
Punk Di Negeri Syariat
Para pembaca POTRET Yang Terhormat,
Ketika majalah POTRET merayakan hari ulang tahunnya yang ke 9, pada tanggal 11 Januari 2012 yang lalu, POTRET mengukir sejarah baru yang membuat hati ini menjadi bahagia. Sejarah sebuah media yang berangkat dari konsep sederhana dan bergerak dari aras paling bawah, yakni dari kelas masyarakat akar rumput (grassroots), kini semakin luas hingga kelas atas. Pada Usia ke 9 ini juga majalah POTRET terus berupaya memanjakan para pembaca dengan memberikan akses yang semakin luas, lewat peluncuran potret-online.com. Padahal, selama ini para pembaca yang tidak bisa mendapatkan POTRET cetakan juga bisa mengakses situs kami, www.ccde.or.id . Namun, sejalan dengan perkembangan zaman, POTRET berupaya menyesuaikan diri.
Banyak pihak yang memberikan dukungan kepada POTRET sebagai satu-satunya majalah perempuan yang terbit di Aceh dan beredar nasional ini agar bisa terus terbit. Dalam kata pembukaannya, Illiza Sa’adudin Djamal, tokoh perempuan yang kini aktif sebagai wakil wali kota Banda Aceh dan Drs. Tarmilin Usman, Ketua PWI Aceh, menyatakan kebanggaan mereka terhadap POTRET yang bisa bertahan hidup hingga tahun ke 9 ini. Karena sangat jarang media daerah yang bisa bertahan hingga 9 tahun. Mereka memberikan harapan kepada POTRET bahwa mereka akan terus memberikan kontribusi dalam berbagai bentuk seperti meningkatkan kualitas SDM di majalah POTRET. Selayaknya, masyarakat Aceh juga bangga dengan adanya media perempuan yang sedang membangun peradaban menulis yang bernilai intelektualitas ini.
Di tengah kebahagian itu, banyak pihak yang menaruh harapan agar majalah POTRET dan potret-online.com, bisa terus menjadi media yang kritis dan analitis terhadap kondisi lokal di masyarakat Aceh. Hal ini disebabkan oleh semakin banyak pihak yang menggugan negeri syariat ini. Gugatan yang mutakhir adalah hebohnya Aceh dengan masalah anak punk yang ditangkap dan kemudian dibina di SPN Seulawah, yang menuai kritik dari kalangan masyarakat, pegiat dan pejuang hak asasi manusia (HAM) dan juga dari komunitas punk di dunia beserta lembaga Negara lainnya di tanah air dan dunia yang merespon persoalan tersebut. Sehingga pro dan kontra soal anak punk di negeri syariat ini, membuat posisi Aceh sebagai daerah yang kini “ konon” sedang menerapkan syariat Islam sebagai landasan untuk berkehidupan, tersudut dan terus menjadi pusat perhatian masyarakat dunia. Hal ini adalah bahagian dari terbukanya Aceh untuk dunia dan Aceh tentu saja tidak bisa menjadi sebuah wilayah yang ekslusif, apalagi pasca bencana tsunami 26 Desember 2004 lalu. Aceh bukan lagi hanya menjadi milik orang Aceh, tetapi menjadi milik masyarakat dunia, walau sebenarnya tidak ada consensus yang dibuat soal itu lewat aliran bala bantuan yang diberikan untuk Aceh pada saat Aceh harus bangkit dari bencana yang memilukan dan membuat dunia menangis dan berdatangan membawa bantuan untuk masyarakat korban tsunami dan untuk pemerintah Indonesia. Masyarakat Aceh dituntut untuk tidak bersikap lebih terbuka terhadap perubahan, termasuk menerima kehadiran anak punk di negeri Serambi Makkah ini.
Nah, menghangatnya pembicaraan orang soal anak punk tersebut, majalah POTRET ikut berkontribusi dan menganggap perlu mengkritisi realitas anak punk di negeri Syariat ini. Maka, majalah POTRET memuat sejumlah tulisan yang sangat menarik mengenai anak punk, mulai dari memberikan pemahaman soal anak punk, penanganan dan juga mencari siapa yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kehadiran anak punk di Aceh yang konon merusak negeri syariat ini. Orang tua, tidak bisa lepas tangan, begitu juga masyarakat Aceh.
Kiranya, alangkah bijak, kalau team redaksi tidak menceritakan hal itu di salam redaksi secara lengkap, karena semua cerita yang disajikan dalam berbagai bentuk tulisan tersebut, tersaji lengkap di majalah POTRET edisi 53 yang ditulis oleh berbagai kalangan. Selamat membaca. Berikan kami komentar, kritik dan saran lewat surat, sms dan juga lewat potret-online.com dan website kami www.ccde.or.id Terima kasih kami kepada semua pihak yang telah mendukung eksistensi majalah POTRET.
SALAM
TABRANI YUNIS























