BILA PEREMPUAN MEMIMPIN
Oleh : Zulnila
KPUK : Bungong Bineh Pasi
Kecamatan Tangan-Tangan, Aceh Barat Daya
Ketidakadilan yang dialami oleh perempuan selama ini sangat banyak bentuk dan bidangnya.Misalnya di bidang ekonomi, perempuan mencari uang dianggap hanyalah untuk dirinya sendiri atau hanya sebagai nafkah tambahan. Anggapan dan perlakuan semacam ini menyebabkan hasil pekerjaan perempuan tidak diperhitungkan. Padahal, bila kita teliti dan analisis secara mendalam, kita temukan banyak pekerjaan perempuan itu sebagai pencari nafkah utama. Bahkan penghasilannya bisa lebih besar dari suami. Namun tetap saja tali kendalinya pada suami. Kondisi ini terus berlangsung di dalam masyarakat kita karena perempuan bersikap tidak kritis. Perempuan, juga karena diaanggap tidak punya kemampuan analitis. Maka perempuan hanya diserahi pekerjaan yang bersifat teknis dan rutinitas di rumah.
Banyak pandangan lain yang ditujukan kepada perempuan. Misalnya, ada anggapan bahwa perempuan itu hanya mengikuti emosi atau gampang marah, sehingga tidak dapat memimpin dan oleh karena itu harus di tempatkan di posisi yang tidak penting. Jadi perempuan di mata masyarakat terutama di kaum laki-laki, dianggapnya remeh tidak berani untuk maju ke depan, mengeluarkan suara. Padahal kaum perempuan juga sanggup memainkan peran sebagai pemimpin, bahkan untuk memecah persoalan yang di hadapi oleh anak laki-laki.
Persoalannya hingga saat ini, belum tumbuh kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan perempuan. Mengapa demikian? Bagaimana perempuan bisa pemimpin, bila kaum perempuan masih didera persoalan pathriarkhis, karena masih lemahnya perekonomian orang tua. Sebagai contoh di sebuah rumahtangga diutamakan pendidikan tinggi anak laki-laki, anak perempuan putus sekolah karena ekonomi keluarga tidak mencukupi kalau menyekolahkan kedua-duanya. Maka laki-laki punya kesempatan pertama dibandingkan anak perempuan. Nah disini saja sudah bisa kita lihat bahwa pemimpin diberi kesempatan pertama pada anak laki-laki, sedangkan kesempatan anak perempuan belakangan.
Banyaksekali ketidakadilan terhadap perempuan yang bersumber pada anggapan keliru yang diberikan kepada perempuan. Di dalam masyarakat, orang heran kalau anak perempuan itu sering-sering keluar rumah. Dianggap itu macam-macam, bahkan heran kalau perempuan keluar rumah tiap hari dan bertanya-tanyadi dalam hati kemana si perempuan itu pergi. Apalagi kalau ia berstatus janda. Ia sering dianggap sebagai penggoda. Jadi, di dalam masyarakat beranggapan bahwa perempuan bersolek dianggapnya memancing lawan jenis. Kadang si janda itu keluar hanya menuntut ilmu diluar rumah atau kejadian yang lurus.
Makanya di mata masyarakat, terutama kaum laki-laki perempuan seringdiremehkan. Padahal ada banyak perempuan yang sanggup membiayai keluarganya ataupun lebih mapan secara ekonomi di bandingkan suaminya. Namun, di zaman sekarang ini, sebenarnya sudah semakin banyak perempuan yang memperlihatkan kemampuan kepemimpinannya. Ada yang menjadi ahli ekonomi, bahkan ada yang menjadi presiden seperti Megawati. Kini, di tingkat desa, ternyata perempuan bisa membukikan keberhasilannya sebagai kepala desa. Di lingkungan pendidikan juga ada yang menjadi kepala sekolah. Ini adalah bukti, bahwa kalau perempuan mau jadi pemimpin, boleh jadi pemimpin tidak menyalahi agama dan pimpinan juga bukan menjadi kodrat laki-laki dan perempuan, tetapi merupakan konstruksi sosial yang dibuat dan dipelihara oleh manusia dalam kehidupan masyarakat.
Pandangan lainnya menyatakan bahwa kepemimpinan laki-laki tidak mutlak tetapi bersyarat. Apabila perempuan lebih unggul, maka laki-laki harus memberikan jalan bagi perempuan untuk menjadi pemimpin. Bisakah?






















