CATATAN KECIL DARI SEMINAR BkkbN DAN JURNALIS DI JATENG
Oleh: SitiAminah
Pagi itu masih sangat sejuk. Tapatnya hari senin pukulenam pagi, kami melakukan perjalanan ke Semarang, Jawa Tengah untuk mengikuti acara Pelatihan Jurnalistik dan Keterlibatan Humas BkkbN dalam berbagai Media lokal.Acara itudiikuti oleh seluruhBidang Kehumasan se-Indonesia, jugadilaksanakanpertemuan wartawan dari setiap Provinsi dan Pemerintah Pusat.Kehadiran perserta ketempatitu, jugameramaikan acara Pembukaan Pelatihan, yang bertepatan di Hotel HS Santika Indonesia, Jawa Tengah. Letaknyadi tengah-tengah kota Semarang.
Acarapembukaanitudiselingi olehtari Dolalak,salah satu tarian tradisonal Kabupaten Purworejo yang tercipta karena ada proses alkulturasi barat dan budaya asli Purworejo. Arti dari tarianitu adalah sebagai tontonan yang mengandung tuntunan. Tidak heran, dari setiap pementasannya tarian Dolalak mengandung banyak pesan moral tentang keagamaan, nasehat, kritikan dan jenaka.
Sesaatacaraituberlangsung, para modelis Semarang mengenakan gaun dan batik sebagai ajang pameran baju BkkbN. Postur tubuhnya tinggi,langsing dan berkulitputih itu, bak mengajak semua fotograferberalih kehadapannya. Silauwan lampu kamera, menghiasi aula Hotel tersebut. Selain modelis, ada juga Ginanjar Agung W Unsoed. Salah satu duta mahasiswa yang meraih juara 1 tiangkat Nasional 2011. Iaberasaldari kota Semarang. Tapi sayang, kamera hanya tertuju pada gadis berpostur ideal di setiap lingkaran meja penonton tersebut.
Andi Raharjo, Kepala Kabid Humas Semarang, menyarankan agar setiap Program BkkbN seperti pembentukan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) yang ada di seluruh Indonesia, agar tidak segan-segan membangun komunikasi dengan media manapun. Dan mampu menginsiprasikan hasil dari usaha tersebut sebagai peningkatan dan penyebaran informasi kepada masyarakat luas. Usaha tersebut tidak hanya mensejahterakan rakyat banyak, akan tetapi juga mengurangi tingkat pertumbuhan penduduk di Indonesia khususnya.
Setelahacara, pesertamenjejakkan kaki di pelataran candi yang terletak di Bandungan, menujukelokasi Gedong Songo, udaranya dingin, parawisatawan menikmati perjalannya menuju beberapa candi yang ada di tempat tersebut.
Ketika memandang ke atas akan terlihat gugusan sembilan candi yang berdiri megah dan berpencar –pencar.Candi ini memang dibangun berpencar dan tersusun di atas bukit. Satu bangunan Candi berdiri di atas lahan sendiri seluas sekitar 150 X 30 meter persegi. Bangunan candi ituberurutan, dancandipertama menempati lokasi paling bawah, kemudian berurutan naik dengan jarak bervariasi antara candi pertama, kedua dan seterusnya.
Letak candi tidak berdiri berurutan seperti anak tangga. Antara bangunan yang satu dengan yang lain terkadang berada dalam arah yang berbeda. Tapiurutannya selalu naik ke atas. Saat kita akan berjalan melingkar-lingkar danhendak mencapai bangunan candi berikut.
Bila anda ingin mendaki menikmati keindahan sembilan candi ini baiknya anda mengambil jalan ke kiri setelah melewati gerbang lokawisata. Memang tak ada aturan untuk itu. Namun, dengan demikian pendakian menuju candi berikut akan terus berurutan.
Semakin tinggi kita mendaki matapun takkan lelah memandang. Di kanan-kiri jalan setapak, yang mulus diberi paving block, terlihat pemandangan alam yang indah. Pepohonan pinus terlihat menjulang di kejauhan dengan pucuknya yang seolah hendak menusuk awan-gemawan. Makin ke atas udara makin dingin namun sangat menyegarkan. Kabutpun terus melingkar-lingkar di sekitar kita.
