CCDE - Center For Community Development and Education
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

E-mail Print PDF

AKU TERPAKSA MENIKAH DINI

Oleh : Deska Nora

Deska Nora adalah anggota kelompok Perempuan Usaha Kecil (KPUK )Damai-Ujung Batee. Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar

Ketika ibuku meninggal kami masih kecil-kecil. Kami merasa sangat sedih. Apalagi ayah kami waktu itu pergi merantau. Kamipun tidak tahu di mana ayah berada. Aku mamsih ingat, kala itu setelah pemakaman ibu, kami diambil oleh sanak famili ibu yang berada di Meulaboh. Adikku dibawa ke Medan ikut kakak ibu. Sementara aku sendiri ikut tante yang menurutku kejam dan judes. Waktu itu aku baru duduk di kelas dua Sekolah Dasar. Disitulah aku tahu betapa kejamnya tante sendiri.

Menjelang pagi hari aku sudah bangun dan menyiapkan apa yang menjadi kebutuhan anaknya sekolah. Setelah semuanya selesai, baru kemudian aku bisa berangkat ke sekolah dengan perut lapar. Tanpa jajan aku mengayunkan langkah dengan lunglai dan perarasaan sedih. Pada siapa aku harus mengadu? Kadang ingin rasanya aku menjerit. Ya Allah sampai kapan penderitaanku akan berakhir....? Begitu perasaanku menjerit saat itu.

Kuelwati hari hari dengan perasaan sedih. Hari berganti hari, bulan berganti tahun. Suatu ketika, kala itu datanglah seorang perempuan yang masih duduk di bangku Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Dia menawarkan aku untuk ikut dengannya. Dan dengan senang hati akupun ikut dengannya. Rasanya hidupku sangat bahagia karena telah datang seorang penyelamat dalam hidupku yang sudah lama kunanti. Akhirnya ikut dengannya. Aku tinggal di daerah Panga dan aku diangkat menjadi anaknya. Pada tahun 1988, aku dinikahkan dengan abang angkatku dimana aku tinggal dulu. Padahal aku masih ingin sekolah. Tetapi apa dayaku, karena aku tinggal di tempat orang. Ingin aku mencapai cita-cita seperti orang lain yang sukses dalam pendidikannya. Namun tidak berdaya.

Tahun 1989, aku melahirkan anak yang pertama. Waktu itu umurku masih empat belas tahun. Aku belum pernah dan tidak tahu cara mengurus anak. Tetapi itu sudah menjadi kewajiban buatku. Kadang aku pergi ke tempat abang. Tetapi dia tidak mau menerima kami, karena kami beda agama. Ayahku berdarah Cina dan ibu berdarah Aceh. Apakah karena kami beda agama? Tetaapi apa salahku, sehingga aku diasingkan dari mereka?

Kini, setelah perkawinanku berjalan tigabelas tahun, aku mempunyai 4 orang anak. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Syukurlah, kami saling sayang menyayangi dan kamipun hidup penuh dengan kebahagiaan. Namun Allah, begitu cepat memanggil orang yang kusayangi. Pada bulan Agustus 2001, orang yang kusayangi menghembuskan nafasnya yang terakhir. Bagaikan hujan yang turun tanpa mendung. Kemana aku membawa anak-anakku yang masih kecil-kecil. Dalam hati kecilku mengatakan apa sanggup diriku memberi nafkah untuk sibuah hati yang malang ini?

Memang sedih waktu itu, aku belum tahu bagaimana cara mencari uang dan bekerja. Kucoba mengadu nasib ke Makasar, disana aku menjual sandal dan sepatu. Itu kulakukan selama satu tahun dan aku tidak sanggup lagi dirantau orang. Aku fikir, dengan sisa uang yang sedikit aku mengambil jalan pintas untuk pulang ke Aceh. Dua tahun sekembalinya aku ke Aceh terjadilah gempa dan tsunami. Waktu itu dan anak-anakku berada di kota. Mungkin ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Aku mengambil keputusan pergi membawa anak-anakku keluar dari Banda Aceh, karena anakku ketakutan dan sangat trauma bila terjadi lagi gempa susulan. Dengan baju yang melekat di badan aku berangkat ke Medan. Di sana itu secara tak sengaja, bertemu dengan adik kandungku yang telah lama berpisah saat dia masih bayi. Sedangkan aku masih sekolah TK Pancasila di Peunayong.

Kini merasa bersyukur dan mengucapkan Alhamdulillah kepada Allah. Aku sampai saat ini aku masih diberikan umur panjang dan bisa mencari pengalaman untuk berbisnis. Apalagi ada organisasi yang mau membantuku. Aku mengenal CCDE yang telah mengajarkan perempuan untuk terus maju. Disitulah aku mencari pengalaman hidup. Aku mengucapkan terimakasih kepada CCDE yang telah membangkitkan semangat ku dan kaum perempuan untuk maju. Kini aku bisa membuka lembaran kehidupan dengan cara berbisnis. Mari bersama-

Comments (0)
Only registered users can write comments!