• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Hilangnya Integritas Pemimpin

E-mail Print PDF

Hilangnya Integritas Pemimpin

Oleh: Ikhwan

Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam IAIN ArRaniry,

Darussalam, Banda Aceh

Di tengah hiruk pikuknya Aceh sekarang dengan pesta demokrasi PILKADA, terus menjadi sorotan media setiap hari. Hiruk pikuk yang disebut-sebut dengan konflik(regulasi?) yang sampai saat ini belum teratasi dengan baik. Permasalan ini semakin hari semakin serius bila kita mengamati dengan seksama di berbagai media local maupun nasional. Semuanya sangat debatable, penuh perdebatan yang berkepanjangan yang ikut mengganggu rencana yang sudah di buta semula.

Sementara pihak KIP dan Panwaslu Aceh selaku pelaksana dengan konsisten masih melaksanakan tahapan-tahapan PILKADA sesuai schedule yang telah ditetapkan berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai landasan hukumnya. Kelihatan wajarnya, bila hal-hal ini terjadi sebagai bentuk dinamika konflik politik. Namun Opini public pun lahir bermacam ragam bentuknya. Ada yang pro dan ada juga yang kontra sesuai dengan strata intelektualitas masyarakat masing-masing dalam menyikapi pelaksanaan PILKADA Aceh.

Dalam suasana seperti ini, sering kali kita melupakan hal-hal yang lebih serius lagi. Padahal, jauh-jauh hari sudah seharusnya dipikirkan agar tidak terjadi konflik. Namun konflik yang atas nama regulasi ini hanya dimainkan oleh para elit politik yang hanya mengedepankan kepentingan segelintir kelompok tertentu. Akibatnya, jika kita terbawa arus, maka penyelesaiannya takakan kunjung kelar.

Sebenarnya para elit politik kita di Aceh, tidak perlu mencari kesalahan-kesalahan orang lain dengan cara mengkambing hitamkan si pulan atau si pulen. Persoalan mendasar saat ini integritas dan kepribadian pemimpin kita menurun dratis. Bagaimana tidak,, mencuatnya konflik PILKADA Aceh sangat jelas ada udang di balik batu. Jika ditinjau dari istilah rumus bahasa indonesia, tidak mungkin lahir musabab, jika tidak ada sebab. Sebab yang paling urgensi dalam masalah ini adalah mengapa konflik itu terjadi? Ini sangat jelas bahwa arogansi elit politik kita yang tidak bisa dibendungi oleh berbagai pihak. Hilangnya integritas pada elit politik dan pemimpin kita sangat memprihatinkan kita, Karena jika seseorang pemimpin yang tidak lagi mempunyai integritas, maka sikap yang dilakoninya menunjukkan arogansi dan haus akan kekuasaan.

Dalam kondisi seperti ini, harapan kita tertumpu kepada tokoh cendikiawan, baik dari umara dan ulama dimana mereka mempunyai kapasitas intelektual untuk memberikan contoh yang terbaik. Namun demikian, sepertinya mereka juga sudah hilang ruh. Padahal, petuah-petuah mereka dalam memberikan tanggapan dan masukan agar mendapatkan jalan keluar dari konflik ini sangat dibutuhkan. Sayangnya, tanggapan dari beberapa cendikiawan pun tak digubris oleh orang yang mempunyai wewenang. Inilah bukti nyata bahwa elit politik dan cendikiawan Aceh sudah mulai hilang integritas diri, sehingga petuah-petuah yang disampaikan tidak lagi menjadi pembelajaran. Mengapa demikian? Ayo berfikirlah.

Seharusnya, ketika para elit politik kita memiliki integritas yang tinggi, Karena dengan inegritas yang tinggi tersebut, masyarakat akan menghargai dan merasa segan terhadap eksistensi diri para elit politik. Biasanya setiap ucapan atau statemen orang yang berintegritas tinggi tersebut, akan menjadi landasan atau acuan bagi masyarakatnya. Bahkan akan mampu melahirkan sebuah petuah atau pepatah dari orang-orang yang melekat pada dirinya berupa kemuliaan, kewibawaan, ketokohan, ketulusan, kesederhanaan dan dalam kehidupan kesehariannya. Orang yang beritegritas tinggi itu biasanya mampu menjadi sosok manusia panutan, atau sebagai tuntunan, bukan sebagai tontonan. Ihwal inilah yang sudah seharusnya kita pupuk dan kita bina kembali agar menjadi sosok pemimpin Aceh dari masa transisi menuju ke arah pembaharuan yang lebih kreatif, inovatif serta produktif agar terciptanya masyarakat yang sejahtera.

Bila integritas pemimpin dan elit politik di daerah ini baik, maka pesta demokrasi yang kini di depan mata, juga akan baik. Dengan demikian, kelak bisa melahirkan sesosok pemimpin yang mempunyai integritas dan kepribadian yang arif serta bijaksana, mampu membawa Aceh ke arah yang lebih baik. Selain itu, masyarakat sebagai pemilik suara, harus diberikan hak pilih sepenuhnya. Biarkan rakyat yang memilih siapakah gerangan sosok pemimpin yang sudah menjadi pilihan hati nurani mereka. Hak pilih masyarakat kita hari ini sangat menentukan nasib Aceh untuk lima tahun kedepan. Oleh sebab itu, maka diperlukan kejelian dan kehati-hatian, serta kecerdasan politik masyarakat dalam memilih sosok pemimpin ideal yang memiliki integritas yang tinggi. Biasanya pemimpin yang berintehgritas tinggiakan selalu menyelaraskan antara kata dan perbuatan. Seperti yang dikatakan Andrian Gostik dan Dana Telford bahwa integritasitu adalah konsistensi antara tindakan dan nilai. Orang memiliki integritas hidup sejalan dengan nilai-nilai prinsipnya. Kesesuaian antara kata-kata dan perbuatan merupakan hal yang esensial. Jika seseorang tidak lagi memegang kata-katanya, hubungan fundamental yang berkaitan dengan kepercayaan seperti perkawinan yang tidak harmonis lagi maka akan berada diambang kehancuran rumah tangga. Jika sebuah pemerintahan tidak lagi menghargai atau menghormati segala komitmennya, maka tidak mungkin sebuah pemerintahan akan berkembang. Karena pada dasarnya kontrak politik di mana salah satu pihak menyediakan pelayanan dengan keyakinan bahwa pihak lain akan memberikan kompensasi dimasa depan, maka niscaya tidak terjadi jika janji-janji selalu diingkari. Begitu jugalah sesosok seorang pemimpin yang harus membangun kepercayaan, kejujuran, ketulusan, kearifan dan kebijaksanaan kepada umat dalam mewujudkan integritas bangsa Aceh yang bermartabat serta penuh wibawa di mata publik. Wujud dari pemimpin yang berintegritas tinggi adalah tidak munafik. Artinya orang munafik, koruptif dan manipulative adalah sosok pemimpin yang telah kehilangan integritas diri.

 

 

Top Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

ARTICLE


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday55
mod_vvisit_counterYesterday684
mod_vvisit_counterThis week3134
mod_vvisit_counterLast week4685
mod_vvisit_counterThis month15624
mod_vvisit_counterLast month25038
mod_vvisit_counterAll days850042

Layanan Iklan POTRET

 

Polling

Bagaimana menurut anda POTRET Edisi 53?