Menapaki bangunan candi dari urutan pertama hingga sembilan memberi kesan tersendiri di hati.Apalagi berjalan sambil menaiki kuda, perjalanan akan lebih bertantangan dan menyenangkan. Jika menaiki kuda, hendaklah mengikuti saran dari pemilik kuda tersebut, jika tidak akan lebih sulit menuntun kuda untuk berjalan sesuai keinginan kita.
Bangunan candi yang kokoh berdiri di ketinggian, udara yang sejuk, kabut tipis yang selalu melayang memberi kenangan eksotis yang tak terlupakan. Candi ini dinamakan Gedong Songo, karena memang terdiri dari sembilan bangunan candi.Dalam bahasa Jawa, Gedong berarti bangunan dan Songo artinya sembilan. Sesuai dengan urutannya candi ke sembilan berdiri anggun di puncak bukit.Katanya bangunan candi yang ke sembilan ini melambangkan perjalanan akhir manusia mencapai kesempurnaannya.
Bentuk bangunan candi bercirikan bangunan dari kerajaan Hindu Nusantara. Di mana setiap bangunan memiliki ruangan untuk tempat pemujaan.Selain bangunan candi, ada obyek lain yang ditawarkan lokawista ini, yakni sumber air panas belerang. Menjelang puncak bukit terdapat beberapa titik sumber air panas yang berbentuk kolam-kolam kecil. Pengunjung bisa istirahat di sini, sambil menikmati pemandangan sekitarnya yang hijau dan dingin basah.
Selain pemandangannya yang indah, disana juga disediakan makanan khas atau sejenis pakaian yang bisa dibawa pulang oleh para wisatawan. Misalnya salak,batrisan,lakokan,dan kelengkeng. Sedangkan pakaian tak lain batik Semarang dan tas yang dibuat oleh Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS)yang dirangkai indah dengan berbagai ukiran yang unik serta mempunyai nilai dan makna tersendiri.
Rahman, salah seorang pemilik kuda di Gedong Songo, mengatakan, setiap harinya pariwisata ini tidak pernah sepi. Apalagi setiap hari sabtu dan minggu, seluruh pengunjung mencoba menaiki kuda ada juga yang berjalan sambil menikmati alam yang berhawa sejuk. Dari segi pendapatan Rahman memiliki peningkatan Rp 150.000 hingga Rp 200.000 per harinya. Setiap orang yang menaiki kudanya akan dibayar sebesar 50.000 Rupiah. Dan berjalan mencapai Empat Kilo dari gerbang Gedong Songo tersebut.
“Dari pada tidak ada pekerjaan lain, saya akan terus bekerja disini. Apalagi kuda ini saya beli sendiri senilai Sepuluh Juta Rupiah per ekor” katanya. Kuda betina milik pak Rahman tersebut bernama Pertiwi. Kebetulan saya sedang menaiki kudanya dan bertanya-tanya seputar tentang kisah Gedong Songo itu.
Tak kalah juga dengan Rida, salah seorang wartawan di Harian Jambi mengisahkan, bahwa ia baru pertama kali naik kuda.Itupun harus menyiapkan mental yang kuat dan mengikuti alunan perjalanan kuda. begitu juga dengan Jurnalis dari Papua Barat Yeni,Andri dari NTB dan jurnalis lainnya, baru pertama kali menaiki kuda. Dari berbagai cerita tak dapat diceritakan oleh semua peserta jurnalis kecuali hanya menyimpan kenangan manis dalam hati masing-masing.
Sri Mutiningsih, selaku kepala BkkbN Jawa Tengah berharap agar setiap media yang ada di daerah Provinsi masing-masing, dapat bekerjasama dengan Kantor BkkbN yang ada didaerah tersebut. Tujuan tersebut mengacu kepada kesadaran masyarakat dan pemerintah pusat guna memperdulikan jumlah penduduk Indonesia yang setiap harinya semakin meningkat. Keterlibatan bidang Humas di BkkbN juga harus berpikir cerdas. Dan mampu menyampaikan informasi tidak hanya lewan lisan, melainkan juga harus berbentuk tulisan”, katanya.




















