CCDE - Center For Community Development and Education
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

E-mail Print PDF

Akhir sebuah Penantian

Perkenalanku dengannya bermula pada suatu acara seminar yang berlangsung dikota tempatku menetap. Kebetulan aku adalah sebagai pemateri pada seminar itu, seminar yang membahas bagaimana mengangkat kaum perempuan dai ketinggalan kemajuan tekhnologi dan peradaban sosial saat ini. Beragam peserta yang hadir, dari istri pejabat hingga perempuan karir. Kutebar pandang keseluruh sudut ruangan sebelum acara dimulai oleh Moderator.

Pandanganku terhenti pada satu sosok peserta duduk manis disudut ruangan seminar, wajah lembut merona merah terkena sinar matahari yang menerobos masuk lewat jendela. Perempuan dengan penuh kesederhanaan tapi mengagumkan, menebar pesona yang sulit untuk dilupakan, diikuti acara demi acara dengan begitu antusias. Terakhir ku tahu namanya “ Nayma sebuah nama yang sangat indah, bathinku dalam hati.

Nayma, bukanlah perempuan intelektual berkarir mapan, dia hanya perempuan kebanyakan, perempuan desa yang berjuang untuk mengangkat martabat perempuan daerah yang masih terkotak pada tradisi kuno.

Hari terus saja berjalan meninggalkan waktu, kesibukan dan rutinitas hampir mrmbuatku melupakan sosok mengagumkan, nayma, kalau saja ibuku tidak mengingatkanku soal pernikahan. Nayma kemana aku akan mencarimu, kau hilang bagai mendung dihapus hujan.

Yos....usiamu sudah berkepala tiga, kapan kamu akan berumah tangga...?

Rumah ini terlalu sepi buat ibu, apalagi bila kamu pergi keluar kata, ibu sudah sepi semakin tuakata ibu, itulah perkataan ibu ibu setiap kali melihat wajahku.

Aku hanya bisa mengucap dalam hati, maafkan aku bu, aku belum bisa memberikanmu seorang menantu karena cintaku tergadai pada seorang gadis yang ku tak tahu dimana rimbanya.

Sudahlah bu, suatu saat nanti bila tiba waktunya akan kubawa seoarang menantu yang cantik dan yang baik hati dirumah ini. Itu saja alasanmu setiap kali ibu bicara. Kulihat kekecewaan tergambar diraut wajah tuanya, ibu memang selalu sendiri sejak ayah berpulang menghadap ilahi.

Ya Rabbi....

Ku tatap wajah ibu yang sudah mulai berkerut namun maih menyisakan kecantikan masa mudanya. Ibu dengan cekatan menggemasi barang-barang bawaanku tiap kali aku akan berangkat keluar kota diundang untuk memfasilitasi pada acara seminar atau workshop. Pesawat yang aku tumpangi sudah mendarat di bandara kota tujuanku. Penerbangan satu jam dari Halim perdana kusuma terasa cukup melelahkan, kita masih harus melalui perjalanan darat selama kurang lebih delapan jam untuk sampai dilokasi seminar sebab disana belum ada bandara yang bisa dilandasi pesawat berbadan lebar, rombongan panitia mencoba menjelaskan padaku, saya hanya menjawab tidak apa, saya bisa mengerti, jawab saya singkat.

Kunikmati perjalanan ini dengan rasa takjub, udara yang bersih dimana hutan masih alami, aku membatin “ mungkin tidak ada mafia kayu disini, sehingga tidak terjadi ilegal logging “ pemandangan ini tidak pernah kutemui ditempat tinggalku, hanya ada gedung-gedung yang menjulang tinggi pencakar langit. Rumah dengan pagar tinggi beton tinggi untuk mempertegas atatus sosial pemilik rumah.

Tanpa terasa telah sampai ke tujuan, panitia mempersilahkan aku untuk beristirahat karena memang seminar masih sehari lagi dimulai, jadi masih ada waktu untuk berkeliling menikamati keindahan panorama pegunungan. Udarannya yang bersih dimana hutan masih membuat perasaan begitu damai tidak seperti dikota-kota besar, dimana cerobang asap dan limbah pabrik yang mencemari lingkungan , hal ini seperti kamuflase, benang kusut yang tak pernah terurai sebab sebab pandainya para pengusaha membekap mulut aparatur pemerintah dengan segepok uang disebabkan mental korup para pembuat kebijakandan mengambil keutusan di negeri ini.

Selamat pagi pak Yos...! bagaimana istirahatnya sapaan lembut itu bagai nyanyian merdu ditelingaku. Buru-buru kupalingkan wajah mencari asal suara. Subhanallah, begitu sempurnanya ciptaanmu Ya Allah. Hatiku berdecak kagum, detak jantungku seolah berhenti terpana dengan sosok seorang wanita dihadapanku. Aku hanya diam membisu ketika dia mengulurkan tangan.

Bapak masih ingat sama saya, nama saya Nayma, kita pernah bertemu sebelumnya. Bagaimana aku bisa melupakannya, wajah dan namanya telah terpatrai di hatiku, Nayma adalah sosok sederhana yang kukaumi dulu disudut ruangan seminar. Terakhir ku tahu namanya Naymalah penyelenggara seminar itu.

Sudahlah Yos... biarkan Nayma beristirahat dengan tenang, jangan kita usik ketenangannya dengan isak tangis dan air mata. Irma sepupu nayma menyadarkanku dari lamunan, kini dihadapanku hanya ada seonggok tanah merah dengan nisan tertulis nama Nayma disitu. Sebutir peluru menembus jantungnya ketika kami melangkahkan kaki keluar dari mesjid seusai mengucapkan ijab khabul ikrar untuk hidup bersama.

Nayma menjadi target pembunuhan dari konflik yang berkepanjangan didaerah itu. Kupeluk tubuh nayma seakan tidak ingin melepaskannya, darah segar membasahi gaun pengantin yang dikenakannya. Perempuanku telah pergi, menemui kekasihnya yang abadi.

Oleh : Susanna

Kpuk : Bungong han layee

Alamat : Perum Ujong batee

 

Comments (0)
Only registered users can write comments!