Inayati Sa'aduddin Jamal:
Perempuan Aceh itu Selalu Optimis
OLEH: TIM POTRET
Minggu, awal bulan Maret, tepat pukul 09.00 pagi, team majalah POTRET memasuki pintu masuk Anjong Mon Mata, menuju Pendopo Gubernur, untuk bertemu dengan bu Inayati Sa'aduddin Jamal yang akrab dengan panggilan bu Ina itu. Saat memasuki ruang lobby Pendopo Gubernur pagi itu, bu Ina menyambutkan dengan wajah ceria dan sangat ramah. Sambutan itu membuat suasana sangat bersahabat. Padahal pada hari itu, bu Ina yang dengan setia menjadi inspirasi orang nomer satu di Aceh saai ini, sudah bersiap-siap untuk mengahadiri coffee morning para kandidat Gubernur Aceh priode 2012-2017 di Pendopo pagi itu. Sayangnya. ia tidak melihat seorang perempuanpun di ruangan pertemuan itu. Akhirnya, bu Ina tidak ikut bersama Pak Tarmizi Karim untuk coffee morning, tetapi berbicang panjang lebar soal eksitensi dirinya bagi kaum perempuan Aceh selama ini dan esok.
Perbincangan awal, dimulai dengan meminta pendapat bu Ina soal perempuan Aceh. “ Hmm, perempuan Aceh adalah sosok yang selalu optimis dan gigih”. Perempuan Aceh adalah perempuan yang sudah teruji oleh sejarah. Bukan saja karena gemilangnya Aceh dengan sejumlah pahlawan perempuan Aceh, tetapi ketika di masa konflik dan masa –masa dihempas bencana, perempuan masih mampu berdiri dan berbuat maksimal, walau beban pekerjaan perempuan begitu berat. Namun, sayang di ruang public, perempuan masih marginal, seperti halnya apa yang terjadi di acara coffee morning itu. Bu Ina pun merasa sendiri di kerumunan para kandidat kepala daerah itu. Maka terucaplah ungkapan ini, “Bagaimana perempuan bisa maju, kalau ruang untuk mereka tidak ada, apalagi jika tidak dilibatkan dalam aktivitas seperti itu”.
Sebagai istri PJ Gubernur Aceh, yang masa jabatan PJ Gubernur sangat singkat itu, Bu ini punya banyak gagasan cemerlang untuk perempuan Aceh. Tentu saja berbekal pengalaman beliau menemani perjalanan karir suaminya selama bertahun-tahun. Karena Tarmizi A Karim, sendiri pernah menjadi kepala daerah, sebagai bupati Aceh utara, lalu menjadi Pj. Gubernur di Kalimantan Timur itu dan kini menjadi PJ.Gubernur Aceh. Sebagai seorang isteri pejabat kepala daerah, bu Ina memang punya segudang ide untuk memajukan pergerakan perempuan di daerah ini.
Nah, ketika saat ini jabatan gubernur ada pada suaminya, maka biasanya segala macam kegiatan yang berkaitan dengan organisasi yang ada terkait dengan keterlibatannya sebagai siteri gubernur juga bisanya ikut menjadi tanggung jawabnya. Salah satunya adalah program PKK, yang secara tidak langsung menjadi ketua TIM PKK Aceh. Selama ini kata bu ina, kehadiran perempuan hanya dibutuhkan di acara-acara seremonial saja, dengan kostum cantik dan duduk manis saja di samping suami yang kebetulan pejabat, setelah itu tidak dilibatkan lagi.
Nah, terkait dengan persepsi banyak orang tentang PKK selama ini, bu Ina juga melihat hal yang sama, karena pada kenyataannya ketika berbicara soal PKK, maka orientasinya sangat domestic. Program PKK cendrung dilihat sebagai program yang menyiapkan ibu-ibu dengan urusan rumah tangga semata, seperti memasak dan mengurus anak saja. Jadi tidak mencerdaskan. Mungkin saja benar.
