CCDE - Center For Community Development and Education
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

E-mail Print PDF

 

BAHAGIA BERSELIMUT DUKA

Dari: Y. N.-Lancak-Bireuen

Diceritakan kembali oleh: Yurdani Is

KPUK : Delima Lipah Rayeuk-Bireuen.

Pembaca POTRET yang setia, ini adalah kisah nyata yang dialami oleh sahabatku sendiri. Kami berteman sejak SMP sampai SMK. Setelah itu kami tak pernah bertemu lagi. Hingga suatu saat aku mengikuti seminar di sebuah lembaga, dimana dia bekerja. Wah! Aku kagum sekali melihatnya. Ternyata dia perempuan hebat, sesuai dengan cita-citanya ingin menjadi perempuan karier. Namun sungguh tak kusangka dibalik kesuksesannya ia mnyimpan sejuta duka.

 

Pada hari terakhir acara ia menyempatkan waktu makan siang denganku. Kami berbagi cerita dan dia mencurahkan isi hatinya padaku. Setelah mendengar ceritanya, aku meminta izin darinya untuk mengangkat ceritanya menjadi satu tulisan untuk dimuat di POTRET. Dan dia tidak keberatan, tetapi dengan syarat aku harus merahasiakan identitasnya. Karena ia merasa itu aib dan merupakan rahasia keluarganya. Ceritanya begini:

Tiada yang sulit bagiku. Semuanya dengan mudah bisa kudapatkan di sekolah. Pelajaran oke-oke saja. Dalam pergaulanpun aku banyak punya teman, apalagi dalam mencari pacar, itu hal yang mudah kudapatkan. Aku benar-benar menikmati masa remajaku dengan bebas. Aku setiap kali berganti-ganti pacar, hingga pada suatu saat aku melakukan kesalahan besar. Aku hamil diluar nikah di usia 20 tahun. Tak ada jalan lain bagiku, akupun menikah di usia segitu. Di awal pernikahan tidak ada masalah, kami jalani hidup seperti layaknya pasangan yang sedang dimabuk asmara.

Sembilan bulan kemudian, anakku lahir. Dia merupakan anugerah terindah bagi kami. Kami tak henti-hentinya bersyukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kami diberikan seorang anak perempuan yang cantik. Setelah usia anakku 6 bulan, aku mulai bosan dengan kehidupanku sebagai seorang ibu rumah tangga yang hanya mengurus anak dan melayani suami. Aku ini seorang perempuan yang punya kemauan dan ambisi. Aku mulai berpikir, buat apa juga dulu aku sekolah kalau toh akhirnya aku sama dengan perempuan yang lain yang berlindung di bawah ketiak suaminya. Aku mulai menyesali semua perbuatanku. Kenapa dulu aku menyalahgunakan kepercayaan dan kesempatan yang di berikan oleh orang tuaku. Tapi semua sudah terlanjur. Nasi sudah jadi bubur. Tapi yang namanya aku, tak gampang menyerah begitu saja. Aku melihat masih banyak peluang dan kesempatan disana. Aku tidak mau terlena dengan kenikmatan sesaat. Aku punya cita-cita ingin menjadi perempuan karir yang mandiri. Aku tak mau seperti ibuku yang hanya bisa menangisi kepergian ayahku tanpa bisa berbuat apa-apa dan hanya mengandalkan uang pensiunan ayah yang tidak seberapa itu. Aku tak mau jadi perempuan lemah. Lalu kusampaikan niatku ini pada suami. Sungguh di luar dugaanku. Dia menentang habis-habisan keinginanku itu. Katanya perempuan itu bukan pencari nafkah. Perempuan itu tugasnya mengurus rumah, mengurus anak dan suami. Pokoknya banyak lagi yang di katakannya. Dan aku tak terima yang di katakannya, kecekcokanpun terjadi dan pada akhirnya aku minta dia menceraikan aku. Aku pergi dari rumah meninggalkan dia dan pulang ke rumah orang tuaku. Aku memutuskan mengurus anak sendirian yang baru berusia 8 bulan. Aku sangat menyayanginya.

Aku mulai hidup baru dengan melamar pekerjaan di sebuah intansi swasta yang sangat bergengsi di ibukota kabupaten (Lhoksumawe). Dengan bermodalkan ijazah SMK dan penampilan yang lumayan, dengan mudah aku mendapatkan apa yang kuinginkan termasuk kedudukanku yang lumayan. Pengahasilan ku pun cukup layak untuk menyewa sebuah rumah yang dekat dengan kantorku. Semenjak saat itu aku tinggal di rumah kontrakan dengan anakku dan seorang baby sister. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, anakku sudah berusia 4,5 dan sudah masuk TK. Dia sudah pandai bicara, kebetulan anakku sangat pintar. Aku pernah bingung ketika dia bertanya tentang ayahnya yang aku sendiri tak tau entah berada di mana. Pernah juga aku mencoba mencarinya, tapi kata orang “kampungnya” dia juga pergi semenjak aku tinggal dulu dan sampai sekarang tak pernah nampak, aneh memang. Dan aku tak memusingkan hal itu. Buatku yang terpenting adalah kebahagiaan anakku.

