• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

KONTES RATU PEMILU 2014

E-mail Print PDF

 

KONTES RATU PEMILU 2014

Oleh Tabrani Yunis

 

Syahdan. Di negeri kepulauan ini akan digelar pesta demokrasi lagi. Sebuah perhelatan politik massal, yang melibatkan seluruh rakyat, laki-laki dan perempuan yang telah berusia 17 tahun ke atas. Bisa memilih dan juga dipilih. Secara de jure tidak ada beda antara laki-laki dan perempuan dalam pesta ini. Namun secara de facto, perbedaan itu cukup tajam. Sudah 10 kali pesta itu dilakukan, namun kesenjangan dalam pelaksanaan masih berlangsung hingga saat ini. Padahal partisipasi rakyat untuk ikut serta dalam pesta tersebut sebelumnya cukup tinggi, namun kini semakin menurun. Pada Pemilu 1999 sebagai pemilu pertama seusai reformasi partisipasi masyaraat mencapai angka 93%.” lalu turun pada Pemilu 2004 menjadi 84% dan Pemilu 2009 menurun lagi menjadi 71%,”. Artinya, terjadi penurunan partisipasi masyarakat dalam pemilu karena turunnya kepercayaan publik terhadap penyelenggara pemilu itu sendiri. Sesungguhnya, baik buruknya kualitas pemilu sangat ditentukan oleh tingginya angka partisipasi masyarakat dalam mengikuti Pemilu. Kemungkinan dalam pesta demokrasi tahun depan, 2014 partisipasi masyarakat untuk ikutan dalam memilih juga semakin menurun sejalan dengan semakin hilangnya kepercayaan terhadap hasil Pemilu selama ini yang hanya melahirkan pemimpin-pemimpin yang kebanyakan hanya memikirkan kepentingan perut sendiri.

Kini, hiruk pikuk para politisi, partai politik, KPU dan para partisipan partai politik menyambut pemilu 2014 sudah sangat terasa. Suhu politik setiap hari memanas karena berbagai hal, karena regulasi, juga karena persaingan politik yang semakin menajam. Namun, di tengah memanasnya suhu politik menjelang pesta demokrasi tahun 2014 ini, ada fenomena menarik yang membuat galaunya banyak partai politik.

Perhelatan demokrasi yang kini akan menjadi pesta ke 11 kalinya, masih menyimpan banyak persoalan. Salah satunya adalah persoalan partisipasi perempuan yang rendah dalam gemerlapnya pelaksanaan Pemilu. Undang-undang menyatakan bahwa setiap warga Negara ( laki-laki dan perempuan), berhak untuk memilih dan dipilih. Namun, dalam realitasnya partisipasi perempuan dalam gelanggang politik masih jauh tertinggal baik secara kuantitif, maupun kualitatif. Keberadaan perempuan di sector politik, dalam Pemilu tidak ubahnya hanya sebagai supporter dan lumbung suara bagi para politisi dan partai politik yang ingin memenangkan politaktik mereka di dunia politik dan di pesta demokrasi tersebut. Artinya, partisipasi perempuan di bidang ini, tidak dimaksimalkan untuk bisa ikut berperan aktif melahirkan kebijakan Negara secara berkeadilan antara kepentingan laki-laki dan perempuan. Padahal, partisipasi yang hakiki adalah partisipasi dalam bentuk keikutsertaan secara aktif dan pro aktif, dalam semua proses pengambilan keputusan politis tersebut.

 

Realitas keterlibatan perempuan yang rendah di bidang politik, disebabkan oleh banyak factor, seperti budaya patriarchy yang menempatkan perempuan hanya bisa berperan di sector domestic, sementara sector public, termasuk politik menjadi peran utama kaum laki-laki. Ketidakadilan gender seperti ini telah berlangsung sedemikian lama, membuat garis start bagi perempuan untuk terjun ke politik tertinggal jauh di track belakang. Perempuan menjadi sangat sulit untuk bisa bersaing dengan laiki-laki, ketika terjun di arena politik. Maka, bila kita melihat pada realitas perpolitikan saat ini, semua partai politik dan jabatan-jabatan politis dikuasi oleh laki-laki. Pendek kata, posisi perempuan menjadi pihak yang tidak berdaya (powerless) di bidang politik. Pantas pula kalau banyak perempuan tidak melek politik, karena kapasitas dan kesempatan perempuan di politik masih sangat rendah. Jadi bukanlah hal yang mengherankan bila Pemilu 2009 representasi perempuuan di tingkat provinsi 16%, dan di tingkat kabupaten 12 %. Memprihatinkan bukan?