“Selama ini, jika bergerak di PKK, janganlah sampai mencemar nama PKK yang biasanya diplesetkan menjadi Perempuan Kurang Kerjaan” ungkapnya ketika disinggung mengenai anggapan kebanyakan orang bahwa keberadaan PKK. “PKK itu harusnya tidak menjadi perkumpulan ibu-ibu yang kerjanya hanya ngumpul arisan dan jahit baju baru. Tapi PKK punya andil besar dalam kemajuan bangsa ini. Salah satunya dalam mendidik generasi. Hal ini bisa didapat jika aktivitsa ibu PKK dibarengi dengan kegiatan keilmuan yang mendorong perempuan agar lebih cerdas untuk membangun bangsa ini supaya lebih maju dan berkembang”. Keberadaan perempuan cerdas sangat penting. Salah satu kehebatan perempuan cerdas adalah mampu mencetak genarasi yang cerdas, dan ini tidak pernah bisa dilakukan oleh laki-laki. Oleh sebab itu. Bu Ina saat ini ditantang untuk mengubah mindset itu.
Menurutnya, perempuan Aceh adalah perempuan cerdas, ini terbukti dengan adanya pejuang-pejuang perempuan yang terkenal sampai ke Eropa, namun banyak dari mereka memiliki keberanian yang sangat sedikit. “Saya awalnya dulunya juga tidak berani, tapi saya coba, dan hasilnya saya mampu bersaing dengan yang lainnya dan semua karena ide dan gagasan” ungkap bu Ina.
Sebagai ketua PKK peraih PIN Emas penghargaan sebanyak tiga kali berturut-turut dalam jabatannya di Kabupaten Aceh Utara, ia menyatakan bahwa perubahan itu bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk perempuan. Ia juga mengharapkan perempuan harus mampu beradaptasi di mana saja ia berada. Hal ini tentunya harus didukung dengan ilmu yang dimiliki. Untuk itu ia sangat mengharapkan keberadaan perempuan cerdas.
Persoalan keberadaan perempuan cerdas juga pernah diungkapkan oleh PJ. Gubernur Aceh saat ini, Tarmizi A Karim yang tidak lain adalah suami bu Ina dalam sebuah kegiatan, “Seorang laki-laki bisa sukses disebabkan perempuan cerdas yang ada di sampingnya dan itu adalah istrinya, dan Laki-laki bisa gagal juga karena perempuan cerdas, namun itu bukan istrinya”.
Dalam waktu yang singkat ini, sebagai pejabat sementara Ketua PKK Aceh, ia mengharapkan dukungan dari berbagai pihak untuk menyukseskan semua program yang dia rancang. Salah satu agenda besarnya adalah penguatan pondasi bangsa, yaitu penguatan generasi usia dini. Menurutnya saat ini sangat sedikit anak-anak Aceh yang belum mendapatkan pendidikan yang baik sejak usia dini. Padahal untuk membangun bangunan saja kita harus menguatkan pondasi terlebih dahulu sebelum mendirikan dinding dan lainnya. Sedangkan pondasi bangsa ini adalah anak-anak, anak-anak memilki peranan besar dalam dinamika pembangunan manusia.
Penguatan generasi usia dini ini harus didukung dengan penguatan intelektual perempuan. Karena perempuan cerdas akan melahirkan generasi cerdas, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh laki-laki. Bu Ina juga sangat berharap perempuan Aceh bisa menjadi Inspiring Women bagi dunia dengan konsep-konsep kreativitas dan keahlian yang dimilkinya. Fakta sejarah telah bercerita bahwa perempuan Aceh adalah perempuan yang hebat dalam berbagai bidang dan ini masih berlanjut sampai sekarang di saat ada perempuan Aceh yang duduk di posisi strategis dalam pengaturan kepemerintahan.