Tak heran jika temanku menyarankan aku untuk membuka diri dan mencari ayah yang baru buat anakku. Setelah pertimbangan demi pertimbangan, akhirnya aku menemukan juga laki-laki yang cocok. Dia penyayang dan mengerti dengan profesiku yang bekerja di lapangan (luar kantor). Setelah aku rasa cocok, akupun kemudian memutuskan untuk yang kedua kalinya di catatan sipil(bukan di KUA), tanpa sepengetahuan siapapun kecuali dua orang temanku yang menjadi saksi.

Setelah menikah aku pindah kontrakan yang agak jauh dari kantorku. Suami baruku dengan gaya santainya seperti orang pulang dari rantau. Dia memperkenalkan dirinya pada anakku sebagai ayah kandungnya yang sudah lama tinggal di Malaysia, karena begitulah perjanjian kami sebelum menikah. Aku tak mau membuat dia sedih dengan menghadiahkan dia seorang ayah tiri. Sejak saat itu aku selalu melihat keceriaan terpancar di wajahnya. Tapi tak adil rasanya bagi suamiku kalau dia tidak bisa memiliki anaknya sendiri dari aku. Tanpa kompromi aku membuka peluang untuk itu. Akupun hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki setelah usia pernikahan kami berjalan 2 tahun. Lengkaplah sudah kebahagiaan kami. Dan tak terasa sudah 12 tahun pernikahan keduaku berjalan, aku telah melahirkan 5 orang anak. Dua orang perempuan dan tiga laki-laki. Anak bungsuku berumur 2 tahun, sedangkan anak sulungku dari suami pertama berumur 17 tahun dan duduk di bangku kelas II SMA. Untuk menjaga kerukunan dan rahasia selama ini aku sengaja menyekolahkan dia di luar propinsi (Sumatera Utara). Dan alhamdulillah sampai sekarang masih terjamin. Dia tak pernah curiga dengan sikap suami ku dan tak tau siapa ayah kandungnya yang sebenarnya.

Dengan kegiatan yang begitu padat, aku juga berpacu dengan waktu, bekerja extra untuk mendapat uang yang lebih banyak. Karena aku harus menanggung semua kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah anak-anak. Tapi kebahagian itu ternyata ada batasnya juga. Suamiku yang dulunya bersikap lembut dan penuh wibawa seorang ayah, sekarang telah berubah menjadi sosok laki-laki yang mengerikan. Dia jadi pemarah dan pemurung. Dia sudah tak peduli lagi pada anak-anaknya. Kalau anaknya minta uang dengan tenang, dia jawab tak ada uang. Kerjanya hanya berdiam diri di rumah. Dia jarang keluar rumah, apalagi ikut bergabung dengan masyarakat setempat. Dia sering menghinaku dengan kata-kata yang sangat menyakitkan hatiku. Belum lagi perlakuannya yang sangat kurang ajar. Kalau seharian aku kerja di lapangan, malamnya dia menuntutku untuk melayaninya sampai jam 4 pagi. Kejadian ini berlangsung lebih kurang 3 tahun sampai sekarang. Sebenarnya aku sudah jemu dan capek menghadapi sikapnya yang egois. Tapi aku harus bagaimana ?

Aku sadar kalau selama ini dia membuatku seperti sapi perahannya dan tempat melampiaskan nafsu birahinya saja. Aku pernah punya niat ingin membunuhnya. Tapi bagaimana dengan nasib anak-anakku, jika aku masuk penjara. Makanya sampai sekarang aku bertahan hidup satu atap dengannya. Walaupun itu menyakitkan, tapi demi anak-anakku aku harus mengalah dan terus berpura-pura jadi istri yang bahagia. Terkadang aku sedih, kenapa nasibku begitu buruk. Padahal aku bukanlah perempuan yang lemah atau semua ini adalah hukum karma bagiku atas sikapku yang selama ini menganggap semuanya mudah.

Oh ya, atas sifat dan sikap suamiku, mungkin tak seorangpun yang percaya kecuali aku sendiri. Karena dia cukup pandai ambil muka. Di depan saudaraku dia sangat sopan dan berwibawa, apalagi di depan anak-anak kami, dia seperti seorang malaikat pelindung. Dan anak-anak kami tak pernah tahu apa yang dialami dan rasakan oleh ibunya, sungguh derita batin yang berkepanjangan.

Para pembaca POTRET yang terhormat, anda boleh percaya, boleh juga tidak. Karena mungkin andd tak merasakan apa yang aku rasakan. Boleh jadi ini sebuah misteri kehidupan dalam mengarungi rumah tangga yang penuh dengan kekerasan dan pelecehan-pelecehan seksual terhadap perempuan. Ataupun memang begini sisi lain dari kehidupan perempuan karir, gagal dalam rumah tangga. Biarlah Cuma aku saja yang merasakannya. Sekian dan terima kasih.

 

Comments (0)
Only registered users can write comments!