 

Rendahnya partisipasi dan keterwakilan perempuan di legislative, di satu sisi memang disebabkan oleh di rendahnya kapasitas politik kaum perempuan. Namun, hal ini terjadi juga tidak terlepas dari pengaruh buruk dari perspektif dan perilaku diskriminatif terhadap perempuan. Dominasi kaum laki-laki terhadap praktek politik di partrai politik menghilangkan akses dan control perempuan di bidang politik. Partai politik banyak yang tidak melibatkan perempuan sebagai pengurus partai maupun politisinya. Kalaupun ada lebih kepada posisi-posisi yang tidak strategis.

 

Buruknya kondisi dan posisi perempuan di bidang politik, telah menyadarkan banyak pihak, terutama kaum perempuan. Banyak aktivis dan NGO perempuan dan yang bekerja memperjuangkan hak-hak kaum perempuan dan bidang politik, terus membangun kapasitas politik kaum perempuan untuk meningkatkan keterwakilan perempuan di legislative. Keterwakilan perempuan secara optimal di parlemen sangat penting agar bisa mewakili kepentingan dan kebutuhan perempuan dalam proses pembuatan kebijakan. Sayangnya, system politik dan budaya partai politik yang tidak sensitive gender itu masih menjadi hambatan bagi perjuangan perempuan. Kini, buah perjuangan tersebut keluarlah aturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) nomor 10/2008 yang mengharuskan menempatkan 30% perempuan dalam daftar calon anggota legislatif di tiap daerah pemilihan. Keluarnya aturan KPU ini dan lainnya, menimbulkan berbagai polemic di kalangan partai politik. Ada partai politik yang keberatan terhadap aturan itu karena beberapa alasan yang tersekasan dicari-cari. Apalagi dengan keluarnya peraturan baru pemilu 2014 yang dituangkan dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nomor 7/2013 yang mewajibkan partai politik memenuhi 30 persen kuota perempuan dan pengaturan nomor urut tiap tiga caleg satu perempuan di tiap daerah pemilihan (dapil) akan menambah resah partai politik.

 

Mencari Perempuan

Keteguhan Komisi Pemilihan Umum tetap mempertahankan aturan syarat minimum keterwakilan perempuan 30 persen dalam pengajuan calon legislative Pemilu 2014, telah membuat banyak partai politik kelabakan. Ada partai politik yang hingga mendekati waktu pesta demokrasi di tahun 2014 belum mampu memenuhi 30 % quota perempuan tersebut. Di Aceh, yang daerahnya memiliki beberapa partai local yang akan ikut dalam kancah perhelatan pesta demokrasi tersebut, hingga saat ini masih kesulitan mencari kader-kader atau calon legislatif perempuan. Harian Serambi Indonesia tanggal 28 Maret 2013 memberitakan bahwa sejumlah partai politik (parpol) peserta Pemilu 2014 di Aceh mengaku kesulitan memenuhi kuota 30% keterwakilan perempuan untuk diajukan sebagai calon anggota legislatif (caleg). Ketua Umum Partai Damai Aceh (PDA), Tgk Muhibussabri, misalnya, mengaku sulit mencari sosok perempuan untuk diajukan sebagai caleg. Alasannya dalam perspektif Islam mengajak perempuan masuk dalam politik harus lebih dulu mendapat restu atau izin suami. Kondisi ini juga menjadi penyebab mengapa caleg perempuan masih sulit untuk bekiprah di dunia politik. “Kita menganut prinsip dimana setiap caleg perempuan yang diusung PDA harus mendapat izin suami,” kata Muhibussabri. Juru Bicara Partai Nasional Aceh (PNA), Thamren Ananda, di harian Serambi juga menyatakan “Sulit mencari caleg perempuan”. Alasannya juga sama, yakni karena secara kultur keterlibatannya dalam politik masih sedikit tabu. Selain itu, sebagian perempuan sepertinya enggan terlibat dalam dunia politik. Bahkan aktivis perempuan yang selama ini memperjuangkan kuota 30% perempuan dalam daftar caleg, juga tidak memanfaatkan kesempatan ini. “Lebih tragis lagi, kaum perempuan di Aceh juga belum tentu secara maksimal mendukung caleg perempuan apalagi memilihnya.

 

Kesulitan mencari caleg perempuan, tidak saja dialami oleh partai-partai politik yang masih tergolong baru di Aceh, tetapi juga oleh partai-partai politik yang sudah lama. Bukan hanya di Aceh, tetapi di beberapa provinsi dan daerah lain di nusansara ini. Padahal jumlah penduduk nusantara, sebagian besar adalah perempuan. Wajar saja kalau banyak partai politik yang meradang dengan realitas ini. Sayangnya, partai politik tidak pernah melakukan refleksi bahwa sesungguhnya kondisi buruk “ krisis calon legislatif perempuan” juga karena ulah partai yang selama ini tidak peduli, enggan dan bahkan menjadikan persyaratan quota 30 % perempuan hanya sebagai retorika belaka. Kondisi krisis ini tidak terlepas dari kelalaian dan keengganan partai politik menyiapkan kader perempuan dan melibatkan perempuan dalam fungsionaris partai politik. Partai politik baru meradang, ketika mereka terkena sanksi dan tuntutan pemenuhan quota. Ibarat orang yang kebelet mau ke kamar mandi, ketika sakit perut, buru-buru cari tempat. Akibatnya di mana saja, asal bisa buang hajat, ya dilakukan saja.

