CCDE - Center For Community Development and Education
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

E-mail Print PDF

 

TERPERANGKAP POLIGAMI

Oleh : Nizarwati

Anggota KPUK Ansarullah – Blang Dalam . Bireuen ,Aceh Jeumpa.

Di kala senja mulai tiba, aku selalu gundah. Selalu saja muncul pertanyaan di benak ku. Apakah penantianku membuahkan hasil atau hanya penantian yang sia-sia. Dan dikala aku lagi sendiri, aku sering ku terbawa ke masa silam yang begitu indah. Sebuah masa indah yang pernah terjadi dalam hidup ku. Tentu sangat manusiawi. Suatu masa di mana aku berjumpa dengan seorang laki-laki yang membuatku jatuh cinta. Sebuah pertemuan yang boleh ku katakan berbunga-bunga.

Dalam beberapa kali pertemuan ku dengannya, aku melemparkan pertanyaan. Aku bertanya, “Bang apa abang belum punya istri ?“. Pertanyaan ku itu dijawabnya dengan begitu cepat dengan berbalik bertanya padaku. Ia bertanya“Apakah kau masih ragu padaku? Pertanyaannya itu kemudian diikuti dengan pengakuannya. „Abang belum punya calon apalagi istri !...“.

Tanpa ragu dan lugu, aku percaya bahwa yang dikatakan itu benar adanya. Beberapa waktu kemudian, Akupun bertanya lagi “Kalau begitu kapan dong kita menikah? Pertanyaan ini aku tanyakan karena aku mulai merasa tidak enak , karena selalu ditanya oleh orang tua ku. Orang tuaku bertanya, kenapa dia selalu kemari? Apa tujuannya dan apa urusannya? Kedekatan ku dengannya menjadi tidak enak di mata tetangga. Apalagi hubungan itu sudah berjalan hampir satu tahun. Abang sering ke rumah“. Pertanyaan ku dijawabnya dengan begitu enteng. "Jika kamu sudah siap , aku siap untuk menikahi kamu“. Apakah orang tuamu sudah setuju dengan pernikahan kita ?“. Ia malah balik bertanya.

Aku merasa bahagia. Apalagi setelah itu ia datang melamar. Kami pun kemudian menikah. Aku benar-benar sangat bahagia. Ya, aku merasa sangat bahagia dan tetesan air mata kebahagian tak tertahankan. Bukan hanya aku, kebahagiaan itu juga dirasakan oleh keluarga ku.

Namun sayang, kebahagiaan itu tidak lama bisa kunikmati. Baru enam bulan usia pernikahan ku dengan suamiku , dia sudah sering tak pulang ke rumah. Aku sering bertanya padanya. Sayangnya, jika hal itu ku tanyakan padanya, maka berbagai alasan keluar dari mulutnya. Begitulah dia selalu berbohong padaku.Aku merasa semakin tidak nyaman dengan perilaku suami ku.

Betapa hancur hatiku dan lemas seluruh tubuhku, ketika suatu hariseorang wanita dan anak kecil datang ke rumahku. Mereka datang membawa cerita yang sangat mengejutkan ku. mereka bercerita tentang suami yang sangat ku sayang dan ku puja. Dari cerita itu, aku menemukan bukti bahwa suamiku bukanlah seorang pejaka. Ia telah memiliki seorang isteri. Karena perempuan yang datang ke rumah ku itu tak lain adalah istri pertama suamiku. Sanggupkah anda mendengar penjelasan dari seorang laki-laki yang punya dua istri ?.......

Betapa bodohnya aku. Kebodohan ini tidak kurasakan tatkala pertama kali aku bertemu dengan suamiku. Kini aku benar-benar menyesal. Benar. kini tak henti-henti penyesalan di hatiku. Ternyata, cintaku yang tumbuh pada suamiku telah merusak rumah tangga orang. Aku telah merenggut kebahagiaan perempuan lain. Bukan hanya itu, aku juga telah merenggut kebahagian anak yang sangat membutuhkan perhatian sang ayah. Kini seperti buah simalakama. Tanpa disadari dan tanpa aku tahu, ternyata aku dimadu (dipoligami). Aku merasa sangat pilu karena aku tahu bahwa diriku telah berbadan dua. Rasanya tak sanggup lagi untuk menghadapi kenyataan yang sangat memilukan ini. Apa yang harus aku lakukan?

Kini aku selalu berdo’a dan memohon kepada Allah SWT, agar diberi kekuatan lahir dan batin untuk menghadapi semua ini. Dan keluargakupun begitu terpukul saat mendengar berita yang memilukan hati. Dengan sabar aku menunggu suamiku pulang , yang tak pernah pasti sampai kapan ia kembali……..

 

Comments (0)
Only registered users can write comments!
Last Updated ( Wednesday, 18 November 2009 07:33 )