NASIHAT UNTUK NYAK MAH Oleh: Ade Oktiviyari*
Nyak Mah mengunyah sirihnya berlahan-lahan. Barang dagangannya itu kini harus dihabiskannya sendiri. Telah seharian ia berteriak-teriak bersama puluhan pedagang lain di perkarangan luar Mesjid Raya, menawarkan dagangannya, tapi belum ada yang membeli. Nyak Mah menatap beberapa orang pengemis yang duduk di pintu depan mesjid.
“Enak kali mereka, tak kerja, malah dapat duit lebih banyak dari kita.” Lenguh Bang Ucok, imigran dari medan, mengikuti arah pandangan Nyak Mah. Nayak maha hanya tersenyum pahit sambil mengulum sirihnya.
Hari bertambah sore, adzan ashar telah berlalu dari tadi. Nyak Mah menutup dagangannya, mengemasi sirih dan kapur, lalu membuka dompet hitam kumalnya. Uang yang dia peroleh hari ini bahkan tidak cukup untuk pulang. Rumahnya di Krueng Cut, dua kali naik labi-labi.
“Galom jak wo Nyak Mah?”
Nyak Mah menoleh. Pandangannya tertumbuk pada perempuan tua seusianya yang memegang ember kecil rombeng.
“Bentar lagi. Dapat banyak, Nyak?”
“Han. Lebih sedikit dari biasanya. Makin tat kriet ureng aceh.” Di tangan nenek itu tergenggam seikat uang kertas. Saat ia menggerakkan tangannya, terdengar suara gemerincing dari ember di tangannya. Nyak Mah menelan ludah. Mungkin uang yang dipegang nenek itu sama dengan penghasilannya seminggu.
Nyak Mah berlalu. Berdoa dalam diam agar dapat sampai ke rumahnya hari ini.
“Kita tidak boleh berjualan disini lagi!” Belum sempurna matahari setinggi tombak, Bang Ucok telah datang. Berteriak-teriak dengan nada marah.
“Pakon bang?” ramai-ramai para pedagang mengerumuni bang Ucok. Dengan bahasa Aceh berlogat medan bang Ucok menjelaskannya. Wajahnya merah padam. Berkali-kali ia menyembur orang-orang di sekitarnya.
Perlu waktu lama bagi Nyak Mah untuk paham. Pasar akan dibangun kembali oleh Pemda. Diperluas dan diperindah agar lebih nyaman. Nantinya, di tempat mereka kini berdagang akan ada sebuah pusat perbelanjaan. Orang-orang yang ingin membuka lapak di situ harus menyewa. Dan mereka yang kini menempati lahan itu, harus pindah dalam tempo tiga hari!
“Kemana Bang? Bukannya dulu mereka juga yang memberikan kita tanah ini untuk berdagang?” Tanya Nyak Halim, perempuan berselendang merah itu berapi-api, sambil menyemburkan ludah kemerahan.
“Tak paham pula aku!” Bang Ucok kembali marah-marah. Kali ini dengan bahasa Indonesia yang bercampur bahasa Aceh. Intinya, dia mengatai orang-orang Pemda yang tukang menguras perut rakyat, rakus, dan tidak konsisten.
“Sebentar A sebentar B mereka itu!”
Setelah ribut-ribut nyaris sejam lamanya, perlahan kerumunan mulai bubar. Mereka kembali ke lapaknya, melayani pelanggan yang mulai berdatangan. Nyak Mah juga. Benaknya dipenuhi beragam pertanyaan. Pindah? Kemana juga dia harus pindah? Dia baru menempati lapak ini satu tahun, terhitung sejak tsunami. Dulunya ia membuka kios pakaian di pasar Aceh. Tsunami telah menghancurkan usahanya menjadi puing-puing dan helaian baju robek-robek yang dipungutinya dengan sia-sia. Dan sekarang? Bahkan di tempat yang terbilang strategis ini saja sirihnya tidak laku-laku. Hanya kios ini yang menjadi tumpuan harapan hidup Nyak Mah saat ini. Ia kini sebatangkara, tanpa anak tanpa suami. Jika kios ini tidak mampu lagi menghidupinya, kemana lagi ia harus bersandar?
“Ya Allah… pakon leu tat cobaan udep.” Nyak Mah mengusap wajahnya dengan ujung selendang kuning tipis yang menutupi helaian perak di rambutnya.