 

Sulitnya sebagian besar partai politik mendapatkan calon legislative perempuan di Nusantara ini, bisa menimbulkan banyak preseden buruk. Misalnya, partai-partai politik akan mendesak agar Komisi Pemilihan Umum (KPU) melonggarkan syarat itu. Bisa pula partai-partai politik yang kebelet, akan mencomot siapa saja perempuan untuk dijadikan sebagai calon legislatif. Yang penting quota terpenuhi. Walau kondisi ini juga sebenarnya penuh risiko.

Nah, bagi kaum perempuan dan pergerakan politik perempuan, kondisi ini adalah peluang untuk memberikan pelajaran kepada partai politik yang selama ini mengabaikan eksistensi kaum perempuan di bidang politik. Dalam kondisi semacam ini, perempuan bisa menggunakan posisi tawar (bargaining position) terhadap partai politik dan meminta Komisi pemilihan Umum (KPU) bersikap tegas terhadap parpol-parpol yang tidak memenuhi quota 30 persen perempuan. Sebab, andai parpol serius dengan tuntutan ini, maka rentang waktu 5 tahun pasca Pemilu 2009 ke Pemilu 2014 cukup waktu untuk menyiapkan kader perempuan.

Kini Pemilu 2014 sudah di depan mata. Banyak partai politik yang masih bermasalah dengan pemenuhan persyaratan quota 30 persen itu. Agar tidak hanya sebagai sebuah retorika dan janji belaka, partai-partai politik harus segera memenuhi janji mereka, biar tidak disebut quota hanya dusta. Bila quota juga masih sulit dipenuhi, ada baiknya partai-partai politik itu melakukan kontes ratu Pemilu. Sebagaimana layaknya kontes, ada posisi yang menarik yang harus diperbutkan. Perempuan sebagai peserta kontespun menjadi powerful dan kapasitas serta elektabilitas untuk menjadi ratu ( caleg) yang sudah dipastikan nomor pilihannya. Jadi, ayo laksanakan Kontes Ratu Pemilu 2014.

 

CCDE dan POTRET Serahkan Sepeda kepada anak Yatim

E-mail Print PDF


CCDE dan majalah POTRET Serahkan Sepeda kepada Anak Yatim, Piatu dan Miskin

Read more...
   

PEREMPUAN-PEREMPUAN DALAM LIPATAN SEJARAH

E-mail Print PDF

Oleh: Saifuddin Gani, SH.

Advokat di Banda Aceh.


Aung San Suu Kyi, seorang perempuan Myanmar, pernah belajar di Oxford, sebuah universitas terkemuka di Inggris, kembali ke negerinya dengan tujuan, “memerdekakan Myanmar untuk kedua kalinya! Ya, untuk kedua kalinya!”, dan menjadi ikon demokrasi Myanmar. Karena aktivitas politiknya, dia dibungkam oleh Junta Militer Myanmar sejak 1988, selama 15 tahun menjalani tahanan rumah. Kini sudah bebas dan telah menjadi anggota Parlemen. Suu Kyi melakukan kunjungan pertama ke luar negeri pada 29 Mei 2012 ke Bangkok dan bertemu dengan seorang perempuan Thailand, Yingluck Shinawatra, yang menjabat Perdana Menteri Thailand. Demikian dilansir Koran Serambi Indonesia, edisi Rabu, 30 Mei 2012.

Berita tersebut mengilhami tulisan ini, ternyata perempuan tidak seharusnya hilang dari pentas politik. Justru, harus menjadi jiwa dari elan kejuangan untuk menuju perubahan. Karena, perempuan adalah pemilik dari kesucian azas-azas kesusilaan, bukan menjadi korban atas nama kesusilaan, sebagaimana yang terjadi di Aceh saat ini. Prihatin dan tragis.

 

Read more...
 

GERAKAN 1000 SEPEDA

E-mail Print PDF

 

SATU SEPEDA, SERIBU JALAN, SEJUTA HARAPAN

Program donasi GERAKAN SERIBU SEPEDA UNTUK ANAK YATIM PIATU DAN MISKIN, ini dirancang sebagai bentuk kepedulian banyak pihak akan kemajuan pendidikan di Aceh. Pada dasarnya secara sederhana program ini digulirkan untuk memberikan bantuan satu (1) unit sepeda bagi siswa/siswi miskin yang ada di seluruh Aceh, yang wilayah tempat tinggalnya memiliki keterbatasan akses transportasi yang sangat besar sehingga menyulitkan mereka untuk mencapai sekolah/ pesantren tempat mereka menimba ilmu.

