Antara sayuran hijau dan Hamil anggur
Oleh : Mohd Andalas,dr SpOG.FMAS
Kepala bagian obgyn Fakultas Kedokteran Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh
Makanlah makanan 4 sehat dan 5 sempurna, suatu ungkapan yang kita fahami sejak dari jenjang pendidikan sekolah dasar. Kita dianjurkan makan makanan yang kaya akan protein, karbohidrat, lemak dan tambahan suplemen seperti vitamin dan mineral. Salah satu vitamin yang dibutuhkan adalah vitamin A sebagai bahan baku utama retinol. Retinol dibutuhkan juga untuk penglihatan. Tetapi tahukah anda retinol ini diperlukan bagi perempuan, karena penelitian terbaru menunjukkan dengan kadar darah seorang perempuan kaya akan kadar retinol bisa mencegah seseorang menderita hamil mola (hamil anggur). Seperti Penelitian Prof Dr.Andrijono,dr,SpOG(K) Konsultan bedah tumor kebidanan FKUI/RSCM, yang dipaparkan pada kuliah tamu di auditorium RSUZA,22 juli lalu.
Ada hal yang menarik yang disampaikan Prof. Andrijono, yaitu dengan banyak makan sayur-sayuran yang kaya akan retinol, suatu zat yang ada dalam sayuran hijau akan mencegah seorang perempuan terkena hamil anggur (molahidatidosa), hasil Penelitian itu baik secara epidemiologic maupun secara laboratorium, menunjukkan hasil perbedaan yang cukup bermakna. Penelitian itu juga mendapatkan data bahwa perempuan yang terkena hamil mola umumnya jarang makan sayur.
Kasus hamil anggur(MOLAHIDATIDOSA) banyak terjadi di Aceh. Mungkin saja ini berhubungan dengan keadaan penduduk Aceh kurang suka makan sayur. Padahal sayur-sayur segar yang sehat cukup banyak di Aceh. Sebaiknya para perempuan dewasa terutama jelang menikah biasakan makan sayur-sayuran yang bersih. Bila perlu masaklah dengan setengah matang supaya vitaminnya tak rusak. Sarannya, makanlah sayur-sayuran. Tentu harus sayuran yang bersih dan sebaiknya dimasak.
Apa itu hamil mola?
Hamil mola itu adalah suatu pertumbuhan abnormal dari konsepsi dimana jaringan tropoblast (cikal bakal plasenta) tumbuh abnormal. Pada kasus tertentu, terdapat janin juga yang dikenal dengan mola parsial.
Apa yang ditakutkan dari hamil mola, yaitu berkembang hamil mola menjadi penyakit tropoblas ganas (PTG), bila tidak mendapat terapi yang tepat dan benar. Penyakit molahidatidosa ini sampai saat ini belum diketahui penyebab pastinya, tapi sering dihubungkan dengan factor kromosom y dari bapak (paternal). Hamil mola Bila mendapat terapi yang benar sembuh sempurna karena sangat sensitive dengan terapi obat anti kanker(metotrexat). Akan tetapi bila tidak mendapat terapi yang baik bisa menyebar ke organ tubuh lainnya, misal paru. Hampir 80 persen hamil mola sembuh sempurna.
Gejala awal hamil mola ini adalah rahim membesar tidak sesuai dengan usia kehamilan, keluhan perdarahan, dengan keluar gelembung mola seperti telur ikan dan bila di dengar Pada rahim yang besar tadi dengan alat deteksi jantung janin, detak jantung janin tidak terdengar. Diagnosa hamil mola saat ini sangat mudah ditegakkan dengan bantuan alat ultrasonografi(USG).
Pencegahan dan diagnosa.
Maka sebaiknya setiap perempuan mencegah terjadinya kehamilan mola (anggur) dengan perbanyak makan sayur dan lakukan pemeriksaan kehamilan ke dokter, bila besarnya rahim tidak sesuai usia kehamilan. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan segera bila ada keluhan perdarahan pada kelompok ibu hamil muda, atau rutin dilakukan pada usia kehamilan 3 bulan pertama guna mengetahui bila ada hal lain yang tidak dinginkan. Misal hamil dengan kelainan bawaan, sebab kelainan bawaan berat bila diketahui awal bisa dilakukan abortus provokatus medisinalis ( evakuasi hasil konsepsi atas indikasi medis).
Pengobatan.
Seseorang yang terkena hamil anggur (hamil mola) setelah mendapat terapi dapat hamil kembali dalam 6 bulan. Dikatakan sembuh bila kadar beta korionik gonadotropin(BhCG) kurang dalam darah kurang 5 IU. Selama pengobatan tidak dianjurkan menggunakan kontrasepsi hormonal atau kontrasepsi dalam rahim karena bisa berakibat adanya keluhan keluar darah. Keluhan adanya perdarahan banyak dan menetap merupakan tanda awal keganasan hamil mola, sehingga bila mendapat kontrasepsi yang menimbulkan perdarahan dapat meragukan keberhasilan terapi.







