Mencegah Tawuran dari Rumah
Oleh Ari Kurnia
Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis, berdomisili di Cimone jaya, Tangerang
Kupandangi sulungku yang hampir sembilan tahun usianya. Sulungku memasuki masa peralihan, dari kanak-kanak menuju masa remaja. Ah, tak terasa sudah selama itu aku mengasuhnya.
Masih teringat jelas dalam benakku ketika aku melahirkannya, dalam ruang operasi. Kudengar suara tangis pertamanya. Kusaksikan bayiku yang masih penuh darah didekatkan ke dadaku. Aku meliriknya dalam lemah tak bertenaga. Berhadapan denga pisau bedah dan jarum dalam ruang serba putih.
Kuterima keajiban itu dengan suka cita. Aku dipercaya oleh-Nya menjaga seorang buah hati yang sempurna. Sangat sempurna. Terima kasih Allah. Seorang momongan yang sangat indah. Penerus keturunan dan kelak akan memberi pertolongan bagiku ketika di alam sana. Kenangan itu selalu tersimpan manis dalam hatiku.
Kudengar suara riuh dari arah pesawat televisiku. Aku pun tergoda untuk melihat liputan yang ditayangkan sebuah televisi swasta. Tayangan yang memberitakan tawuran antar pelajar sekolah. Sekumpulan pelajar berseragam putih abu-abu terlihat berteriak-teriak kepada sekumpulan lainnya yang juga berseragam putih abu-abu.
Suasana sangat riuh. Masing-masing kubu membawa senjata tajam sebagai sarana membela diri. Kepala gear yang diikat seutas tali terlihat diayun-ayunkan ke udara. Siap melukai musuhnya yang berada di jarak satu hingga tiga meter. Teman yang lain membawa tongkat yang panjang, seolah berfungsi sebagai gada di medan perang Mahabarata. Parang tajam nan panjang juga terlihat berkilat tertimpa teriknya matahari Jakarta. Beberapa memegang batu, siap untuk dilontarkan bak granat. Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan.
Aku seorang ibu. Selama kurun waktu sembilan tahun ini telah merasakan suka dukanya menjadi seorang ibu. Bersuka cita ketika buah hati menunjukkan kemajuan dalam perkembangannya. Namun seketika menjadi sedih ketika buah hati sakit. Menjaganya siang malam, mengompres keningnya ketika demam. Berdoa, bahkan kadang tertidur sambil mendekap tubuh buah hati, berharap panas buah hatinya akan menjalar ke badannya.
Seorang ibu akan berjuang mati-matian untuk menjaga kesehatan buah hatinya. Menjaga keutuhan raga buah hatinya. Agar kelak dapat tumbuh maksimal dan mencapai apa yang selama ini buah hati impikan. Menjadi kebanggaan keluarga dan menjadi tumpuan di hari tua.Tapi ketika aku melihat tawuran itu, aku menjadi sangat was-was. Meskipun yang tawuran bukanlah buah hatiku. Naluri keibuanku berkata,”Nak, mengapa harus kau persenjatai dirimu layaknya pejuang melawan kejahatan? Lihatlah, dia temanmu. Sesama pelajar. Teman yang harusnya kau ajak membangun bangsa ini bersama. Bukan saling menyakiti.”
Terbayang dalam benakku jika ada korban dalam tawuran itu. Kepala yang terluka hingga robek, tangan dan badan yang terkena sabitan benda tajam. Dan tubuh yang bergeletakan tak berdaya, bersimbah darah setelah berkali-kali mendapat tendagan dari lawannya. Sungguh, aku bergidik. Mereka telah menyakiti saudaranya sendiri. Hanya karena masalah yang sebenarnya bukanlah masalah. Hanya sesuatu yang dibesar-besarkan. Untuk memnunjukkan jati diri mereka saja.
Nak, tidakkah kau ingat? Bagaimana ibumu membesarkanmu hingga kau berusia remaja kini? Penuh pengorbanan dan do’a. Bahkan derai air mata. Tidak ada seorang ibu pun yang rela melihat buah hatinya berada dalam medan pertempuran yang salah. Tidak ada semangat membela kebenaran dalam pertempuran yang kau sebut tawuran itu. Siapa yang telah mengajarkannya padamu? Bukankah kau disekolahkan untuk belajar tentang tata krama dan ilmu pengetahuan?
Sayang sekali, darah mudamu terlalu bergejolak. Dengan dalih mencari jati diri, mempertahankan nama sekolah atau memperebutkan seorang wanita, kau telah melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan seorang pelajar yang terhormat.
Ingin rasanya aku bertanya pada mereka. Satu per satu. Apa yang terjadi dalam keluargamu sehingga kau berbuat seperti ini? Memang aku tidak boleh langsung menghakimi mereka akan tindakan anarkis mereka. Mungkin di belakang kejadian itu ada sesuatu yang belum terungkap. Atau mereka tidak dapat mengekspresikan gejolak muda mereka pada jalur yang benar?
Ibu memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan anaknya baik secara formal maupun non formal. Di sekolah ataupun di rumah. Sebelum seorang anak menjadi remaja yang bergaul dengan banyak karakter dan berbagai jenjang usia di luar rumah, seorang ibu haruslah membekali anaknya dengan “senjata” yang ampuh.
Senjata itu adalah ilmu agama yang kuat, ilmu dunia yang up to date dan komunikasi yang selalu terjaga. Jika ketiga unsur tersebut dapat digenggam oleh seorang anak, maka anak dapat memasuki dunia pergaulan yang luas.
Dunia pergaulan tersebut bisa saja merubah karakter seorang anak. Misalnya karena pergaulan yang salah, anak jadi pintar merokok, membolos sekolah, tidak fokus belajar dan yang parah adalah terlibat dalam tawuran. Mempertaruhkan tubuhnya untuk sesuatu yang tidaklah penting. Sangat menyedihkan.
Ibu Indonesia, hanya ibulah yang mampu mencegah terjadinya tawuran tersebut. Buatlah rumah sebagai tempat singgah yang nyaman bagi buah hati. Dimana dia bisa berkeluh kesah, beristirahat, menyalurkan hobi dan bercerita tentang mimpinya kepada keluarga tercinta. Dengan demikian, buah hati selalu dalam genggaman kita. Selalu dalam pantauan kita. Ketika buah hati melangkahkan kaki ke luar rumah, dia tahu, bahwa di rumah ada orang-orang yang dicintainya yang menunggu dengan setia, penuh cinta yang tulus tanpa syarat.




















