KEMISKINAN BERBUAH KEKERASAN
Oleh : Jumaria
Kemiskinan dalah sumber yang dijaga dan dipelihara, agar senantiasa hidup dan berkembang menjadi kesusahan dan kemelaratan. Begitulah yang dipaparkan dalam sebuah puisi karya Idrus K.Rani. Ia berani mengatakan demikian, karena sekarang ini pemerintah ataupun pejabat-pejabat tinggi membiarkan kemiskinan merajalela di negeri ini.
Pemerintah tidak berusaha menuntaskan kemiskinan, melainkan memupuknya agar lebih subur dan memperoleh benih yang banyak. Padahal semua kita tahu bahwa kemiskinan dapat menjerumuskan manusia untuk dapat melakukan tindak kekerasan bahkan tindak kriminalitas. Kemiskinan juga membuat kehidupan bangsa ini menjadi kufur dan sebagainya. Semua ini terbukti. Kenyataannya, dimana-mana, hampir di setiap pelosok sedang diguncang dengan kejahatan. Semuanya itu disebabkan karena kemiskinan. Kita semakin sering mendengar berita kekerasan yang terjadi sebagai akibat dari kemiskinan. Ada tindak kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan ( isteri ), karena tidak sanggup mengatasi kondisi kehidupan yang miskin. Juga dalam banyak kasus, perempuan terpaksa melakukan tindak kekrasan dan pembunuhan terhadap anak, karena kesulitan ekonomi dan sebagainya.
Mungkin para pembaca masih ingat dengan apa yang terjadi di Jawa Tengah.sebuah kasus pembunuhan. Seorang anak membunuh ibu kandungnya karena tidak sanggup memberikan sepatu sekolah. Dalam kasus lain, seorang istri tega membunuh suaminya, karena dia merasa suaminya tidak sanggup menafkahinya lagi. Dengan kejadian seperti ini apakah tidak terketuk hati orang-orang kaya untuk membantu orang miskin? Apakah kita tidak bisa memahami makna kemiskinan yang dialami oleh sebagian besar rakyat di negeri ini?
Andai kita bisa memahmi apa yang ditulis oleh Syekh Ali ahmad Al Jarjawani dalam kitab Hikmah at- Tasyri. Wafalsafatahu mengatakan : orang miskin adalah orang yang memiliki bahan makanan satu hari saja. Sementara orang fakir adalah orang yang tidak memiliki selamanya. Golongan-golongan dari merekalah yang dalam al-quran dianjurkan untuk mengambil sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu bersihkan dan mensucikan diri (Qs at-Taubah : 103)
Andai pula kita sadar, sebenarnya harta ini hanyalah milik Allah. Manusia hanya bisa mencicipinya sesaat saja. Kalau tidak sanggup memanfaatkan harta maka manusia akan celaka. Allah memberikan rizki kepada hambanya yang mau berusaha, supaya dia bisa membantu orang-orang yang membutuhkannya.
Kini haruskah kita menunggu orang-orang miskin bertanya kepada mereka yang kaya? Akankah kita mau menjawab kalau orang miskin bertanya, Apakah mata orang kaya itu buta atau hatinya yang buta? Tentu hal ini akan sulit kita jawab. Namun, sebelum kemiskinan menjadi biang terjadinya tindak kekerasan, baik terhapan laki-laki, terhadap anak dan terhadap perempuan, selayaknya pemerintah dan orang-orang kaya mau membuka hati nurani, membantu mengentaskan kemiskinan yangterjadi di di negeri ini. Dengan cara ini tindak kekerasan dan kriminalitas di negeri ini akan bisa diatasi. Jangan sampai orang miskin berkata, sesungguhnya yang buta adalah mata hatinya bukan matanya, mata bisa melihat tetapi hatinya yang tidak bergerak. Maka, seandainya hati orang-orang kaya terbuka maka angka kemiskinan tidak akan merajai bangsa ini, tindak kekerasan dan kriminalitas pun akan berkurang. Kalau budaya kekerasan dan kriminalitas bisa dikurangi, konsekwensinya adalah para pejabat dan orang-orang kaya juga akan bisa hidup dengan nyaman, tanpa ada gangguan dengan tindak kekerasan dan kkriminalitas. Mari kita berfikir.






