“Nyak, lon bloe ranup nyoe.”
“Eh, jeut.” Nyak Mah tergeragap sejenak. Tapi dengan sigap ia melayani pembeli. Membungkus sirih. Menerima uang dan memberikan kembalian.
“Alhamdulillah…” desis Nyak Mah. Ibu-ibu itu membeli sirihnya dalam jumlah yang cukup banyak. Sejenak, urusan penggusuran singgah dari kepalanya.
“Nyak Mah, lon bloe ranup.” Lagi, satu pembeli singgah. Nyak mah mengangkat kepalanya dari kesibukan menghitung jumlah sirih yang tersisa. Nek Yam, seorang pengemis yang biasa mangkal di depan gerbang Mesjid raya.
“Jeut.” Ia membungkus sirih. Saat Nek Yam membuka kantung plastic di tangannya, Nyak Mah melihat lembaran-lembaran biru dan merah berseling-seling dengan warna seribuan yang sangat dikenalnya. Menelan ludah pahit, Nyak Mah menerima kembaliannya. Iseng, ia bertanya,
“Nek Yam, kalau tidak dikasih lagi mengemis di situ mau kemana?”
Nek Yam tersenyum lebar, memamerkan deretan geliginya yang telah bolong-bolong.”Sejak dulu sudah sering diusir kami ini. Tapi nantinya kami kembali lagi, tidak apa kok. Kalau diusir lagi, pergi lagi. Nanti kembali lagi.”
Nyak Mah kembali senyap.
***
Penggusuran, adalah neraka kecil. Sangat mengerikan dan jauh dari kesan manusiawi, begitulah yang tertangkap oleh Nyak Mah saat pertama kali melihatnya.
Puluhan petugas datang. Berteriak-teriak dan mengacungkan pentungan bagi para pedagang yang bawel dan tidak mau pindah. Pemda memang telah menyediakan lokasi lain untuk berdagang. Tapi tempatnya jauh, nyaris di pinggir laut. Mana ada yang mau membeli sirih di sana? Pikir Nyak Mah. Ia bertekad untuk bertahan di situ dan berbicara baik-baik saat petugas datang. Dalam kepala Nyak Mah, yang disebut dengan penggusuran itu hanyalah datangnya orang berseragam ke pasar, lalu meminta mereka pindah baik-baik. Tak disangka, yang disebut penggusuran itu sama dengan pengusiran.
Saat Nyak Mah mencoba bicara, orang itu menghardiknya. Wajahnya bukan wajah Aceh. Tubuh Nyak Mah menegang. Ingat akan suaminya yang dibunuh dalam konflik oleh orang berwajah seperti ini. Ia nyaris tak mampu bergerak. Tidak juga bergerak saat kiosnya mulai diobrak-abrik. Kios yang tersusun dari kepingan-kepingan papan itu dengan mudah rontok. Akhrinya tinggal lembaran-lembaran papan yang seolah digerus dari papan tulis tua. Nyak Mah yang masih kaku dalam ketakutan didorong ke pinggir. Iring-iringan itu bergerak, membawa potongan papan sisa panggusuran.
Beberapa tangan membawa Nyak Mah ke satu sudut. Didudukkan bersama perempuan-perempuan seusianya yang menangis karena kesal, sedih, dan marah bercampur aduk. Menangisi sumber nafkah mereka yang dihancurkan. Padahal dulu kios itu pemberian pemerntah juga. Kenapa kini malah pemerintah yang menghancurkannya?
“Dulu Aceh tidak seperti ini…”
“Iya, menderita juga kita semua masih saudara.”
“Sekarang sesama orang Aceh sudah saling mendzalimi. Inilah kalau pemimpin kita dzalim.”
Suara-suara berseliweran menembus telinga Nyak Mah. Tapi ia tidak lagi berselera untuk menanggapi. Kenapa? Kenapa? Nyak Mah ingin bertanya, tapi dia tidak yakin ada orang yang bisa menjawabnya. Jadi dia diam. Hanya diam.
***
“Nyak Mah?”