Sambil menikmati sungguhan teh hangat bersama team POTRET, bu Ina menyatakan sebuah rencana besarnya untuk pemberdayaan perekonomian perempuan Aceh, khususnya dengan memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki Aceh. Aceh sangat kaya dengan berbagai sumber daya. Sayangnya sumber daya local itu tidak termanfaatkan. Salah satunya potensi belimbing yang bisa diproses jadi asam sunti. Asam Sunti khususnya, asam sunti yang merupakan olahan dari belimbing wuluh adalah salah satu bumbu masak yang sangat banyak digunakan di Aceh. Hampir 90% warga Aceh menggunakan Asam sunti sebagai bahan utama memasak, oleh karena itu permintaan asam sunti di pasar sangat banyak dan berbanding terbalik dengan ketersediaan asam sunti untuk saat ini. Sayangnya ini belum dilirik sebagai salah satu sector bisnis rumah yang tangga yang menggiurkan.
Sebagai perempuan Ina juga berharap ke depan bisa mengembangkan bisnis asam sunti yang akan memberdayakan ekonomi banyak kalangan. Strategi pemberdayaan sumberdaya alam ini akan dimulai dari sosialisasi penanaman, pemetikan, penjemuran dan pengemasan. Selanjutkan akan dipasarkan seiring dengan promosi kegunaan asam sunti sampai keluar negeri. Penyuluhan pun menjadi agenda dalam pemasaran yang juga akan melibatkan para peneliti.
Jadi secara tidak langsung permintaan asam sunti akan meningkat, dan ini termasuk tindakan pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah khususnya perempuan dengan memanfaatkan sumberdaya alam Aceh disamping mengembangkan dan memperkenalkan kekhasan budaya kuliner yang dimilki Aceh.
“Memang kedengarannya lucu, Asam sunti. Tapi pepatah Aceh bilang peugah lage buet, peubut lagei na ( Kata-kata dan perbuatan harus sesuai). Rencana itu nggak usah muluk-muluk, tapi yang penting strateginya jelas dan manfaatnya juga nyata ada ” kata bu Ina dengan penuh optimis. Di sela pembicaraan itu, bu melemparkan senyumnya karena membayangkan pasti banyak yang akan menertawakan ide asam sunti ini. Padahal ini hanyalah salah satu ide saja. Masih banyak ide lain yang bisa kita gali untuk memanfaatkan sumber daya local di Aceh. Yang penting, kaum perempuan tidak boleh berhenti belajar dan terus belajar. Jangan sampai perempuan Aceh setelah mendapatkan pendidikan hingga sarjana, lalu pulang dan terpuruk kembali di dapur dan tak berdaya. Perempuan harus pintar dan cerdas ,menggunankan peluang ini. Jangan sampai menjadi penonton dan korban dari eksplorasi dan ekspolitasi sumber daya alam oleh para pialang ekonomi. Perempuan jangan mau menjadi sasaran pengguna produk dan objek dari produk global. Tetapi perempuan harus menjadi subjek yang memproduksi produk dengan memanfaatkan sumber daya local yang melimpah saat ini. Ini harus menjadi concern kita dalam membangun ekonomi kaum perempuan yang berkelanjutan hingga mencapai kemandirian ekonomi perempuan.
Meskipun dalam waktu singkat ia berharap juga bisa meneruskan program-program positif yang pernah dilakukan oleh istri-istri Gubernur sebelumnya, adalah suatu hal penting baginya bercermin pada sesuatu yang sudah berlangsung dimasa lalu. Misalnya, Dekranas yang sudah ada itu , bisa semakin produktif dan punya prospek untuk masa depan masyarakat Aceh umumnya dan perempuan khususnya. Oleh sebab itu, agar tidak dianggap sebagai program mercusuar, bu Ina mengajak semua pihak untuk saling bersinergy membangun Aceh yang maju, damai dan sejahtera bersama-sama.