Proses identifikasi dan verifikasi akan dilakukan oleh teman-teman atau mitra majalah POTRET dan CCDE bersama-sama di lapangan, baik dalam bentuk profil siswa, tingkat kehidupan ekonomi, profil wilayah tempat tinggal ke sekolah dan hal tekhnis lainnya. Hal ini dilakukan untuk menjamin seluruh donasi yang diberikan akan tepat sasaran.

Sebagai bentuk transparansi kepada publik, nama donatur, jumlah bantuan, nama dan wilayah tempat tinggal serta nama sekolah penerima sepeda akan dipublikasikan pada majalah POTRET dan website resmi CCDE, yaitu: ccde.or.id.

Seluruh pihak, baik atas nama pribadi, perusahaan, sekolah, instansi pemerintah, OMS dan lainnya kami ajak untuk terlibat secara penuh dalam program sosial ini. Untuk informasi lebih lanjut mengenai tekhnis keikutsertaan dapat menghubungi redaksi majalah POTRET:

Tabrani Yunis : 0811 68 5623, atau e-mail ke: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it dengan subject: Gerakan 1000 Sepeda,

Donasi untuk program ini dapat dilakukan dengan tiga (3) pilihan cara:

  1. Donasi dalam bentuk satu (1) unit sepeda (untuk standarisasi, model dan merk akan ditentukan)
  2. Donasi dalam bentuk uang tunai sejumlah Rp. 700.000 untuk pembelian satu (1) unit sepeda
  3. Donasi dalam bentuk sebagian uang tunai (sesuai kemampuan) untuk kemudian digabungkan dengan donasi lain sehingga mencukupi nilai Rp. 700.000,-

Donasi dalam bentuk uang tunai dapat dilakukan dengan dua (2) cara:

  1. Transfer rekening melalui BRI Cab. Banda Aceh, NO. REKENING 0037-01-067812-50-6, atas nama YAYASAN PUSAT PENGEMBANGAN MASYARAKAT
  2. Penyerahan tunai ke kantor redaksi majalah POTRET dan CCDE dengan alamat: JL. T. P. NYAK MAKAM, PANGO RAYA-BANDA ACEH

Daftar Penyumbang yang telah berpartisipasi, Siapa Menyusul?

 

 

 

 

One bicycle, a thousand roads, a million hopes

The donation program 'Movement of a thousand bikes for orphans and the poor' has been designed in response to the concern regarding the advancement of education in Aceh. Simply, this program hopes to give one (1) bicycle unit to students/poor students throughout Aceh, whose residence has such limited access to transportation that getting to school is difficult for them.

Process of identification and verification will be done by friends or partners of PORTRET and CCDE together in the field, both in the form of student profiles, financial situation evaluation, profile on the distance from the school, and other technicalities. This will be done to guarantee all donations are on target.

As a form of transparency to the public, the donor name, the total assistance, name and place of residence, as well as the name of the school receiving the bicycles will be published in the POTRET magazine and the CCDE's formal website, ccde.or.id.

All parties, whether personal, school, government, NGOs or others are encouraged to become fully involved in this social program. For more information on participating please contact the editor of POTRET magazine:

Tabrani Yunis : 0811 68 5623, or send e-mail to: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it with subject: Gerakan 1000 Sepeda,

Donations for this program can be made in three ways:

  1. Donations in the form of (1) bicycle unit, (for standardisation, the model and make will be determined
  2. Donations in the form of cash totaling Ro 700,000 to buy one (1) bicycle unit
  3. Donations in the form of cash (according to ability) to be collected with other donations to reach the value of Rp. 700,000.

Donations in the form of cash can be done in two ways:

  1. Bank transfer to BRI Cab. Banda Acah, Account number  0037-01-067812-50-6, in the name of YAYASAN PUSAT PENGEMBANGAN MASYARAKAT
  2. Delivering cash to the editor of PORTRET magazine's office and CCDE. The address is:  JL. T. P. NYAK MAKAM, PANGO RAYA-BANDA ACEH

 

 

 

 

Top Menu


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

ARTICLE


Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/ccderd/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday217
mod_vvisit_counterYesterday646
mod_vvisit_counterThis week2657
mod_vvisit_counterLast week3910
mod_vvisit_counterThis month11185
mod_vvisit_counterLast month22191
mod_vvisit_counterAll days867794

Layanan Iklan POTRET

 

Polling

Bagaimana menurut anda POTRET Edisi 53?