AMBISI PEREMPUAN DALAM BIDANG POLITIK
Oleh: Husni
Kpuk Lestari-Lamlagang, Banda Aceh
Di era globalisasi sekarang ini bidang politik salah satunya dari bidang EPOLEKSOSBUD HAMKAM, sangatlah kuat perannya dalam kabinet dari episode ke episode. Selain bidang ekonomi, bidang politik menjadi peran utama dalam pembangunan dari yang kecil sampai yang besar, misalnya pembangunan daerah tingkat kecamatan, kabupaten, propinsi sampai ke satu negara.
Seringkali dalam satu organisasi di bidang apa saja yang memegang tampuk kepemimpinan adalah laki-laki. Mengapa demikian? Dan bukanlah satu hal yang tabu kalau perempuan juga punya peranan penting dalam memimpin. Bukan pula perempuan itu tidak ada jiwa politiknya. Bukan, bukan demikian. Seperti yang telah kita baca dalam episode POTRET yang ke XVI, disitu dibahas masalah kepemimpinan perempuan dan saya sendiri juga pernah merasa jadi pemimpin walaupun hanya memimpin dalam kelas.
Politik bukanlah hanya milik laki-laki. Banyak juga perempuan yang ikut andil dalam politik, seperti kita lihat dalam mencalonkan diri di caleg, kepala desa, lurah pasar, bahkan presiden. Cuma ambisi perempuan masih tertutup oleh keterbatasan kekuasaan, kekuatan, ekonomi dan yang lebih lagi nyali perempuan itu sendiri. Perempuan juga punya sifat ragu-ragu, kurang yakin dan kurang percaya pada kemampuan dirinya. Ada juga satu-satu perempuan yang berani terjun walau hanya bermodal dengkul.
Saya mengambil satu contoh disalah satu desa yang pernah saya diami. Sebelah rumah saya adalah rumah seorang anggota polisi (wakil Polsek), istri beliau sudah pasti harus mengikuti banyak kegiatan sebagai anggota ibu-ibu Bhayangkari di desa itu. Istrinya mengaku orang bodoh, cuma tamatan SMP. Tapi beliau punya keberanian dan aktif dalam menjalankan kegiatan-kegiatan. Jika perlu beliau tampil ke depan memberikan pengarahan dan bimbingan bahkan beliau menjadi panutan dalam perkumpulan ibu-ibu Bhayangkari itu. Tapi sebaliknya ada juga seorang ibu yang punya pendidikan tinggi (sarjana), tapi dia tidak memanfaatkan ilmunya itu untuk diulang kaji dan dibagikan ke masyarakat yang awam ilmu pendidikan. Ketika ditanyakan kenapa ibu tidak masuk dalam organisasi-organisasi? Siibu menjawab, “saya tidak berani tampil. Kalau saya tampil, jantung saya berdebar keras dan lutut saya bergoyang kencang, seolah-olah tak mampu menampung badan saya ini”.
Disini kita lihat perempuan bukanlah tidak ada jiwa politiknya. Hanya saja tergantung pada perempuan itu sendiri mau atau tidaknya perempuan itu mencoba dirinya mampu atau tidaknya ia berpolitik. Memang kita dihadapkan pada lawan kita yang merasa dirinya lebih segala-galanya, tapi apabila perempuan bisa mendobrak tradisi ini. Perempuan pasti bisa setara dengan laki-laki dan sederajat. Juga dapat berjalan berdampingan dalam mengembankan pembangunan melalui bidang-bidangnya masing-masing yang sudah disatukan dalam EPOLEKSOSBUD HAMKAM.
Persaingan dalam politik membuat perempuan tidak berani ambil resiko, karena untuk mencapai suatu tujuan perempuan harus banyak mengorbankan hal-hal yang sangat sepele misalnya, tidak banyak waktu di rumah, tidak sempat masak, mencuci atau sebagainya. Padahal semua itu bukan hanya beban perempuan saja, kita juga bisa musyawarah dengan suami. Misalnya apabila dia punya waktu semua itu bisa jadi tugas dia (suami) dan apabila kita (perempuan) tidak beraktifitas di luar semua itu menjadi tugas kita. Di sini, kita perlu terapkan Gender dalam rumah tangga kita. Seperti kata pepatah dimana ada kemauan di situ ada jalan. Banyak jalan menuju Roma.[]




















