Cemburu Membawa Maut
Halmahera – Aceh jaya
Di desa Panton, desa yang sangat ramai penduduknya dan berdekatan dengan Keude Teunom, suatu sore terjadi pertengkaran yang menghebohkan di dalam sebuah rumah tangga. Saat itu sang Istri sedang duduk-duduk di sebuah warung dekat rumahnya sambil makan pisang goreng bersama beberapa temannya. Ia ngidam makan pisang goreng karena sedang hamil sekitar 4 bulan. Ia duduk ramai-ramai bersama temannya sembari berbincang – bincang. Diantara teman-temannya itu ada juga yang laki-laki. Saat berbincang-bincang tersebut, sang suami pulang dari Keude Teunom. Ia melihat istrinya sedang bercanda tawa dengan teman temannya. Bak disambar petir saja, sang suami naik pitam . Ia marah dan langsung pulang.
Merasa suaminya sedang marah, lalu sang isteri menyusulnya masuk ke dalam rumah. Sang Istri bertanya di dalam hatinya kenapa suamiku mukanya seperti orang marah? Ada masalah apa gerangan?. Melihat wajah suami yang merah, lalu si istri bertanya “ada apa bang? Apa ada masalah?”. Suaminya menjawab sambil membentak, “masalah apa! masalah Bapakmu!” Lalu istrinya menjawab “Kalau marah sama aku jangan bawa-bawa nama bapak ku. Karena bapakku sudah meninggal. Kalau marah ke aku saja”.
Dalam keadaan marah, sang suaminya bertanya, “kamu tadi ngomong apa sama laki-laki itu? kelihatannya kalian berdua sangat mesra”. Lalu istrinya menjawab “apanya yang mesra aku tadi hanya bercanda dengan mereka. Mengapa abang cemburu?, padahal mereka tetangga kita. Aku tidak mungkin selingkuh dengan mereka. Lagipula disana banyak teman yang lain. Mana mungkin aku selingkuh bang! Sedangkan aku sedang hamil”.
Kemarahan sang suami kian bertambah, Lalu sang suamipun mulai bermain kasar. Ia menampar dan menyepak istrinya . Bukan hanya itu, ia juga berbicara kasar. “Dasar kamu anak keras kepala!”. Merasa kesakitan, sang istri berteriak, “jangan pukul aku!.., aku tidak pernah selingkuh dengan mereka. Aku berani bersumpah. Aku tidak pernah selingkuh. Kenapa otak abang kotor sekali berfikirannya?”.
Menjelang magrib, sang istri pergi ke sumur untuk mengambil wudhu. Sesudah mengambil wudhu dia masuk lagi ke kamar dan ia melihat suaminya sedang berbaring di tempat tidur. Istrinya pun langsung shalat. Disaat ia shalat suaminya pergi ke dapur mengambil pisau. Dalam keadaan marah, ia masuk ke kamar melihat istrinya sedang shalat. Saat it pula tanpa balas kasihan, ia menusuk istrinya lewat belakang sebanyak tiga kali. Puas melepas amarah, suaminya lari entah kemana. Istrinya jatuh ke lantai. Darah mengucur deras dari punggungnya karena tikaman pisau. Dalam keadaan tertatih-tatih dan sisa tenaga yang ada ia berteriak minta tolong. Lalu datang tetangga dan menemukan perempuan malang itu sudah terkapar berlumuran darah dalam keadaan sudah tak sadarkan diri. Ia dilarikan ke rumah sakit Padang Kleng dan tetangga itu melaporkan ke Polsek Teunom. Semua anggota Polsek mencari suaminya, beberapa jam kemudian pembunuh itu langsung datang sendiri ke kantor Polsek Teunom. Rupanya ia sudah menyesali perbuatannya dan ia menangis tersedu sedu. Polisi langsung menangkap si pembunuh itu. Buah dari kecemburuan dan tindakan kekerasan itu, sang suami mendekam di penjara hingga sekarang. Ia harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya yang terbukti telah membunuh istrinya sendiri karena api cemburu itu.






