Nyak Mah hanya mengangkat kepalanya. Ia sama sekali tidak peduli dengan nada-nada keheranan di sekitarnya. Bahkan dengan pandangan sinis yang bergantian menerpanya, dari ujung selendang hingga ujung sarung batik yang dipakainya. Yang terlusuh yang dipakainya. Ditegarkan hatinya. Biarlah. Jika hidup bisa lebih mudah, kenapa harus susah-susah?
Nyak Mah bukannya tidak ingin kembali berdagang. Biarpun hanya lulusan SD, Nyak Mah mengerti kalau untuk berjualan sirih dia tidak perlu kios. Dia bisa menggelar terpal dan berjualan di trotoar. Tapi dimana? Nyak Mah tidak sanggup lagi menghadapi wajah asing dari kawan orang-orang yang dulu membunuh suaminya. Lagipula, dengan meminta-minta ia bisa mendapat uang jauh lebih banyak dari waktu berdagang sirih. Ia juga tidak usah takut digusur.
Maka mulailah Nyak Mah berpindah. Dari satu lampu merah ke lampu merah lain. Dengan tampang memelas dan ember plastik kecil tergantung di lengan kanannya, Nyak Mah telah bergerak mengumpulkan rezeki lagi. Ia enggan duduk di depan mesjid. Ia masih merasa malu pada Allah jika berdiri meminta-minta di depan mesjid. Karena Nyak Mah sadar, meski usianya telah mencapai setengah abad, tapi badannya kuat dan sehat. Pada orang dia tidak malu, tapi pada Allah, Nyak Mah masih menyimpan malu.
Meski Nyak Mah juga tidak tahu, apa ia masih pantas menyimpan malu.
***
Seminggu, sebulan berlalu. Nyak Mah masih dengan rutinitasnya di persimpangan lampu merah Simpang Lima. Saat itu matahari telah hampir sampai di puncaknya. Siang terasa menengat jalan, hingga sandal jepit yang dikenakan Nyak Mah terasa meleleh. Nyak Mah memutuskan duduk sejenak, beristirahat di bawah pohon asam depan sebuah counter fast food yang iklannya sering muncul di TV.
Nyak Mah duduk sambil mengawasi keadaan sekelilingnya. Mungkin saja akan ada satpam yang mengusirnya. Tapi suasana di sekitarnya masih sepi. Hanya ada seorang kakek yang sedang menggelosor. Di sampingnya tergelar barang-barang dagangan. Sayur bayam, daun melinjo, seplastik jambu, dan beberapa jenis sayuran lain. Dagangannya sedikit, dan sebagian besar daunnya sudah layu.
“Ka na ureung neu bloe?”
Kakek itu membuka matanya. Tampaknya ia nyaris tertidur.”Ehmm…na na. Tidak banyak, tapi Alhamdulillah.” Ia terdiam sejenak, seolah mencoba mengingat-ingat.” Kadang-kadang hana ureung bloe.”
Nyak Mah manggut-manggut, ia tahu benar hal seperti itu. Dilihatnya wajah si kakek. Wajahnya sudah berkerut-kerut. Nyak Mah teringat ayahnya. Kakek ini nyaris setua ayahnya jika masih hidup.
“Kenapa masih jualan Pak? Hana untong lagee nyan.”
Kakek itu tersenyum.” Saya udah tua! Mau ke sawah sudah tidak sanggup lagi. Dari pada hanya diam di rumah, mending saya mencari rezeki di sini. Yang jelas saya tidak mau mengemis. Hana guna nyan! Peumale droe mentong.”
Wajah Nyak Mah seketika mengerut. Ia hanya tersenyum masam. Segera, ia bangkit. Siang tak terasa segerah tadi. Sebelum ia beranjak, kakek itu menyodorkan seplastik jambu.
“Pergilah ke jalan yang lurus Nyak!”
Nyak Mah diam. Di usia setua ini seharusnya dia tidak perlu mendengar nasihat lagi. Teringat ayahnya, yang senantiasa menasihatinya tentang orang-orang yang tidak punya malu, akan hitam mukanya di akhirat. Tapi itu dulu.
Nyak Mah mengambil jambu dari tangan kakek itu.
“Jeut, Pak.”
*Penulis adalah anggota Div. Kepenulisan FLP (Forum Lingkar Pena) NAD
Nama : Ade Oktiviyari
Alamat :Jalan Seulanga Sektor Timur E-2 Darussalam Banda Aceh 23111






















