosial, pendidikan, seni juga ada. Saya sempat juga ngajar tarian saman di Canada untuk peserta Indonesia dan Canada dan kami juga sempat tampil juga” cerita Fairuz, saat berjumpa dengan tim POTRET dua hari setelah tiba di Aceh.
Anak dari pasangan Ahmad Humam Hamid dan Fitria Marzuki ini sempat menjadi Volunteer di sebuah panti jompo di Charlottentown. “Beda banget antara orang tua di Panti jompo Canada dengan disini. Kalau di sana orang tua masih creative, productive, dan bahkan ada yang udah umurnya 100 tahun masih rajin membaca” kata Fairuz, yang juga bertugas merawat para jompo yang mengalami gangguan kejiwaan. Kegiatan di panti jompo adalah salah satu agenda yang mengisi aktivitas Fairuz di Canada setiap hari selasa sampai kamis.
“Kami punya jadwal tersendiri disana. Mulai dari senin, agendanya mengajarkan budaya Indonesia. Selasa, di Panti Jompo. Jum’at hari education, di hari ini kami rancang konsep kegiatan sosial untuk masyarakat disana dan saya milihnya untuk anak-anak. Sabtu-Minggu weekend” papar Fairuz. Selain itu Fairuz juga bergabung dengan banyak aksi dan kegiatan lainnya. Contohnya saja dalam aksi lingkungan. Canada sebagai sebuah wilayah modern memiliki gaya hidup yang modern pula, bahkan nyaris meninggalkan gaya hidup traditional. Hal ini tercermin dalam sector pertanian, bahkan banyak warga Canada yang lupa dari mana asal makanan yang mereka makan. Oleh karena itu saat ini mereka sedang giat melakukan kampanye mendukung petani lokal, khususnya didaerah Prince Edward Island, tempat Fairuz tinggal.
“Mereka disana berlomba-lomba menanam tanaman yang bisa dimakan, membuat hutan kecil dirumah dan mencoba mengurangi kebiasaan membeli makanan di supermarket. Isu lingkungan memang sangat gencar di sana saat ini. Selain itu juga ada kampanye tentang kegunaan jalan buat manusia bukan untuk untuk mobil. Kampanye ini juga fungsinya untuk mendukung warga lebih sering berjalan kaki, agar sehat dan mengurangi polusi udara” lanjut Fairuz yang sangat terkesan dengan aktivitas warga Canada.
“Selain isu lingkungan, yang paling menarik lagi adalah sikap konsistennya warga Canada terhadap perlindungan perempuan, bahkan pada setiap tanggal 9 Desember mereka merayakan hari anti kekerasan terhadap perempuan” Ia menambahkan lagi akan komitment yang sangat luar biasa dari warga Canada terhadap perempuan, bahkan setiap peringatan hari perempuan dalam jangka waktu seminggu kita bisa menyaksikan kampanye dari semua pihak, tanpa terkecuali. “Bahkan di bus-bus juga dipajang brosur atau sepanduk untuk memperingati hari perempuan. Semua orang selama seminggu ikut berpartisipasi. Sangat luar biasa komitmentnya” Lanjut Fairuz yang juga sempat menyaksikan langsung pemilu untuk bagi warga yang memilih legal dan tidaknya aborsi.
Perempuan yang juga penyiar radio di program Kampus event talk show , counseling talkshow and cultural event talkshow ini bercerita, “ Untuk sebagian wilayah Canada, aborsi itu legal, namun khusus wilayah saya tinggal, Charlottetown, masih ada pro-kontra aborsi. Karena ada yang bilang hak reproduksi itu haknya perempuan, namun ada juga yang mempertahankan haknya bayi. Pemilu ini berlangsung aman, nggak ada ribut-ribut atau pertengkaran, meskipun sampai sekarang hasilnya masih dalam proses advokasi”. Kebebasan memilih bagi beberapa Negara adalah hak individu yang berlangsung aman tanpa kekerasan dan intimidasi. Hal ini juga harusnya bisa menjadi contoh bagi Aceh yang sebentar lagi juga akan mengadakan pemilihan kepala daerah.
Banyak sekali pelajaran yang Fairuz dapat dari berbagai aktivitasnya didalam dan luar negri, mulai dari cara berkerja dengan tim yang memiliki perbedaan latar belakang, hidup di daerah yang berbeda cuaca, hingga cara cepat berfikir Kreatif. “Memang sih beda sekali dengan kita di Indonesia yang selalu menunggu pemerintah untuk melakukan sebuah perubahan. Kalau di sana perubahan itu justru timbul dari masyarakat kreatif. Mereka buat rencana sendiri mau buat ini itu, kalau kita disini, seringnya nunggu dulu, hehehe. Ini harusnya dirubah dari kita” Kata Fairuz yang juga menegaskan bahwa it’s not about money, but about political will.
“Semua hal bisa kita lakukan, asalkan punya ide kreatif. Nggak harus bergantung pada orang lain” pesannya yang juga sempat melakukan aksi sosial di Cikandang-Garut, Indonesia. Aksi tersebut berupa kampanye kebersihan lingkungan melalui anak-anak, “Soalnya kalau di Cikandang itu, nggak ada Tempat Pembuangan Akhir(TPA) buat sampah. Jadi kalau buang sesuatu langsung ke tanah. Jadi sampah yang nggak terurai berserakan dimana-mana. Akhirnya saya ngajak teman-teman PPAN sosialisasi sampah dan juga ngecet dinding sekolah dengan nambahin gambar-gambar yang berisi kampanye lingkungan. Niatnya sih biar lebih melekat pesannya”. Dengan motto hidup“Be happy and passionate, focus untuk jadi manfaat bagi semua orang” Fairuz adalah salah satu contoh perempuan Aceh yang terus berkembang dengan semangat dan kreativitasnya untuk Aceh, Indonesia dan bahkan dunia. Hal seperti ini sudah seharunya bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin melajukan perubahan dan terus maju.







